BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 120 | Pembebasan para tawanan


__ADS_3

Baihu yang berjalan-jalan di sepanjang ibukota melihat-lihat suasana sekitar. Dia ingin merencanakan untuk membebaskan para tawanan keluarga kerajaan yang ingin dieksekusi oleh Raja Mao Da.


Di sekitar alun-alun ibukota, banyak para penjaga kerajaan bangsa Buke yang menjaga tempat itu. Mereka juga berkeliling mengawasi para penduduk yang berlalu lalang disekitar kurungan tempat para tawanan.


Meskipun jarak penduduk dan kurungan itu cukup jauh dengan penjagaan yang melarang orang mendekati kurungan itu. Namun penduduk masih bisa melihat jelas wajah-wajah keluarga kerajaan yang berada disama.


Semua orang merasa prihatin dan sedih melihat para wanita dan anak-anak di dalam kurungan itu. Terutama anak-anak, mereka tidak mengerti tentang masalah kerajaan, mereka hanya mengetahui bermain dan bermain. Namun kini mereka merasa sedih dan tertekan karena tidak bisa bermain lagi.


Anak-anak itu bahkan tidak tahu jika mereka tidak bisa lagi melihat hari esok. Sungguh pemandangan yang sangat memilukan. Baihu menggertakkan giginya menahan amarahnya yang semakin lama semakin meluap.


Esok adalah hari eksekusi mereka. “Malam ini aku harus membebaskan mereka.” batin Baihu sambil terus mengamati sekitarnya.


Baihu lalu melompat untuk mencari tempat tersembunyi yang cukup tinggi untuk mengamati sekitarnya. Dia ingin menentukan arah pelarian untuk keluarga kerajaan itu.


Malam harinya, Baihu tidak bisa memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak. Dia kemudian bermeditasi untuk menenangkan dirinya sebelum dia beraksi.


Buumm! Buuummm! Bummm!


Tiga ledakan terjadi membuat Baihu terkejut dan bangun dari meditasinya. “Apa yang terjadi?”


Baihu lalu bergegas ke arah datangnya suara ledakan itu. Dia melompat ke udara dan melihat situasi dari atas dengan melayang melihat ke arah alun-alun yang tampak kacau oleh ledakan itu.


Tampak para penjaga bangsa Buke berserakan dengan tubuh tidak utuh dan darah berceceran kemana-mana. Situasi bertambah mencekam oleh tangisan anak-anak kecil para tahanan yang ketakutan oleh ledakan itu.


Kemudian tampak ratusan anak panah melayang ke arah penjaga yang masih berdiri di sekitar kurungan itu.


“Bunyikan tanda bantuan!” Teriak salah satu penjaga di alun-alun itu.


Alun-alun berjarak cukup jauh dengan istana kerajaan dan juga markas pasukan bangsa Buke, sehingga butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk pergi ke arah alun-alun dan memberikan bantuan.


Setelah panah-panah berterbangan, kini orang-orang berpakaian hitam tampak melompat dan melesat ke arah para penjaga kerajaan bangsa Buke yang menjaga para tahanan itu.


“Sekte Burung Api?” Baihu merasa mengenali beberapa perawakan dari orang-orang berpakaian hitam yang menyerang para penjaga bangsa Buke.

__ADS_1


Baihu yang melayang di udara melihat bala bantuan pasukan bangsa Buke telah datang menuju ke arah alun-alun. Melihat kedatangan bala bantuan pasukan itu, Baihu segera mengerahkan Jurus Kesembilan Matahari Bulan.


Matahari dan Bulan Bersatu, Baihu membentuk lingkaran Yin dan Yang yang cukup besar di udara lalu mengarahkan lingkaran itu ke arah pasukan bala bantuan yang datang menuju ke arah alun-alun.


Baammmm!


Serangan energi dari jurus kesembilan Matahari dan Bulan Bersatu menghantam pasukan bantuan yang datang dan membuat tubuh mereka hancur berantakan sebelum berhasil mendekati alun-alun.


Dari ribuan pasukan bala bantuan yang datang, ratusan pasukan paling depan telah hancur berantakan dengan tubuh hancur. Kini Baihu kembali mengerahkan jurus yang sama dan mengarahkannya kembali ke pasukan bangsa Buke.


“Mundur! Cepat pergi dari sini!”


Pasukan mulai panik dan kacau melihat lingkaran Yin dan Yang yang muncul di udara. Mereka berhamburan berlarian tanpa arah untuk menghindari terkena hantaman jurus ke sembilan Matahari Bulan.


