BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 99 | Rencana Baihu setelah acara penobatan


__ADS_3

“Yang Mulia, karena yang hadir disini semua adalah tokoh bela diri di seluruh dataran tengah, maka aku ingin membicarakan tentang keadilan untuk ketua sekte kami yang telah di bunuh oleh bangsa Lato,” Tiba-tiba salah seorang murid senior dari sekte Ming berdiri dan berbicara pada Baihu sambil memberikan hormatnya.


“Benar Yang Mulia, kami dari sekte Kun Lun juga ingin Yang Mulia membantu memerikan keadilan demi ketua sekte Kun Lun kami yang juga dibunuh oleh bangsa Lato,” seorang murid sekte Kun Lun juga turut berbicara sambil menghormat.


Seluruh mata orang di ruang aula itu menoleh ke arah mereka berdua lalu kembali pada Baihu untuk mengambil keputusan.


Baihu berdiri dan berjalan ke tengah-tengah ruangan. “Para tetua bela diri dan sekte besar sahabatku.” kata Baihu kemudian.


“Aku telah berencana untuk segera pergi ke kerajaan Pesisir Laut Selatan setelah penobatan hari ini. Namun aku berharap bantuan dari teman-teman sekte besar untuk bergabung bersama pasukan kerajaan Gurun Barat menjaga perbatasan selatan, karena menurut informasi dari para pengintai bangsa Lato telah bergerak menuju ke wilayah kerajaan Gurun Barat,” lanjut Baihu kembali.


Semua sekte besar mendengarkan kata-kata Baihu dengan seksama. Mereka menganggukkan kepala menyetujui rencana Baihu untuk segera bertindak terhadap bangsa Lato itu.


“Yang Mulia, aku akan mengikutsertakan murid-muridku dalam pasukanmu untuk menumpas bangsa Lato itu,” sahut Hong Jun dengan memberi hormat pada Baihu. Ketiga murid Hong Jun memberikan hormat pada Baihu. ”Kami akan membantu kerajaan Gurun Barat memberantas bangsa Lato dan membebaskan kerajaan Pesisir Laut Selatan,” teriak mereka bersamaan.


Baihu merasa senang mendengar perkataan Hong Jun dan ketiga muridnya, dia merasa bantuan mereka tentu akan menambah kekuatan pasukannya.


“Terima kasih tetua Hong dan juga saudara-saudaraku,” sahut Baihu sambil memberi hormat pada mereka.


“Hahaha... aku juga ingin murid-muridku ikut mencari pengalaman dalam pertempuran ini,” sahut tetua Dang Gui kemudian sambil menoleh ke arah kedua muridnya Wu Min dan Yu Niang.


Kedua murid tetua Dang Gui mengangguk sambil memberi hormat padanya. “Kami juga akan membantu kerajaan Gurun Barat untuk memerangi bangsa Lato dan membebaskan kerajaan Pesisir Laut Selatan,” sahut kedua murid tetua Dang Gui.

__ADS_1


“Terima kasih tetua Dang Gui dan saudara-saudaraku,” sahut Baihu sambil menghormat pada mereka.


Zhu Shimin yang melihat kedua tetua bela diri itu mencari peluang untuk memikat perhatian Baihu mengkerutkan alisnya. Dia hanya memiliki seorang murid yaitu Mu Lin. Dan tentu saja Mu Lin tanpa disuruh pun akan membantu Baihu dalam pertempuran ini. Kemudian Zhu Shimin berdiri sambil berjalan mendekati Baihu. “Aku dan muridku sendiri yang akan turut dalam pertempuran ini,” katanya sambil merangkul lengan Baihu seperti seorang teman.


Orang-orang di tempat itu tersenyum melihat tingkah Zhu Shimin yang memang terkenal dengan blak-blakan dalam bersikap dan tidak mengikuti tata krama resmi sebagaimana biasa.


Namun Baihu memang menganggapnya seperti saudara tua, dia tidak pernah mempermasalahkan tata krama dan aturan dalam persaudaraannya. “Terima kasih tetua Zhu, tapi mungkin akan sedikit melelahkan bagi orang setua dirimu untuk turut serta dalam pertempuran,” sahut Baihu sambil tersenyum.


“Kamu meremehkanku? Ayo kita bertarung lagi seperti dulu! Aku ingin lihat sejauh mana anak muda sepertimu bisa melawanku,” tantang Zhu Shimin dengan wajah serius namun terlihat lucu.


