BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 48 | Dilamar oleh Putra Mahkota


__ADS_3

Setelah memastikan tidak ada kedua wanita itu di dalam kamar, Baihu lalu pergi bertanya pada pelayan penginapan dan mereka tidak melihat kedua wanita itu sejak kemarin malam. Mereka menyarankan agar Baihu menunggu mereka.


Baihu kemudian pergi dari penginapan untuk menyelidiki keberadaan Yang Zi dan Xin Ye serta berencana mencari informasti tentang penjualan barang-barang berharga dan langka di kota Persik.


Di kediaman keluarga Wang, tampak kedua orang tua Wang Mei duduk di salah satu bangku di taman belakang rumah dan sedang merenungkan sesuatu ketika Wang Mei datang menemui mereka.


“Ayah, Ibu. Aku datang. Ada apa memanggilku kembali?” tanya Wang Mei pada mereka


Wajah ayah Wang Mei dan ibunya tersenyum melihat kedatangan Wang Mei. “Duduklah dulu sayang” sahut ibunya Wang Mei lalu dia menoleh ke arah suaminya untuk memulai setelah melihat Wang Mei duduk di bangku depan mereka.


“Mei’er, tadi ada utusan dari Kerajaan Gurun Barat datang kemari.” kata ayah Wang Mei sambil mengambil nafas sebentar.


“Utusan Kerajaan Gurun Barat?” Wang Mei menyipitkan mata mendengarnya. Bisnis ayahnya selama ini memang sering berhubungan dengan Kerajaan Gurun Barat serta sekte-sekte besar dan kecil, namun ayahnya tidak pernah mengajaknya untuk membicarakan hal itu. Tetapi hari ini dia merasa aneh tiba-tiba ayahnya memanggil dirinya untuk membicarakan tentang utusan dari Kerajaan Gurun Barat.


“Utusan dari Kerajaan Gurun Barat datang untuk melamar dirimu. Putra Mahkota Zhang Mou ingin menjadikanmu calon permaisurinya” lanjut ayah Wang Mei.


Wajah Wang Mei terkejut mendengar perkataan ayahnya, “Lalu... Apa jawaban ayah?” tanyanya dengan gugup. Dia tidak menyangka Zhang Mou menginginkan dirinya untuk menjadi istri. Wang Mei menundukkan kepalanya, pikirannya melayang memikirkan tentang lamaran itu.


Wang Mei tidak pernah sedikitpun memikirkan tentang Zhang Mou, dia hanya beberapa kali bertemu dengannya, dan itu pun saat pertandingan bela diri antar sekte 6 tahun yang lalu.


“Ayah belum memberikan jawaban, maka itu ayah bertanya padamu tentang hal ini” sahut ayah Wang Mei.


Wang Mei merasa tubuhnya menjadi lemas, entah kenapa wajah Baihu muncul dalam pikirannya. “Apa yang harus aku lakukan?” batinnya


Menolak lamaran keluarga kerajaan, tentu akan berimbas pada keluarganya. Wang Mei merasa kepalanya mau pecah memikirkan hal ini.

__ADS_1


Kedua orang tua Wang Mei memahami pikiran anaknya dengan melihat dari wajah Wang Mei yang tampak lesu setelah mendengar berita tersebut.


“Mei’er, kamu tentu tahu konsekuensi jika menolak lamaran dari keluarga kerajaan, apalagi ini dari Putra Mahkota” kini ibu Wang Mei ikut angkat bicara.


Wang Mei menganggukkan kepalanya, dia paham betul apa yang akan terjadi jika dirinya menolak lamaran tersebut. Bukan hanya bisnis keluarganya yang akan kena imbas, bahkan keselamatan keluarga juga menjadi terancam oleh penolakannya.


“Ayah tahu kamu sudah dewasa dan bisa mengambil keputusan yang benar. Ayah percayakan keputusan ini padamu. Apapun yang kamu putuskan, kami akan mendukungmu” timpal ayahnya yang makin membuat wajah Wang Mei bertambah tenggelam.


Wang Mei hanya termenung tidak menjawab kata-kata ayahnya, dia berusaha menahan tangisnya agar tidak keluar di depan kedua orang tuanya. Saat dia merasa matanya mulai perih, dia pun berlari meninggalkan kedua orang tuanya sambil menahan tangisnya.


Hati Wang Mei berkecamuk tak menentu. Entah kenapa dia merasa tidak ikhlas untuk menerima lamaran dari Putra Mahkota Zhang Mou. Wang Mei berlari keluar dari kediaman keluarga Wang.


