BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 50 | Pertemuan keluarga Wang


__ADS_3

Keesokan harinya Baihu telah lebih dahulu datang di pelabuhan itu dan menunggu kedatangan Wang Mei. Hatinya menjadi cemas memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya.


Baihu memandang ke arah sungai yang memantulkan sinar matahari pagi yang berwarna keemasan itu. Sungguh pemandangan yang sangat indah.


Menjelang siang, Baihu masih berdiri disana menunggu kedatangan Wang Mei dengan sabar.


Sementara itu di kediaman keluarga Wang, Wang Mei belum bisa memutuskan apa yang harus dia lakukan. Dia masih terduduk di dalam taman keluarga Wang di belakang kediaman.


Tiba-tiba seorang pelayan datang menghampirinya dengan tergesa-gesa.


“Ada apa?” tanyanya pada pelayan tersebut.


“Nona, Tuan memanggilmu untuk menemui tamu yang datang” sahut pelayan itu sambil memberi hormat pada Wang Mei.


Wang Mei tertegun mendengar kata-kata pelayan itu, dia tidak tahu siapa yang datang untuk menemuinya. Kemudian dia pergi mengikuti pelayan itu menuju ruang tamu keluarga Wang.


Tampak rombongan beberapa orang membawakan beberapa kotak hadiah untuk Wang Mei. “Apa ini?” gumam Wang Mei dalam hatinya melihat deretan hadiah yang dibawa oleh rombongan itu. “Guru Wang!” tiba-tiba Zhang Ji berteriak memanggil dirinya.


“Zhang Ji?” Wang Mei terkejut ketika melihat Zhang Ji muridnya yang datang membawa hadiah-hadiah itu.


“Guru, kakak memintaku untuk mengantarkan hadiah pertunangan ini untukmu” sahut Zhang Ji sambil memberi hormat padanya.


Wajah Wang Mei berubah merah melihat banyaknya hadiah yang dibawa oleh rombongan itu dan diantar sendiri oleh Zhang Ji untuknya. Dia melihat kedua orang tuanya yang duduk di sana dengan wajah cemas. Tentu saja mereka tidak berani menolak ataupun menerima hadiah dari Putra Mahkota untuk anaknya Wang Mei.


Wang Mei menghela nafasnya tidak tahu dia harus mengatakan apa.


“Guru, kakakku juga mengatakan dia akan datang mengunjungimu dalam dua hari ini” sahut Zhang Ji kembali.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Wang Mei tidak tahu dia harus menjawab apa. Dia masih terkejut melihat banyaknya hadiah yang dikirimkan oleh Zhang Mou untuk dirinya.


Melihat Gurunya Wang Mei masih terkejut, Zhang Ji merasa bangga pada kakaknya. Kemudian dia pun segera berpamitan pada Guru Wang Mei dan keluarga Wang untuk kembali ke kediaman Putra Mahkota.


Setelah kepergian Zhang Ji dan rombongannya, tubuh Wang Mei terasa lemas. Dia pun terduduk di sebuah bangku yang ada di ruang tamu itu dengan wajah muram.


Kedua orang tua Wang Mei melihat anaknya berwajah muram kembali, mereka berdua merasa sedih melihat kondisi Wang Mei seperti itu.


“Keluarga Wang dari kota Qiuqiu telah tiba” tiba-tiba seorang pelayan berteriak dengan keras.


“Wang Lin?” Wajah ayah Wang Mei terkejut mendengar saudara sepupunya dari kota Qiuqiu Wang Lin datang mengunjunginya.


Tampak beberapa orang berjalan memasuki ruang tamu keluarga Wang. Yang berjalan paling depan adalah Wang Lin, adik sepupu dari Wang Huo ayah Wang Mei.


“Kakak, apa kabar kalian?” teriak Wang Lin saat memasuki ruang tamu keluarga Wang sambil tersenyum manis.


“Apa maksud kedatanganmu kemari Wang Lin,” gumam ayah Wang Mei dalam hatinya sambil menatap tajam ke arah Wang Lin.


Wang Lin berjalan dengan angkuh ke tengah ruang tamu dan menoleh ke arah Wang Mei keponakannya yang terlihat duduk di bangku ruang tamu itu dengan wajah muram.