Baihu tersenyum melihat tingkah Zhu Shimin yang masih sama seperti dulu. Orang-orang di tempat itu merasakan kedekatan mereka berdua dan tertawa geli melihat tingkah Zhu Shimin.


Zhu Shimin mendengus mendengar jawaban Baihu lalu pergi ke tempat duduknya kembali diiringi tawa semua orang di tempat itu yang melihat kelakuan mereka. Semua orang terlihat senang malam itu, namun dalam hati mereka tegang karena pertempuran dengan bangsa Lato tidak bisa dihindari lagi.


\=====


Bangsa Lato yang dipimpin langsung oleh Pangeran La Yuan dan para jendral mereka sudah bergerak ke arah barat laut menuju kerajaan Gurun Barat. Hari ini mereka telah tiba di pinggir sungai Panjang. Mereka kemudian mendirikan kemah disekitar pinggiran sungai Panjang sambil menunggu para pengintai mereka yang telah pergi ke wilayah kerajaan Gurun Barat.


“Pangeran!” Salah seorang jendralnya datang menghadap untuk memberikan laporan dari tim pengintai mereka.


Tampak Pangeran La Yuan tengah duduk berdiskusi dengan Xu bersaudara, Xu Rou dan Xu Gang tentang penyerangan ke arah kerajaan Gurun Barat. Mereka menghentikan sementara pembicaraan untuk mendengarkan laporan dari jendralnya itu. “Katakan!” perintah Pangeran La Yuan.

__ADS_1


“Pangeran, upacara penobatan telah berlangsung di ibukota kerajaan Gurun Barat.” sahut seorang jendral.


Pangeran La Yuan kemudian berdiri setelah mendengar berita tersebut. “Ini kesempatan yang bagus. Itu berarti kota di perbatasan selatan mereka tidak dijaga oleh para jendral yang telah pergi ke ibukota kerajaan,” sahut Pangeran La Yuan.


“Pangeran, berdasarkan informasi dari pengintai di kota Langsang, kota Bintang dan Kota Persik seluruh pemimpin di kota tersebut telah pergi menghadiri upacara penobatan Raja.” lapor jendral tersebut kembali.


Kota Langsang adalah kota kerajaan Gurun Barat yang terletak di perbatasan darat antara wilayah kerajaan Gurun Barat dan kerajaan Pesisir laut Selatan. Sedangkan kota Bintang yang terletak di seberang kota Panai adalah kota perbatasan yang dipisahkan oleh sungai. Kota Persik juga berada di pinggir sungai namun tidak ada kota yang ada di seberang wilayah kerajaan Pesisir Laut Selatan.


Perkemahan bangsa Lato ini berada di pesisir sungai Panjang di seberang kota Persik yang masih merupakan hutan yang cukup lebat. Sehingga menjadi tempat persembunyian pasukan yang cukup bagus.


Untuk menyerang kota Langsang di arah kanan menuju ke utara, diperlukan waktu kurang dari satu hari menjangkaunya. Namun untuk menyerang kedua kota di seberang sungai akan membutuhkan waktu untuk mempersiapkan penyeberangannya.


Saat mereka tengah berdiskusi, tiba-tiba seorang jendral datang kembali menemui Pangeran La Yuan. “Pangeran, kami ingin melaporkan pasukan yang sedang menuju ke pinggiran sungai ini,” sahut jendral tersebut.


“Katakan” sahut Pangeran La Yuan.


“Pasukan bangsa Lato yang datang dari seberang laut telah menyusuri sungai Panjang menuju kemari. Mereka akan tiba di depan kota Panai sekitar 3 hari lagi dan tiba di depan kita ini sekitar 6 hari lagi.” lapor jendral tersebut pada Pangeran La Yuan.


Pangeran La Yuan tertegun mendengar hal itu. Jika dia ingin menyerang ke seberang sungai harus menunggu waktu 6 hari lagi dengan menggunakan kekuatan pasukan air yang telah masuk ke aliran sungai Panjang dari arah seberang lautan.


Wajah Pangeran La Yuan tampak tegang memikirkan hal itu. Dia merasa 6 hari itu terlalu lama dan membuat lawan melakukan persiapan untuk berperang melawannya. Jadi satu-satunya jika ingin menyerang saat ini adalah melalui jalur darat menuju kota Langsang.

__ADS_1


__ADS_2