BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 110 | Persiapan menyerang perkemahan bangsa Lato


__ADS_3

Mata Xu Rou melotot seperti hendak melompat keluar dari kelopaknya melihat ujung pedang Naga Baihu yang meluncur ke arahnya. Dia tidak bisa menghindarinya karena posisi juga menyerang ke arah Baihu.


Satu-satunya cara adalah mengorbankan lengannya untuk menghindari kematian.


Crasshh...


Lengan kiri Xu Rou putus terkena sabetan pedang Naga Baihu. Xu Rou meraung kesakitan dan berguling di tanah. Dia segera menghentikan pendarahannya seketika dan menotok seluruh bagian lengan kirinya yang putus.


Xu Gang bergidik melihat kejadian tak terduga itu. Dia pun segera menyambar adiknya dan melarikan diri dari medan pertempuran.


Baihu yang mendarat tidak dapat menghalangi kepergian mereka. Dia hanya mendengus kesal karena tidak berhasil membunuh Xu Rou. “Kalian beruntung kali ini. Berikutnya jangan harap bisa pergi dariku,” teriak Baihu pada mereka yang sudah menjauh.


Pasukan bangsa Lato yang melihat kejadian itu menjadi panik dan semangat tempur mereka menurun. Berbeda dengan pasukan kerajaan Gurun Barat yang semakin bersemangat melihat kemenangan Raja mereka.


Jendral Yan Shu menjadi semakin bersemangat melihat kemenangan Baihu lalu menyerang jendral bangsa Lato dengan ganas. Jendral bangsa Lato yang melihat kedua Xu bersaudara melarikan diri menjadi kesal dan kecewa. Semangat tempurnya juga menurun karena hal itu.


Baihu berjalan mendekati pertarungan mereka. Tidak ada satupun pasukan lawan yang berani menghadangnya.


Jendral bangsa Lato merasa putus asa melihat hal itu, dia ingin melarikan diri dari medan perang karena ketakutan melihat Baihu seperti melihat Dewa Kematian yang semakin mendekatinya.


Namun jendral Yan Shu tidak membiarkannya pergi, dia menghadang jalan kabur dari jendral tersebut. Yan Shu menyerang dengan semakin ganas, tombak di tangannya menyerang seperti tanpa mata.


Jleb!


Tombak Yan Shu akhirnya berhasil menusuk dada jendral bangsa Lato dan menembus hingga punggungnya. Mata jendral bangsa Lato terbelalak tidak percaya dirinya terbunuh di tangan Yan Shu.


Seluruh pasukan kerajaan Gurun Barat bersorak dengan kemenangan jendral Yan Shu. Pasukan bangsa Lato menjadi panik dan berhamburan melarikan diri dari medan pertempuran.


Melihat pasukan bangsa Lato yang kabur, pasukan kerajaan Gurun Barat bersorak mencibir mereka.


Kemenangan peperangan hari itu menjadi cambuk semangat bagi pasukan kerajaan Gurun Barat dan Baihu merasa bangga dengan semangat pasukannya itu. Mereka pun kembali ke benteng kota Langsang untuk beristirahat.


Sementara itu di perkemahan bangsa Lato, pangeran La Yuan merasa kesal dan marah atas kekalahan pasukannya dalam peperangan. Dia menghancurkan barang-barang di dalam perkemahannya.


Wajah para jendral dan dua tetua Xu bersaudara terlihat pucat menundukkan kepalanya. Mereka merasa malu karena mengalami kekalahan hari ini.

__ADS_1


“Kurang ajar! Aku terlalu meremehkan mereka,” geram pangeran La Yuan dengan wajah gelap.


Tidak ada yang berani menyahut kata-kata pangeran La Yuan, mereka terdiam menunggu instruksi berikutnya dari pangeran.


“Kapan kapal pasukan air kita akan tiba?” tanya pangeran La Yuan pada salah satu jendral.


“Pangeran, sesuai jadwal harusnya mereka sudah melewati pelabuhan kota Bintang dan menuju pelabuhan kota Persik. Dalam dua hari mereka seharusnya sudah tiba di perairan sungai dekat perkemahan kita.” sahut salah satu jendral.


“Baiklah, saat kapal pasukan air tiba, kita akan menyerang kota persik dan kota Langsang sekaligus. Pasukan air bisa mendarai di sungai dekat kota Langsang dan memasuki kota Langsang dari dalam wilayah mereka.”


Wajah Pangerang La Yuan tampak berbinar dengan harapan dari bantuan pasukan air bangsa Lato.


\======


Sementra itu di wilayah kerajaan Salju Utara, Zhang Mou yang bekerja sama dengan Yang Nie telah mengajukan kesepakatan kerja sama dengan bangsa Buke yang dipimpin oleh Raja Mao Da untuk membantu menyerang kerajaan Salju Utara.


Raja Kerajaan Salju Utara Yang Kui tidak menyadari adanya pasukan musuh yang masuk diam-diam ke wilayahnya melalui kota Linshang.


Mereka memasuki wilayah kota Linshang dengan dukungan kekuatan dari pasukan jendral Ning. Pasukan jendral Ning sama seperti Yang Nie yang merasa terbuang oleh kerajaan Salju Utara, sehingga mereka bersama Yang Nie bekerja sama dengan bangsa Buke untuk menjatuhkan kerajaan Salju Utara.


