BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 92 | Menemui makam orang tua


__ADS_3

Perjalanan menuju kota Xifang memakan waktu 4 hari dengan berkuda dari ibukota kerajaan Gurun Barat. Saat tiba di gerbang kota, Baihu bersama Zhou An dan Yang Zi segera pergi ke reruntuhan istana kerajaan Xifang yang kini hanya dipenuhi makam di halaman belakangnya.


“Nona Yang, tolong bangun kembali istana disini untuk tempat peristirahatanku nanti,” pinta Baihu pada Yang Zi.


“Baik, aku akan segera mempersiapkannya nanti,” sahut Yang Zi.


Mata Zhou An menatap reruntuhan puing istana bekas kediaman Baihu di masa kecil itu dengan tatapan sedih. Dia tidak menyangka Baihu memiliki masa lalu seperti ini. “Nona Zhou, inilah akibat dari peperangan di masa lalu. Mereka membunuh habis keluargaku bahkan para pelayan setia keluarga, merampak kekayaan keluargaku,” jelas Baihu dengan getir mengingat masa lalunya.


Mereka lalu menuju ke pemakaman tempat keluarga Baihu di makamkan. Tampak kakek dan nenek pelayan setia keluarga Fang yang sedang membersihkan areal makam dari rerumputan yang baru tumbuh.


“Tuan muda!” Teriak mereka hampir bersamaan dengan wajah gembira.


“Kakek, nenek. Apa kalian sehat-sehat saja?” sapa Baihu sambil turun dari kudanya diikuti oleh Yang Zi dan Zhou An.


“Kami sehat-sehat saja berkat doa tuan muda,” sahut kakek tua itu mendekati Baihu sambil memberi hormat bersama istrinya.


Baihu berjalan mendekati mereka sambil memberikan barang-barang yang dibawa olehnya dari ibukota kerajaan Gurun Barat. “Kakek, terimalah ini. Aku khusus membawanya dari ibukota kerajaan Gurun Barat. Aku akan menemui ayah dan ibuku karena telah membalaskan dendam mereka.” Baihu kemudian berjalan mendekati kedua makam orang tuanya.


Kakek dan nenek itu terkejut mendengar perkataan Baihu, “Benarkah?” Mereka seperti tidak percaya mendengarnya. Mereka menatap ke arah Yang Zi dan Zhou An. Kemudian terlihat Yang Zi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada mereka. “Benar kek, Baihu telah menaklukkan kerajaan Gurun Barat dan saat ini telah menjadi Raja kerajaan Gurun Barat.” sahut Yang Zi.


“Ooh...” nenek tua itu menutup mulutnya tidak percaya. Kedua orang tua itu terisak menangis tidak menyangka dalam hidup mereka bisa melihat dendam keluarga Fang bisa terbalaskan oleh tuan muda mereka.


Baihu yang berjalan mendekati makam kedua orang tuanya kemudian duduk berlutut sambil menyalakan dupa lalu menyiapkan arak yang dia bawa khusus untuk kedua orang tuanya.

__ADS_1


“Ayah, Ibu, anakmu yang tak berguna ini telah membalaskan dendam kalian. Aku harap ayah dan ibu telah tenang di dunia sana,” lirih Baihu sambil menuangkan dua gelas arak untuk ayah dan ibunya.


“Ayah, Ibu tidak perlu mengkhawatirkan Baihu lagi. Baihu berjanji akan selalu mengingat pesan ayah dan ibu demi nama keluarga Fang,” lanjutnya sambil bersujud pada kedua makam keluarganya tiga kali.


Setelah itu Baihu berdiri dan kembali menemui kakek dan nenek yang masih menangis terharu melihat tuan muda mereka. “Tuan muda, eh... Yang Mulia, kami benar-benar bersyukur dalam sisa hidup kami bisa melihat keberhasilan Yang Mulia meneruskan nama besar keluarga Fang.”


Kedua kakek dan nenek itu hendak berlutut namun kembali Baihu menahan tubuh mereka, “Kakek, Nenek. Bagiku kalian juga seperti merupakan orang tuaku. Janganlah berlutut padaku.” Baihu menarik tubuh mereka untuk berdiri.


“Yang Mulia, kamu sekarang adalah seorang Raja. Kami hanyalah para pelayanmu,” nenek tua itu tersenyum pada Baihu. Baihu menggelengkan kepalanya, “Aku mungkin seorang raja di hadapan seluruh rakyat kerajaan Gurun Barat. Biarkan aku tetap menjadi tuan muda yang kalian asuh sejak kecil,” sahut Baihu membalas dengan senyumannya.