“Wah, mengapa calon permaisuri kita terlihat murung kakak. Apa yang telah terjadi?” sindirnya pada kakak sepupunya Wang Huo


Wajah Wang Huo tampak kesal melihat sikap Wang Lin itu namun dia tidak ingin memperkeruh suasana karena melihat wajah Wang Mei yang tampak sedih.


Wang Mei tidak mempedulikan kedatangan pamannya Wang Lin, dia masih terpaku memandang tumpukan hadiah dari Zhang Mou.”Bagaimana mengembalikan barang-barang ini? Bagaimana menolak lamarannya tanpa membuatnya tersinggung?” pikiran itu memenuhi isi kepala Wang Mei.


Tiba-tiba terdengar lagi teriakan dari luar ruang tamu,”Nyonya Wang Shui dari kota Emas telah tiba”

__ADS_1


“Ah...” Kali ini kepala Wang Huo menjadi semakin pusing setelah mendengar bibinya yang datang.


Wang Shui adalah adik bungsu dari ayahnya Wang Huo jadi termasuk nenek dari Wang Mei. Dia tinggal di kota Emas dengan keluarga besar Wang lainnya. Kota Emas adalah kota kelahiran Wang Huo. Sebelum akhirnya dia menikah dengan istrinya dan menetap di kota Persik bersama keluarganya sendiri.


Seorang wanita yang tampak tua namun selisih umur tidak jauh dengan Wang Huo berjalan memasuki ruang tamu dengan wajahnya yang tinggi melihat sekelilingnya.


“Bibi!” sapa Wang Huo dan istrinya sambil berdiri memberi hormat.


“Bibi Shui” sapa Wang Lin memberi hormat ketika melihat kedatangan Wang Shui


Kali ini Wang Mei tidak berani mengindahkan kedatangan neneknya Wang Shui, dia pun berdiri sambil menyapa hormat padanya,”Nenek Shui” sapanya.


Wang Shui melihat pada Wang Mei dan tersenyum, “Rupanya cucuku sudah dewasa. Wajar Putra Mahkota menginginkannya untuk menjadi istri. Cucuku memang sangat cantik sekali” sahut Wang Shui sambil tersenyum pada Wang Mei


Wajah Wang Mei menjadi merah karenanya, dia tidak menyangka keluarga besar Wang telah mengetahui berita tentang lamaran dari Putra Mahkota secepat itu.


“Wang Huo, mari kita berbicara di ruang keluarga” ajak Wang Shui pada Wang Huo


Wang Huo lalu mempersilahkan bibinya Wang Shui dan juga sepupunya Wang Lin untuk pergi ke ruang keluarga bersama istri dan anak-anaknya Wang Mei dan Wang Bao.


Di ruang keluarga Wang Shui duduk di kursi utama yang biasanya ditempati oleh Wang Huo, namun karena bibinya lebih senior dan merupakan utusan keluarga besar Wang dari kota Emas, maka dalam pertemuan kali ini bibi Wang Shui lah yang duduk dan memimpin pertemuan keluarga itu.


Wang Mei terlihat menundukkan kepalanya karena dia tahu dirinya lah yang akan menjadi topik pembicaraan dalam pertemuan keluarga kali ini.


Sementara keluarga Wang mengadakan pertemuan di kediaman mereka, Baihu masih menunggu kedatangan Wang Mei meskipun hari sudah mulai senja. Saat dia sedang menunggu di sudut pelabuhan itu, dia melihat rombongan orang-orang sedang memuat barang ke dalam sebuah kapal layar di sungai itu.


Tampak rombongan itu menaikkan sebuah kurungan yang sangat besar dan ditutupi oleh kain ke atas kapal. Baihu menyipitkan matanya saat melihat dari celah kain kurungan yang terbuka karena tertiup angin itu tampak beberapa wanita di dalamnya.

__ADS_1


“Kapal itu menaikkan wanita di dalam kurungan? Apakah mereka menjual wanita?” gumam Baihu tertegun saat melihat hal itu.


Rasa ingin tahu Baihu membuatnya menyelinap ke atas kapal layar pada saat rombongan itu pergi setelah mengantarkan barang-barang tersebut.


__ADS_2