Kerajaan bangsa Buke semakin kuat di bagian barat kerajaan Salju Utara, mereka juga mendapat dukungan penuh dari pasukan setia jendral Ning dan juga penduduk kota yang tidak puas dengan pemerintahaan Raja Yang Kui yang selalu mementingkan pribadinya.


Telah banyak jatuh korban dari kedua belah pihak, termasuk para jendral mereka. Peperangan di wilayaj kerajaan Salju Utara juga membuat kerajaan Matahari Terbit di wilayah timur dan kerajaan Gurun Barat menjadi waspada.


Baihu juga memerintahkan para jendralnya untuk menjaga perbatasan utara mereka dari serangan bangsa Buke. Sebagian kekuatan Kerajaan Gurun Barat di kerahkan ke perbatasan utara dan sebagian lagi ke perbatasan selatan.


Memikirkan kerajaan membuat Baihu sedikit pusing, karena dia harus memperhatikan keselamatan penduduk kerajaan. Baihu tidak ingin rakyatnya menjadi korban dari peperangan itu.


“Untuk mengobati penyakit harus membersihkan sumbernya. Kita harus segera menyerang balik bangsa Lato ini,” Baihu memberikan saran kepada para jendralnya di kota Langsang.


“Yang Mulia, pasukan kita di kota Bintang telah menyeberang dan bersembunyi di kota Panai. Mereka bersiap untuk bergabung dengan kita menyerang perkemahan bangsa Lato.” sahut Yang Zi kemudian.


“Bagus. Pertahanan bangsa Lato masih lemah, mereka juga tidak di dukung oleh rakyat dari kerajaan Pesisir Laut Selatan. Ini memudahkan kita untuk masuk ke wilayah mereka melalui kota Panai.”


Seluruh jendral yang berada di kota Langsang bersemangat mendengar rencana dari Baihu dalam penyerangan ke perkemahan bangsa Lato.

__ADS_1


Tampak para petarung bela diri dari berbagai sekte juga telah bergabung bersama pasukan kerajaan Gurun Barat.


“Lapor Yang Mulia.”


Tiba-tiba Yin Fang datang untuk melaporkan pada Baihu. “Katakan!”


“Yang Mulia, kapal pasukan air telah melewati kota Bintang menuju kota Persik. Dalam dua hari mereka akan tiba di depan kota Persik yang kemungkinan akan berlabuh di wilayah kota Langsang.” kata Yin Fang.


Baihu mengkerutkan keningnya mendengar laporan tersebut. Bantuan pasukan dari bangsa Lato akan segera tiba, mereka harus segera melakukan serangan sebelum dua hari ini.


“Yang Mulia, kami telah menyiapkan serangan dari pinggir sungai di beberapa titik dekat kota Persik. Itu akan memperlambat mereka menuju kemari,” Yang Zi juga melaporkan pasukan yang telah dia siapkan di tepi sungai untuk menyerang kapal-kapal bangsa Lato itu.


“Bagus, itu bisa memperlambat mereka untuk tiba di kota Langsang. Besok kita akan bergerak untuk menyerang perkemahan mereka dari arah kota Langsang dan kota Panai. Berikan perintahku pada pasukan kita di kota Panai!” kata Baihu.


“Baik Yang Mulia,” Yin Fang lalu pergi untuk memberikan informasi itu melalui saluran pasukan pengintainya.


“Kalian bersiaplah. Besok dini hari kita bergerak menuju perkemahan bangsa Lato di hutan pinggir sungai.” lanjut Baihu.


“Baik Yang Mulia!” teriak seluruh jendral dan para petarung dengan semangat.


Kemudian mereka semua kembali ke pos masing-masing untuk bersiap melakukan serangan esok dini hari. Hanya Yang Zi yang masih bersama Baihu di aula pertemuan itu.


“Kakak Yang, aku ingin kakak Yang memimpin sebagian pasukan untuk menghambat dan menyerang kapal bangsa Lato di sungai. Serang mereka dari dua sisi sungai dengan panah api,” Baihu memberikan instruksi pada Yang Zi.


“Baik Baihu. Aku harap kamu bisa memenangkan pertempuran di hutan itu. Kembalilah dengan kemenangan,” sahut Yang Zi dengan tatapan lembut


“Aku pasti kembali. Terima kasih kakak Yang.” Baihu tersenyum pada Yang Zi. Kedekatannya dengan Yang Zi semakin terjalin dalam krisis peperangan ini. Yang Zi telah banyak membantu dirinya selama ini, Baihu sangat menghargainya.


Baihu lalu mengingat masa lalu dimana dia dan Yang Zi telah dijodohkan oleh kedua orang tua mereka. Hal itu membuat wajah Baihu menjadi merah. Bagaimana pun usia Baihu kini sudah 19 tahun. Sudah saatnya dia memikirkan tentang perjodohannya.


“Ah, kerajaan masih dalam krisis peperangan. Tidak mungkin memikirkan hal itu.” Baihu menepis pikirannya sendiri.


Baihu kemudian mengingat pasukannya di kota Panai. Dia pun tanpa sadar mengingat Wang Mei dan juga Zhou An yang berada di sana.


“Bagaimana kabar mereka?” batin Baihu.

__ADS_1


Setelah kembalinya dari wilayah barat, Baihu langsung dihadapkan dalam peperangan ini. Dia belum sempat membangun kerajaan Gurun Barat kembali. Dia merasa bersalah karena melibatkan kerajaannya dalam peperangan ini.


__ADS_2