
Baihu segera turun menuju cahaya yang terlihat di bawahnya. Dia pun mendarat di dasar lubang tersebut. Matanya melihat ke arah cahaya yang ternyata adalah pinggir sungai yang berada jauh di bawah tebing tempat awal Baihu masuk ke dalam gua.
Gua tersebut terletak di pinggir sungai namun dari bawah tidak bisa melihat ke arah lubang yang tertutup kembali di atasnya. “Apakah ini lubang jebakan?” Baihu melihat sekitar area gua tersebut untuk mencari petunjuk tentang tempat tersebut.
“Makam pedang Naga.”
Baihu kembali melihat tulisan tersebut di dinding bagian dalam area gua itu. Dia pun mendekati tulisan tersebut namun kali ini dia lebih waspada dengan memperhatikan sekelilingnya.
Di tulisan itu Baihu melihat lagi tombol seperti yang ada di gua bagian atas sebelumnya. Dia mencoba lagi menekan tombol itu dengan berhati-hati.
RRRRR....
Suara pintu yang bergerak terbuka di depan Baihu, dia pun melangkah memasuki pintu tersebut. Namun begitu masuk tiga langkah, pintu tersebut tertutup kembali. Baihu tertegun merasa dirinya terkurung di dalam gua tersebut.
Tiba-tiba beberapa obor di dinding mulai menyala dan menerangi tempat itu. Mata Baihu terkejut melihat sebuah peti mati terletak di depan matanya. “Makam siapa ini? Apakah ini Makam Pedang Naga?” gumam Baihu dalam hatinya.
Baihu mengingat waktu dirinya terkurung di Gua Kebijaksanaan dulu, hal itu membuatnya duduk kemudian bersujud tiga kali menghormati makam tersebut. “Tetua, maafkan aku mengganggu tidurmu. Aku mohon petunjuk darimu.” Baihu kembali bersujud pada tetua Pedang Naga.
Setelah melakukan sujud, Baihu kemudian mencoba untuk membuka peti mati tersebut. Dia melihat ada sebuah buku yang di pegang oleh jasad tersebut.
“Energi kultivasi Pedang Naga.”
Baihu kemudian mengambil buku tersebut. “Tetua, aku meminjam bukumu. Aku akan mempergunakannya untuk kebaikan,” gumam Baihu sambil memberi hormat pada jasad tersebut.
Baihu lalu duduk bersila setelah menutup peti mati tersebut. Dia kemudian mempelajari isi buku tersebut lalu mempraktekkannya. Kitab Energi kultivasi Pedang Naga adalah kitab bagian dari pengendalian pedang naga. Baihu membaca dengan seksama petunjuk yang terdapat pada buku tersebut.
Baihu lalu bermeditasi untuk mencoba energi kultivasi tersebut. Dia mengalirkan energi dalam tubuhnya sesuai petunjuk yang di dapat pada buku itu. Wajah Baihu terlihat senang karena saat mengalirkan bagian pertama Energi Kultivasi Pedang Naga telah berhasil menyelaraskannya dengan Energi Matahari dan Bulan miliknya.
__ADS_1
Energi Matahari dan Bulan saling menyelaraskan dengan Energi Pedang Naga di dalam tubuhnya sesuai petunjuk dari buku tersebut.
“Aku sungguh beruntung, buku ini memberikan petunjuk bagiku untuk melatih jurus Pedang Naga hingga tahap puncak.” Baihu merasa bersemangat untuk mempelajari kitab itu lebih lanjut.
Bagian demi bagian dipelajari oleh Baihu dari buku tersebut, membuat energinya semakin meningkat. Baihu kemudian mencoba beberapa jurus dari Pedang Naga dengan menggunakan Energi Pedang Naga.
Ayunan pedang Naga menjadi semakin kuat. Baihu kemudian mencoba menghancurkan batu yang ada di depannya dengan menggunakan jurus pedang naga.
Bumm...
Kekuatan Pedang Naga menjadi berlipat-lipat, betu tersebut hancur menjadi keping-keping kecil. Mata Baihu merasa puas dengan kekuatan Pedang Naga. Dia menjadi semakin bersemangat meneruskan mempelajari buku energi kultivasi pedang naga tersebut.
