
“Adikkk...”
Dua tebasan pedang naga mengenai dada dan perut Xu Rou. Darah menyembur dari dua garis luka di ubuh Xu Rou, wajahnya mulai memutih dan nafasnya terhenti seketika karena pedang Naga membelah dada dan perutnya. Xu Rou ambruk ke tanah dan meregangkan nyawa.
Mata Xu Gang menjadi memerah, nafasnya memburu karena marah. Wajahnya semakin terlihat jelek ketika melihat adiknya Xu Rou terbunuh oleh Baihu.
Dia menyerang Baihu dengan menebas pedang dan roda emasnya secara membabi buta. Dia tidak mempedulikan jurusnya asalkan bisa menebas Baihu dengan senjatanya. Dendam dan sakit hati kehilangan saudaranya membuat pikirannya kacau dan bertindak diluar akal.
Kekuatan Xu Gang semakin meningkat karena kemarahannya, namun serangannya tidak terarah dan terukur. Sehingga Baihu dengan mudah menaklukkannya. Baihu menyabet pedangnya mengenai punggung Xu Gang yang melewati dirinya.
Crashh! Crashh!
Dua sabetan pedang naga membekas di punggung Xu Gang dan menyemburkan darah. Namun Xu Gang masih menyisakan kekuatannya dan menyerang membabi buta.
Rasa sakit di punggung tidak terasa baginya. Dia memutar tubuhnya sambil mengayunkan pedangnya ke arah Baihu. Namun Baihu telah berbalik dan menancapkan pedangnya di dada Xu Gang.
Jleb!
Mata Xu Gang melotot, dia tidak merasakan apa-apa, nafasnya terputus tubuhnya kaku. Nyawa Xu Gang telah meninggalkan tubuhnya. Tubuh Xu Gang terkulai ambruk saat pedang naga Baihu dicabut dari dadanya.
Kedua Xu bersaudara dibunuh oleh Baihu. Seluruh pasukan kerajaan Gurun Barat bersorak gembira dan bertambah semangat menyerang pasukan bangsa Lato.
Berbeda dengan bangsa Lato, kematian Xu bersaudara membuat mental pasukannya menjadi jatuh. Kedua jendral bahkan semakin kewalahan melawan Yan Shu dan Xiao Shi.
Selang beberapa menit kemudian kedua jendral pasukan itu pun terbunuh oleh jendral kerajaan Gurun Barat. Pasukan bangsa Lato juga banyak yang terbunuh dalam pertempuran itu.
Mereka yang masih hidup segera melarikan diri untuk bergabung dengan pasukan pangeran La Yuan.
Baihu dan pasukannya mengejar lawan hingga ke tempat pertempuran bangsa Lato melawan pasukan dari kota Panai.
Baihu melihat pangeran La Yuan mengamuk bersama para jendralnya namun di hadang oleh para petarung dari sekte besar dataran tengah. Pangeran La Yuan hendak mengejar Raja Pesisir Laut Selatan dan membunuhnya, namun raja selalu dilindungi oleh rakyat dan pasukannya.
__ADS_1
“Pangeran, akulah lawanmu.” Teriak Baihu dengan lantang.
Pangeran La Yuan dan dua jendralnya terkejut karena musuh telah masuk dari arah belakang pasukan mereka. “Apakah pasukan Xu bersaudara telah kalah?” gumam dua jendral dengan gemetar ketakutan.
Bagi para jendral pasukan bangsa Lato, kedua tetua Xu bersaudara kekuatannya melebihi mereka. Seakan tidak percaya dengan kekalahan kedua Xu bersaudara. Tetapi lawan telah melewati pertahanan mereka, jadi hal itu benar-benar terjadi.
Jendral pasukan bangsa Lato diam-diam gemetar oleh tatapan Baihu pada mereka. Namun berbeda dengan pangeran La Yuan. Dia merasa tidak peduli dan kesal pada Baihu.
“Kamu yang telah mengalahkan kedua Xu bersaudara?” tanya pangeran La Yuan.
“Benar.”
Baihu menunggangi harimau Sunu menerjang ke arah barisan belakang pasukan bangsa Lato. Kemudian pasukan berkuda kerajaan Gurun Barat mengikuti muncul di belakang Baihu.
Pasukan bagian belakang bangsa Lato tidak menyangka musuh akan menyerang mereka dari arah belakang. Formasi pasukan menjadi kacau menghadapi serangan dari dua arah.
