
Xu Jie tidak peduli dan masih terus menyerang Baihu dengan ganas, namun daya serangannya sangat lemah karena tubuhnya dalam kondisi mabuk. Sehingga Baihu dengan mudah menepis belatinya dan merampas belati tersebut.
Lalu Baihu memukul bagian tengkuk Xu Jie hingga membuatnya terbujur pingsan dan ambruk ke tanah.
Keempat pendekar yang duduk di sebelah Baihu terkejut dan menyangka Baihu telah membunuh Xu Jie. Salah satu wanita itu berjalan mendekati Xu Jie dan memeriksanya.
“Dia tidak apa-apa. Aku hanya menidurkannya agar dia tidak membuat kekacauan lebih banyak.” kata Baihu dengan santai.
“Tuan, apakah kamu sadar dengan apa yang telah kamu lakukan? Orang ini adalah tuan muda dari sekte Naga Emas. Mereka tidak akan melepaskanmu jika kamu menyakitinya.” kata wanita bernama Tang Yun.
Baihu menatap keempat orang itu dengan seksama. “Siapa kalian sebenarnya?”
Pendekar laki-laki itu lalu berdiri dan memberi hormat pada Baihu. “Kami dari sekte Burung Api di wilayah luar bagian utara. Namaku Tang Jian, mereka semua adik-adikku Tang Yun, Tang Li dan Tang Mui.”
Baihu memandang mereka berempat sambil memberikan hormatnya. “Aku Baihu dari kerajaan Gurun Barat.”
Mereka pun saling memberi hormat, karena meja Baihu telah dihancurkan oleh Xu Jie, mereka pun mengundang Baihu untuk duduk bersama di meja mereka. Namun Baihu menolaknya karena ingin segera pergi ke ibukota kerajaan Salju Utara.
“Tuan Tang, bisakah kamu membantuku untuk memanggil seseorang dan mengantarkan Xu Jie kembali ke wilayah luar bagian utara?”
Tang Jian menganggukkan kepalanya lalu memanggil kusir kereta mereka dan memintanya untuk mengantarkan Xu Jie pergi keluar kota Weishan menuju ke wilayah luar bagian utara.
Baihu mengembalikan belati pusaka milik Xu Jie, kemudian berpamitan pada keempat keluarga dari sekte Burung Api.
Setelah itu Baihu lalu pergi menuju ibukota kerajaan Salju Utara dengan menyamar sebagai tabib yang mengobati orang luka. Karena sebagian besar bangsa Buke tidak mengenali dirinya membuat Baihu dengan mudah bisa masuk ke dalam ibukota kerajaan.
Ibukota kerajaan Salju Utara tampak lebih megah daripada kerajaan Gurun Barat. Namun saat ini beberapa bangunan terlihat runtuh menjadi puing-puing karena penghuninya melarikan diri saat perang terjadi.
__ADS_1
Meski demikian, masih ada penduduk yang mau tinggal di di ibukota kerajaan karena kesulitan untuk pergi apalagi tidak memiliki keluarga dan tempat tujuan yang hendak dituju.
Baihu berjalan mengelilingi ibukota sebagai seorang tabib untuk mencari penginapan. Di tengah alun-alun dia melihat sebuah kurungan besar yang berisikan anggota keluarga kerajaan Salju Utara yang sedang disiapkan untuk menerima hukuman mati dua hari lagi.
Mata Baihu menjadi merah melihat banyak anak-anak dan wanita di dalam kurungan itu. Wajahnya berubah menjadi gelap menatap ke arah alun-alun. Lalu tanpa berbicara dia membalikkan badan melanjutkan mencari penginapan di ibukota itu.
Di dalam kamar penginapan, Baihu bermeditasi namun bayangan anak-anak dan wanita itu tidak pernah pergi dari pikirannya. Wajah Baihu menjadi keras, jantungnya berdegup kencang dan hatinya terasa sakit oleh ingatan itu.
“Sial, mengapa aku merasa sakit melihat mereka?” Baihu berusaha menenangkan dirinya.
Semakin Baihu mengabaikannya, hatinya semakin teriris. Wajah anak-anak itu membekas di pikirannya, anak-anak yang polos tanpa dosa dengan wajah sedih menatap dirinya.
Baihu menutup kepalanya dengan selimut berusaha untuk menghilangkan bayangan wajah mereka. Namun dia tidak bisa menghilangkannya.