“Kakek, nenek. Aku akan membangun kembali istana di tempat ini untuk tempatku beristirahat. Aku nanti akan sering berada disini bersama kalian,” kata Baihu sambil mengajak mereka berjalan ke rumah orang tua itu.


Baihu lalu mengajak Yang Zi dan Zhou An menikmati masakan yang disiapkan oleh nenek tua itu. Mereka menikmati masakan yang enak sambil bercerita tentang perjalanan mereka menaklukkan kerajaan Gurun Barat pada kedua kakek nenek itu.


Zhou An pun memesan dua kamar untuk dirinya dan Yang Zi dan satunya lagi untuk Baihu. Mereka menikmati makan malam di kedai dekat penginapan. Tidak banyak yang mengetahui wajah mereka bertiga, meskipun nama Baihu kini menjadi perbincangan di setiap jalan dan kedai makan. Namun itu menjadikan mereka dengan leluasa berada diantara mereka.


“Aku dengar, putra mahkota Zhang Mou telah diselamatkan oleh orang-orang dari sekte misterius. Mungkin mereka akan kembali menyerang kerajaan ini suatu saat nanti,” kata seorang lelaki yang sedang menikmati makanan di mejanya.


“Ah, kapan peperangan ini akan berhenti dan kita bisa menikmati kehidupan yang baik,” sahut salah satu teman bicara mereka.


Baihu tertegun mendengar perbincangan mereka, dia merasa sedih demi kepentingan dirinya sendiri, dia telah mengorbankan kehidupan damai rakyatnya. “Aku berjanji akan memberikan kehidupan yang damai pada rakyatku,” batinnya.


“Sekte misterius.” Baihu merenungkan hal itu dia ingin menghabisi pewaris kerajaan Gurun Barat hingga ke akarnya untuk menghindarkan peperangan yang mungkin terjadi lagi di masa depan. “Aku harus mencari sekte misterius ini untuk menghabisi Zhang Mou. Jika sekte misterius melindunginya, aku tidak akan segan melawan mereka,” gumam Baihu kembali

__ADS_1


Malam itu di kamar penginapan, Baihu tidak bisa menutup matanya mengingat pembicaraan para penduduk di kedai itu yang mendambakan kedamaian dalam hidup mereka. Baihu kemudian keluar dari dalam kamar dan duduk di teras kamarnya menatap ke arah langit malam yang gelap tanpa bintang.


“Kamu belum tidur Baihu?” Yang Zi tiba-tiba berjalan mendekatinya kemudian duduk disisinya. “Malam ini mendung, langit tanpa bintang.” Yang Zi turut memandang ke arah langit yang gelap.


“Kakak Yang, apakah kakak bisa membantuku?” tanya Baihu membuat Yang Zi menoleh ke arahnya. “Aku ingin kakak membantuku mengatur kerajaan Gurun Barat ini. Aku akan pergi selama beberapa hari.”


Yang Zi menyipitkan matanya menatap wajah Baihu yang tampak tanpa semangat. “Kamu akan pergi kemana?” tanya Yang Zi mengkerutkan kening sambil menatap mata Baihu.


“Aku ingin mengejar Zhang Mou mencarinya ke sekte misterius itu,” sahut Baihu sambil menghela nafasnya. “Aku tidak ingin menimbulkan masalah pada kerajaan Gurun Barat di masa depan. Aku harus menghabisinya.”


Wajah Yang Zi berkerut mendengar jawaban Baihu, namun akhirnya dia mendesah karena apa yang dikatakan oleh Baihu itu benar. “Baiklah. Tetapi kamu harus berjanji satu hal padaku,” sahut Yang Zi.


Mendengar hal itu wajah Baihu tampak bersemangat lagi, dia sebenarnya bingung memikirkan untuk mengurus masalah kerajaan sementara dia ingin pergi mengejar Zhang Mou. Namun setelah Yang Zi bersedia membantunya mengurus kerajaan, hatinya merasa lega.


“Baik. Apa yang harus aku janjikan pada kakak?” tanya Baihu kemudian.


“Aku hanya ingin kamu berjanji untuk kembali dalam keadaan baik,” sahut Yang Zi sambil tersenyum.


“Baik kakak Yang. Aku berjanji pasti akan kembali dengan selamat.” Baihu menjadi bersemangat kembali. Dia menatap langit yang kini sudah mulai muncul bintang setelah mendung menghilang seiring hatinya yang merasa lega mendengar kesediaan Yang Zi membantunya.


Mereka pun menatap bintang yang bercahaya di langit. “Aku pasti akan kembali,” gumam Baihu dalam hatinya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2