Pangeran La Yuan menggertakkan giginya lalu menyerang ke arah Baihu dengan mengendarai kudanya. Kemudian dia melompat dari atas kuda dan melayangkan tombaknya dari udara mengarah ke kepala Baihu.
Bamm...
Pangeran La Yuan terkejut ketika melihat Baihu muncul tiba-tiba di sisi kanannya. Dia menggunakan tombaknya untuk menghadang Baihu. Namun Baihu tidak menyerang dirinya.
“Kamu bukan lawanku. Pergilah! Aku tidak ingin membunuhmu” kata Baihu.
“Apa? Kamu pikir aku takut mati?” teriak La Yuan.
La Yuan masih terus menggerakkan jurus tombaknya. Dengan gesit dia memutar tombak, menusuk dan menebas tombak ke arah Baihu. Namun Baihu masih berkelit dan belum bermaksud menyerang balik.
Namun bagi La Yuan hal itu benar-benar meremehkan dirinya. Baihu tampak bermain-main melawannya. “Kurang ajar,” geramnya.
“Baiklah. Karena kamu ingin cepat mati. Maka aku mengabulkannya,” kata Baihu sambil mempersiapkan serangannya.
__ADS_1
Baihu meledakkan kekuatannya lalu bergerak secepat kilat dengan pedang terhunus ke arah pangeran La Yuan. Sabetan sederhana mengenai leher dari La Yuan. Wajahnya tertegun tidak percaya dirinya kalah dalam satu jurus melawan Baihu.
Hanya tebasan sederhana pedang naga telah membunuh pangeran La Yuan. Seluruh pasukan bangsa Lato meletakkan senjatanya dan berlutut menyerah ketika pangeran La Yuan jatuh terbunuh.
Kekuatan pangeran La Yuan jauh lebih lemah dari Baihu, sehingga satu jurus telah mengakhiri peperangan ini. Dan pasukan kerajaan Gurun Barat pun bersorak gembira.
Bummm!
Tiba-tiba terdengar ledakan dari arah sungai. Baihu dan pasukannya yang telah memenangkan peperangan segera mendekat ke arah sungai dan melihat kapal pasukan air bangsa Lato tengah di serang dari dua sisi oleh pasukan kerajaan Gurun Barat.
Yang Zi memang pandai dalam strategi, rencananya menyerang pasukan air bangsa Lato berhasil membuat bangsa Lato mengalami kerugian besar. Barisan Kapal-kapal bagian depan terbakar oleh panah api yang di tembakkan dari dua sisi sungai.
Pasukan di atas kapal sibuk memadamkan api, namun hujan panah terjadi kembali. menyerang kapal mereka, sehingga kapal menjadi semakin cepat terbakar dan membunuh orang-orang yang hendak memadamkan api.
Kapal komando yang terletak di barisan belakang melihat kejadian itu. Jendral pasukan air menggertakkan giginya melihat barisan kapalnya yang kocar-kacir.
Baihu yang telah menyimpan pedang naganya segera terbang dan berdiri di atas layar kapal yang terbakar itu.
Seluruh pasukan bangsa Lato terkejut melihat kemunculan Baihu. Mereka hendak melepaskan anak panah ke arah Baihu, namun mata mereka lebih terkejut melihat sosok tubuh yang di pegang oleh Baihu.
“Pangeran!” teriak orang-orang yang mengenali sosok tersebut.
Baihu lalu melempar tubuh pangeran La Yuan ke kapal komando untuk mengubah niat dari pasukan bangsa Lato.
Wajah jendral pasukan air melotot tidak percaya akan pangeran La Yuan yang terbunuh. Dia menggigil memandang jasad pangeran La Yuan di lantai kapalnya.
“Ini terlalu! Mundur!” teriak jendral pasukan air itu.
Pasukan bangsa Lato memutar haluan kapal perang mereka dan berbalik pergi kembali sambil membawa jasad pangeran La Yuan.
Semua rencana perang bangsa Lato berantakan oleh serangan Baihu dan kerajaan Gurun Barat.
__ADS_1
“Jendral, mengapa kita mundur?” tanya salah satu komandan pasukan pada Jendral pasukan air.
“Kita kembali dulu ke kerajaan sambil membawa tubuh pangeran La Yuan dan memakamkannya. Disisi pangeran La Yuan terdapat lima jendral dan juga dua orang tetua sakti yang melindunginya. Namun dengan terbunuhnya pangeran, apa kamu tidak berpikir cerdas kekuatan pembunuh ini.”