Baihu yang sedang melintas di depan kediaman keluarga Wang, melihat Wang Mei yang berlari menuju ke arah pelabuhan dengan wajah gelap. Dia pun segera mengejar Wang Mei karena merasa telah terjadi sesuatu padanya.


“Kakak Wang, apa yang telah terjadi?” tanya Baihu yang khawatir padanya.


Mendengar kata-kata Baihu, Wang Mei menundukkan kepalanya, lalu tiba-tiba dia berbalik dan memeluk tubuh Baihu sambil membenamkan kepalanya di dada Baihu. Tampak air mata menetes dari kedua matanya,”Baihu, pinjamkan dadamu sebentar untukku” bisiknya lirih.


Baihu terkejut akan tindakan Wang Mei yang tiba-tiba memeluknya. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Wajahnya menjadi merah dan dia merasa kikuk. Dia hanya berdiri kaku tidak bergerak, sedangkan pikirannya berkecamuk tidak tahu apa yang telah terjadi pada Wang Mei.


Waktu terasa berhenti beberapa saat, Wang Mei lalu mengangkat wajah dan menghapus air matanya. “Terima kasih Baihu” gumamnya pelan


“Apa yang telah terjadi kakak?” tanya Baihu kembali


Wajah Wang Mei tampak muram, “Zhang Mou, Putra Mahkota Kerajaan Gurun Barat melamar diriku” sahutnya lirih.

__ADS_1


Bagaikan disambar petir, Baihu terkejut mendengar nama Kerajaan Gurun Barat. Wajahnya berubah menjadi jelek setelah mendengar hal itu. Dendamnya pada kerajaan Gurun Barat yang telah menghancurkan kerajaan kecil dan keluarganya terbayang di dalam pikirannya.


Kini jika Wang Mei menjadi bagian dari kerajaan Gurun Barat, membuatnya tidak tega melibatkan Wang Mei dalam pembalasan dendamnya itu.


“Lalu, apa jawaban kakak?” tanya Baihu padanya dengan cemas.


“Sejujurnya hatiku menolak lamaran ini. Namun, keputusanku itu akan berakibat pada keluarga Wang. Aku tidak tahu harus mengambil keputusan apa” sahut Wang Mei yang kemudian memandang wajah Baihu dengan tatapan putus asa.


Wajah Baihu tertegun mendengar hal itu. Meskipun dia masih dianggap anak kecil, namun dia mengerti maksud dari Wang Mei jika menolak permintaan kerajaan. Tubuhnya bergetar, dia mengepalkan kedua tangannya. Wajah Baihu terlihat dingin memikirkan dendamnya pada kerajaan Gurun Barat.


“Kakak, sebaiknya jangan menerima lamaran itu” sahut Baihu pelan dengan nada datar.


Wang Mei melihat wajah Baihu yang berubah gelap dan merasakan tubuh Baihu yang bergetar karena menahan amarah. “Mengapa?” tanya Wang Mei padanya.


Baihu terdiam mendengar pertanyaan Wang Mei. Dia merasa bersalah mengatakan hal itu. Dia bukanlah siapa-siapa bagi Wang Mei. Dan tentu sangat egois jika dia meminta Wang Mei untuk menolak lamaran itu demi kepentingan dirinya.


Baihu menghela nafasnya, dia berjalan ke arah pinggir pelabuhan itu dan memandang ke arah sungai. Wang Mei berjalan mendekatinya masih menunggu jawaban dari Baihu.


“Kakak Wang, pikirkanlah dengan baik keputusanmu. Besok aku akan menunggumu disini. Jika kakak datang, aku akan menceritakannya padamu.” ujar Baihu dengan mata masih menatap ke arah sungai.


Wang Mei tidak mengerti maksud Baihu, namun dia tidak ingin mendesak hal itu. Dia hanya diam sambil matanya turut menatap ke arah sungai. “Baiklah, aku akan memikirkan keputusan itu malam ini.” sahut Wang Mei yang kemudian pergi meninggalkan Baihu yang masih berdiri disana.


Baihu membalikkan badannya dan melihat kepergian Wang Mei, “Kakak, apapun keputusanmu. Aku akan mendukungmu.” batinnya.


Dalam hatinya, Baihu tidak ingin Wang Mei menerima lamaran tersebut, namun dia tidak ingin menjadi egois dan mengorbankan keluarga Wang demi keinginannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2