Bummm!


Kembali Baihu menghantam barisan pasukan lawan yang masih berada di tempat itu.


“Panah! Panah orang itu!” Teriak salah satu dari mereka memerintahkan pasukan panah untuk memanah Baihu.


Pasukan bala bantuan bangsa Buke hancur lebur oleh serangan Baihu.


Sementara itu orang-orang berpakaian hitam berhasil membebaskan para tawanan setelah membersihkan para penjaga di alun-alun. Salah seorang berpakaian hitam melihat ke arah Baihu yang melayang di udara lalu tersenyum padanya.


“Terima kasih Baihu. Kami berhutang budi padamu.” Orang itu pun segera pergi bersama teman-temannya dengan menggiring para tawanan menuju ke tempat persembunyian yang telah mereka siapkan sebelumnya.


“Siapa yang berani membebaskan para tawanan dari kami.”


Tiba-tiba seseorang melompat menghadang orang-orang berpakaian hitam dan menyerang mereka serta para tawanan yang melarikan diri.


Lelaki berpakaian hitam yang memimpin itu terkejut ketika menemukan seorang jendral bangsa Buke telah datang menghalangi jalan kabur mereka. Dia pun bergerak ke arah jendral itu dan menghalangi pedang jendral itu saat ingin menebas leher salah satu tawanan.


Trang!

__ADS_1


Pedang lelaki berbaju hitam itu berhasil menghadang tebasan pedang jendral bangsa Buke. “Kalian semua, pergi dari sini. Biar aku yang melawannya.”


“Kakak!” Tiba-tiba terdengar suara beberapa wanita yang cemas melihat lelaki itu bertarung.


“Kamu pemimpin orang-orang ini?” Jendral bangsa Buke itu mengamati lelaki berbaju hitam yang berdiri menghadang dirinya. Sementara itu orang berbaju hitam lainnya telah menggiring para tawanan untuk segera pergi dari tempat itu.


Lelaki berbaju hitam itu tidak banyak bicara, dia mengerti sempitnya waktu untuk melarikan diri sebelum Raja Mao Da dan jendral lainnya datang menghalangi rencana mereka. Jadi dia segera menyerang jendral itu dengan sengit.


Seettthh... Seetthh...


Pedang lelaki berpakaian hitam itu berkelebat seperti halilintar menyerang dengan ganas ke arah jendral bangsa Buke. Namun jendral bangsa Buke itu mampu berkelit dan menangkis dengan pedangnya.


Trang! Trang!


Puluhan jurus telah berlalu antara pertarungan lelaki berbaju hitam itu dengan jendral bangsa Buke namun belum terlihat siapa yang akan memenangkan pertarungan itu.


Wuzzhh... Wuzzzhh...


Tiba-tiba dua buah pedang melesat ke arah jendral bangsa Buke itu dan membuat jendral itu mundur selangkah untuk menghindarinya.


“Kenapa kalian kembali?” Lelaki berbaju hitam itu mendelik kepada dua orang wanita berpakaian hitam yang datang dan menyerang ke arah jendral bangsa Buke itu.


“Kakak, kami akan membantu kakak. Para tawanan sudah dibawa pergi ke tempat aman oleh teman-teman.” sahut salah satu dari mereka.


Lelaki itu hanya bisa menghela nafasnya ketika melihat kedatangan dua orang wanita itu dan bertarung bersamanya mengeroyok jendral bangsa Buke.


Merasa kewalahan oleh serangan ketiga orang itu, jendral bangsa Buke pun mencibir. “Cih, kalian orang dari dataran tengah hanya berani melakukan pertarungan keroyokan saja.” cibirnya.


“Tidak ada pertarungan yang adil dalam peperangan.” Lelaki itu membalas perkataan jendral bangsa Buke tanpa mempedulikannya. Mereka bertiga tetap menyerang jendral bangsa Buke itu secara bergantian seperti air mengalir.


Wajah jendral bangsa Buke menjadi pucat saat alah satu pedang wanita itu mengarah ke lehernya. Namun dengan sigap jendral itu bisa menghindarinya. Tetapi matanya hampir melotot keluar ketika melihat pedang lelaki berbaju hitam telah menantikan gerakannya yang menghindar ke arah tersebut.


Crassshhh...

__ADS_1


Pedang lelaki berbaju hitam itu berhasil menebas salah satu lengan dari jendral bangsa Buke tersebut.


__ADS_2