
Baihu yang berjalan menyusuri lorong gua itu berjalan secara perlahan dengan waspada. Dia tidak ingin adanya jebakan di tengah-tengah lorong tersebut.
Tiba-tiba diujung lorong Baihu melihat cahaya yang cukup terang. Dia pun bergegas menuju ke arah sumber cahaya itu.
Terlihat sebuah pedang yang berdiri dalam keadaan terikat oleh rantai ke sekeliling dinding gua. Baihu tertegun melihat hal itu. “Mengapa pedang itu dirantai ke sekeliling dinding?”
Baihu tidak mengerti akan hal itu, namun dia merasakan aura yang menekan berasal dari pedang itu. Aura itu berusaha untuk menekan kekuatan Baihu dan membuat kepalanya menjadi pusing serta kesadarannya menurun.
“Apa ini? Mengapa kekuatan pedang itu begitu kuat dan menekan diriku?” batin Baihu.
Baihu berusaha mengerahkan kekuatannya untuk menekan aura pedang itu. Dia sampai berlutut menahan tekanan dari pedang itu.
“Menyerahlah! Kamu tidak akan menang melawanku. Biarkan aku menguasaimu.”
Sebuah suara terdengar di dalam pikiran Baihu, dia merasa pedang itu berusaha untuk berkomunikasi dengannya dan ingin menguasai dirinya.
Baihu tidak membiarkan pedang itu mengambil alih kesadarannya, dia pun mengerahkan jurus ke sembilan dari Sembilan Semesta yaitu Kuasa Sejati untuk melawan tekanan dari pedang itu.
Perlahan Baihu menahan tekanan dari pedang tersebut. Lalu dia berjalan mendekati pedang itu dan menatapnya dengan tatapan yang tajam. “Kamu tidak berhak menguasai diriku. Aku yang akan menguasaimu,” Baihu kini melawan pedang tersebut.
Baihu mengirimkan kembali tekanan dari pedang itu. Kini dia berbalik menyerang pedang itu dan menekan kekuatannya dengan jurus Kuasa Sejati.
“Apa yang kamu lakukan? Hentikan!”
Pedang itu tampak bergetar hebat saat Baihu membalikkan serangan ke arahnya. Baihu tidak mendengarkan kata-kata pedang tersebut. Dia terus mengalirkan kekuatannya dengan menekan aura pedang itu.
Trangg! Trang! Trang!
Satu persatu rantai yang mengikat pedang itu terputus karena getaran hebat pada pedang tersebut.
“Akh... hentikan! Baiklah, aku akan menurutimu.”
Setelah semua rantai pedang itu terlepas, pedang itupun menyerah dan berdiri dengan aura yang baru tanpa menekan ke arah Baihu.
__ADS_1
“Siapa kamu?” Baihu kemudian bertanya pada pedang itu dengan wajah penasaran.
“Aku Pedang Naga Langit. Aku mendapatkan roh dari ingatan pemilik sebelumnya.”
Baihu berjalan mendekati pedang itu dan kemudian mengambilnya. Baihu mengangkat pedang itu dan memperhatikannya. “Kamu cukup bagus. Aku menyukai tekstur bilahmu ini.”
Bilah pedang Naga Langit memang luar biasa, tekstur bilah pedang itu mirip dengan sisik ular yang menutupi hampir seluruh pedang itu.
“Maukah kamu menjadi temanku?” tanya Baihu pada pedang itu.
RRRRRRR.....
Pedang itu mendengung dan bergetar di tangan Baihu. “Tentu saja. Aku senang memiliki banyak teman.”
Baihu lalu mencoba mengayunkan pedangnya, dia selama ini belum mempelajari jurus pedang secara lebih detail, sehingga dia merasa sedikit kaku dengan gerakannya.
“Hehehe... gerakanmu sungguh lucu. Aku bisa memberikan jurus yang lebih baik untuk memainkan pedang.”
Mata Baihu berkedut mendengar tawa pedang itu yang seperti mencibir dirinya. Dia lalu mengangkat pedang itu dan bertanya. “Bagaimana kamu melakukannya?”
Baihu kemudian melepaskan pedang itu dan melihat pedang tersebut masih melayang di udara. Kemudian Pedang Naga Langit terbang berkeliling gua lalu kemudian menukik ke atas kepala Baihu. Lalu pedang itu berbalik dan berhenti di atas kepala Baihu. Hal ini seperti transfer kekuatan dan jurus pedang menuju ingatan Baihu untuk memahaminya.