Dalam empat jam, Baihu telah menguasai seluruh petunjuk yang ada di buku itu. Dia kemudian melatihnya dengan menggunakan pedang naga. Gerakannya menjadi semakin cepat, sabetan pedang naga juga menjadi semakin kuat.
Baihu merasa kekuatan kultivasinya juga meningkat pesat. Baihu menyimpan kitab itu di dalam cincin penyimpanan miliknya lalu bermeditasi untuk memahami petunjuk tersebut lebih lanjut.
Tak terasa setengah hari Baihu menghabiskan waktu untuk mempelajari buku tersebut. Dia merasa kekuatannya telah menembus alam Abadi dengan bantuan energi pedang naga.
“Aku harus kembali, kerajaan sedang dalam peperangan. Aku tidak boleh berlama-lama di tempat ini. Aku bisa melatihnya kembali di kota Langsang,” batin Baihu.
Baihu lalu keluar dari dalam ruang Makam Pedang Naga yang sebelumnya telah memberi hormat pada jasad di dalam makam itu. Baihu lalu terbang melayang dari pinggir sungai menaiki tebing tinggi menuju ke dataran di atasnya.
Di atas tebing, harimau Sunu telah menunggunya lalu melompat kegirangan ke arah Baihu dan menggesekkan kepalanya ke tubuh Baihu. Baihu tersenyum melihat tingkah Sunu. Dia pun membelai kepala Sunu dengan lembut. “Mari kita kembali ke benteng kota Langsang!”
ROAARRR...
Harimau Sunu mengaum mendengar kata-kata Baihu seakan-akan mengerti maksudnya. Mereka pun kembali ke benteng kota Langsang.
__ADS_1
Ketika mendekati benteng kota, Baihu mendengar samar-samar suara pertempuran di bagian selatan benteng. “Apakah perang sudah meletus?” batinnya.
“Sunu, kita pergi ke suara pertempuran itu!” Baihu memerintahkan Sunu untuk pergi ke suara pertempuran yang didengarnya.
Mata Baihu berkedut melihat pertempuran yang terjadi di luar benteng kota. Dia kemudian melompat ke tengah-tengah pertempuran bersama Sunu. Baihu dan Sunu menyerang musuhnya dengan ganas. Kali ini Baihu menggunakan Pedang Naga untuk menghabisi lawan-lawannya.
Yang Zi dan teman-temannya yang melihat pertempuran dari atas benteng kota, sementara jendral Yan Shu memimpin serangan itu berada di medan pertempuran yang sengit.
“Yang Mulia!” Yan Shu berteriak dengan gembira ketika melihat kemunculan Baihu membantunya melawan musuh.
Baihu menganggukkan kepalanya pada Yan Shu, lalu dia menerjang ke arah panglima pasukan musuh.
Jendral pasukan Lato yang memimpin serangan itu terkejut ketika Baihu muncul di depannya dengan langsung menyerang dirinya. Sabetan pedang Naga memberikan tekanan kekuatan yang besar sehingga jendral itu tidak bisa bergerak dan menang.
Jendral itu terdorong mundur dengan menyemburkan darah dari mulutnya karena sabetan pedang naga itu.
“Akulah lawanmu nak!”
Tiba-tiba Baihu melihat sosok yang pendek gempal menyerang ke arah dirinya. “Xu Gang!” Baihu menyipitkan matanya melihat ke arah Xu Gang dan menahan serangannya dengan menggunakan Pedang Naga.
Kemudian Baihu menebaskan pedangnya ke arah Xu Gang dengan cepat.
Wussshh...
Sabetan pedang naga membuat mata Xu Gang terbelalak lalu menghindarinya, namun sayang beberapa ujung rambutnya terkena sabetan pedang naga Baihu dan mencukurnya hingga terlihat botak sebagian kepala Xu Gang.
“I-Ini kurang ajar!” Mata Xu Gang menjadi geram menyadari kepalanya nyaris terkena sabetan pedang Baihu. Dia tidak menyangka kekuatan Baihu meningkat pesat saat menggunakan senjata pedangnya.
__ADS_1
Xu Gang yang melompat mundur karena sabetan pedang naga baihu tampak masih terbelalak tidak percaya dirinya terdorong mundur dalam satu jurus pedang.