“Ah, haruskah aku menyelamatkan mereka?” batinnya.
“Apa yang harus aku lakukan. Bagaimana menyelamatkan mereka?” gumam Baihu dalam hatinya.
Sementara Baihu masih memikirkan cara untuk menyelamatkan keluarga kerajaan, ketua sekte Wudang di kediaman sekte di gunung Wudang telah berhasil mengumpulkan pasukan yang tersisa dari kerajaan Salju Utara.
Para pemimpin pasukan dan jendral yang masih hidup berkumpul di aula pertemuan sekte Wudang.
“Saudaraku, Yang Mulia Baihu berpesan pada kita. Dia telah berada di dalam ibukota kerajaan dan bersiap untuk membantu menghancurkan musuh yang ada di ibukota kerajaan dari dalam. Namun dia mengharapkan kita memecah konsentrasi pasukan musuh dengan melakukan serangan dari luar ibukota.” kata ketua sekte Wudang.
“Aku harap kalian semua akan bersamaku berangkat menuju medan perang membasmi musuh kerajaan Salju Utara dan menyelamatkan kerajaan kita dari bangsa asing.” lanjut ketua sekte Wudang.
Seluruh pemimpin pasukan bersorak dengan penuh semangat. Mereka semua merasa inilah saatnya perubahan dari kerajaan Salju Utara. Mereka bersatu untuk melawan musuh dan membebaskan kerajaan Salju Utara.
__ADS_1
“Waktu sangat penting, sebelum musuh bertambah kuat. Mari kita berangkat!”
“Siap!”
Seluruh jendral dan pemimpin pasukan lainnya dengan kompak dan semangat mengangkat tangan terkepal ke udara. Mereka bersatu untuk melawan bangsa Buke yang telah menyerang kerajaan Salju Utara. Dan mereka bersiap untuk melawan sampai titik darah penghabisan bersama-sama.
Pasukan kerajaan Salju Utara bergerak dari arah Gunung Wudang ke timur melewati beberapa kota dengan berperang dan menguasainya menuju ke ibukota kerajaan. Keesokan harinya mereka telah memasuki wilayah kota Weishan dan bersiap untuk menyerangnya.
Baihu yang berada di dalam ibukota kerajaan juga mendengar bahwa Raja Mao Da kini berkonsentrasi dalam menghadang serangan dari sisa pasukan kerajaan Salju Utara.
“Baihu, ternyata kamu juga menginap di tempat ini?”
Baihu terkejut ketika dia mendengar seseorang mengenali dirinya. Baihu kemudian menoleh ke arah datangnya suara itu dan melihat keluarga Tang dari sekte Burung Api tersenyum padanya.
Namun kali ini Baihu tidak hanya melihat mereka berempat, tetapi masih ada lima orang lainnya lagi datang bersama mereka dengan wajah serius menatap ke arah Baihu.
“Tenang saudaraku, ini Baihu teman dari kerajaan Gurun Barat.” Tang Jian menenangkan saudara-saudaranya yang terlihat risih dengan keberadaan Baihu.
Baihu memberikan hormat pada mereka namun kelima orang itu mengacuhkan dirinya dan berjalan menuju ke sebuah ruangan yang telah mereka pesan.
“Ah, maafkan teman-temanku itu Baihu,. Mereka memang selalu berwajah serius seperti itu. Hehehe...” Tang Jian yang berinisiatif untuk meminta maaf kepada Baihu.
Mereka pun semua pergi ke ruangan yang cukup besar seperti tempat pertemuan itu. Sementara ada beberapa orang yang berdiri di depan pintu ruangan itu dan juga ada yang berkeliaran di jalanan depan penginapan itu.
“Mengapa orang-orang dari sekte Burung Api ada banyak di ibukota kerajaan ini?” batin Baihu karena melihat orang-orang dari sekte Burung Api berada di sekitar ibukota kerajaan.
Meskipun mereka tidak menggunakan pakaian seragam dan juga atribut yang sama, namun Baihu bisa merasakan dari tatapan dan kode yang mereka berikan satu sama lainnya.
__ADS_1
“Sepertinya orang-orang dari sekte Burung Api tengah merencanakan sesuatu di dalam ibukota kerajaan ini.” gumam Baihu dalam hatinya