Pedang Itu mengeluarkan cahaya kebiruan yang langsung masuk melalui celah diantara kening Baihu. Kemudian kilasan ingatan dari kekuatan dan jurus pedang menyatu bersamanya.
Kilasan ingatan dari kekuatan dan jurus pedang satu persatu terekam dalam ingatan Baihu. Kemudian setelah beberapa menit, seluruh kekuatan dan jurus pedang terlah berhasil dikirimkan ke dalam ingatan Baihu. Baihu pun mengingat seluruh jurus pedang itu dan mencoba melatihnya.
“Ini adalah jurus Pedang Naga, dimana kekuatannya sangat dahsyat dan mematikan. Kamu harus berhati-hati menggunakannya di masa mendatang.”
Baihu mengernyitkan dahinya mendengar penjelasan dari pedang Naga Langit itu, sambil terus melatih jurus Pedang Naga untuk dapat menguasainya. Dalam waktu satu jam berlatih, Baihu akhirnya bisa menguasai jurus Pedang Naga.
“Aku telah menguasai jurus pedang Naga. Aku hanya tinggal menerapkannya suatu saat nanti.”
Baihu merasa gembira dan bersemangat setelah mendapatkan warisan kekuatan dan jurus pedang Naga.
__ADS_1
Setelah berhasil menguasai tahap awal dari pedang Naga, Baihu kemudian mencoba bermeditasi untuk meningkatkan kekuatannya.
Tubuh Baihu bergetar keras ketika dia mencoba menyalurkan kekuatan pedang Naga Langit dan menyelaraskannya dengan kekuatan di tubuh Baihu.
Sudah tiga kali Baihu mencoba menyelaraskan kekuatan Matahari Bulan dalam tubuhnya dengan kekuatan pedang Naga, namun tampaknya dia masih mengalami kegagalan.
Baihu kemudian duduk bermeditasi kembali untuk mencoba menyelaraskan kedua kekuatan itu. “Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kedua kekuatan ini sulit untuk diselaraskan?” batinnya.
Baihu kali ini merenungkan dalam meditasinya. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah merasa cukup tenang, Baihu kembali mengerahkan kekuatan pedang Naga dan kekuatan Matahari Bulan untuk menyelaraskannya namun masih tetap gagal.
Hari mulai gelap dan Baihu masih terus mencoba untuk menyelaraskan kedua kekuatan itu. Namun akhirnya dia menghentikannya sementara dan mencari petunjuk di dalam gua itu.
“Kedua kekuatan ini berbeda sumber. Kekuatan Matahari Bulan bersumber dari langit sedangkan kekuatan pedang Naga bersumber dari bumi.”
“Aku harus menemukan petunjuk untuk menyatukan kedua kekuatan yang berbeda sumber ini agar bisa selaras di dalam tubuhku.”
Baihu kemudian bangkit dan mengelilingi gua tersebut untuk mencari petunjuk lainnya. Dia meraba-raba dan mengamati setiap jengkal dari dinding tersebut.
Mata Baihu akhirnya tertuju kepada tulisan yang terletak agak tinggi di atas kepalanya.
“Makam Pedang Naga.”
Wajah Baihu tampak mengernyit memikirkan tulisan itu. Dia mencoba membersihkannya untuk melihat dengan jelas.
Di akhir tulisan itu dia seperti melihat sebuah titik yang agak buram namun berbentuk seperti sebuah tombol karena bentuk dan teksturnya yang aneh. Baihu yang merasa penasaran kemudian menekan tombol tersebut.
Ssshhh....
Tiba-tiba lantai yang dipijaknya menghilang, Baihu merasa tubuhnya seperti akan terjatuh dengan keras dan meluncur dengan cepat ke bawah. Dia lalu mengerahkan kekuatan Matahari dan Bulan untuk meringankan tubuhnya sehingga dia bisa melayang di lubang yang gelap itu.
“Ada apa di bawah lorong gua ini?”
__ADS_1
Setelah memikirkan segala kemungkinan, Baihu lalu memutuskan untuk menuruni lubang itu. Dengan melayang menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, tubuh Baihu secara perlahan menuruni lubang itu. Baihu tetap memasang kewaspadaannya selama menuruni lubang itu.
Beberapa menit kemudian dia melihat cahaya di bawah sana dan membuat Baihu sedikit mempercepat turunnya agar bisa segera mengetahui apa yang berada di bawah lubang itu.