BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 71 | Membebaskan Sunu


__ADS_3

Semua orang dari pertunjukkan terkejut begitu melihat Baihu marah karena apa yang mereka lakukan pada harimau tersebut.


“Sunu, kemarilah!” perintah Baihu pada harimau itu.


Harimau bernama Sunu itu langsung berjalan mendekati Baihu dan berdiri disampingnya. “Katakan, apa yang sudah mereka lakukan padamu?” tanya Baihu


ROOAARRR...


Harimau itu meraung seolah-olah mengerti apa yang ditanyakan oleh Baihu. Melihat Baihu dan harimau itu dekat, pembawa acara beserta orang-orang di pertunjukkan menjadi gemetaran dan mundur perlahan.


“Demi semua penonton disini, aku tidak akan membunuh kalian. Aku akan pergi bersama temanku ini. Jika kalian menghalangi, jangan salahkan aku bertindak,” kata Baihu dengan mengerahkan kekuatannya menghempaskan orang-orang dari pertunjukkan itu.


Baihu lalu berjalan keluar dari pintu pertunjukkan itu diikuti oleh harimau Sunu berjalan disampingnya.


Semua orang masih tercengang melihat kejadian itu. Zhou An segera melompat menyusul kepergian Baihu. Wang Mei juga tak mau kalah, dia segera berlari mengejar  Baihu.


“Baihu, Tunggu!” teriak Zhou An yang telah lebih dahulu tiba di belakang Baihu.


Mata orang-orang di jalanan ketakutan melihat ada harimau yang berjalan dengan bebas ditengah kota, mereka segera berlarian untuk bersembunyi ketakutan.


Baihu menoleh ke belakang dan melihat Zhou An berdiri menatapnya dengan wajah gembira. “Nona Zhou!” sahut Baihu


“Akhirnya aku bisa bertemu denganmu!” Kali ini mata Baihu melotot merasakan tiba-tiba Zhou An berlari dan memeluk dirinya.


Wang Mei yang tiba belakangan terkejut melihat kejadian itu, wajahnya menjadi merah, hatinya merasa teriris sekaligus kesal melihat hal itu.


Baihu tidak mampu berkata apa-apa, wajahnya merah terlihat terkejut karena tidak menyangka Zhou An akan memeluknya di tempat umum seperti itu.


“No-nona Zhou, apa yang kamu lakukan?” Tanya Baihu masih terkejut


“Kenapa? Ini kerajaan ayahku. Aku bisa melakukan apa saja kan.” sahut Zhou An dengan centilnya.


Meskipun Baihu tahu kalau Zhou An berasal dari keluarga bangsawan di selatan, tapi dia tidak menyangka bahwa Zhou An adalah anak Raja Kerajaan Pesisir Laut Selatan.


“Ayo kita pergi ke rumahku Baihu,” ajak Zhou An hendak menarik Baihu.

__ADS_1


“Hai nona Zhou,” sapa Wang Mei tiba-tiba menyela mereka


Zhou An terkejut melihat guru Wang Mei juga berada disana, “Guru Wang, kamu juga berada disini? Ah, senang sekali bertemu dengan kalian.” Zhou An berlari dan memeluk Wang Mei juga.


Mata Wang Mei berkedut dan wajahnya merah melihat keceriaan Zhou An. Dia pun tersenyum dan memeluk balik muridnya itu.


“Karena kalian sudah berada di rumahku. Ayo aku ajak berkeliling,” ajak Zhou An pada mereka


“Baihu, bolehkah aku berkenalan dengan harimaumu?” Tanya Zhou An.


Baihu menghentikan langkahnya, “Sunu, mereka berdua temanku. Kamu harus baik pada mereka.” Baihu lalu membelai kepala Sunu yang dengan senang merasakan tangan Baihu dikepalanya.


Melihat hal itu Zhou An memberanikan dirinya untuk membelai Sunu. Merasakan belaian dari Zhou An, Sunu juga merasa senang. Wang Mei juga tidak mau kalah dan ikut membelai kepala Sunu.


Baru kali ini mereka berdua membelai kepala harimau yang cukup besar itu.


ROOOAARRR...


“Sunu senang pada kalian berdua,” sahut Baihu melihat Sunu menggerakkan ekornya menyukai hal itu.


Zhou An lalu mengajak mereka masuk ke istana kerajaan Pesisir Laut Selatan, yang tentu saja membuat heboh istana kerajaan karena melihat datangnya seekor harimau yang berukuran besar memasuki istana.


Semua pengawal dan penjaga kerajaan menyingkir tidak berani mendekati harimau tersebut.


Mereka lalu diajak oleh Zhou An menuju ke aula istana dimana ayah dan ibunya sedang bersama keluarga lainnya.


Sontak semua mata dikejutkan dengan kedatangan harimau memasuki aula istana itu. Mereka merasa ketakutan sebelum akhirnya melihat Zhou An yang datang bersama Baihu dan Wang Mei.


“Ayah, Ibu. Aku datang bersama teman-teman dari sekte Matahari Bulan,” kata Zhou An membuat kedua orang tuanya terkejut.


“Mengapa ada harimau ikut bersamamu?” Teriak ayahnya yang ketakutan


“Oh, ini teman kami. Namanya Sunu,” sahut Zhou An sambil membelai kepala harimau.


“Jangan...!” Ibu Zhou An terkejut melihat anaknya begitu berani memegang kepala harimau itu.

__ADS_1


Semua keluarga kerajaan gemetar ketakutan melihat Zhou An yang tiba-tiba datang bersama harimau bahkan membelai kepalanya.


“Tidak apa Ayah, Ibu. Ada Baihu bersamaku, harimau Sunu ini temannya. Oh iya, Ayah, ini guruku tetua Wang Mei. Dan ini temanku Baihu, murid sekte Matahari Bulan sama sepertiku,” Zhou An menunjuk pada Wang Mei dan Baihu.


“Hormat pada Yang Mulia Raja,” sahut Baihu dan Wang Mei bersamaan.


Raja kerajaan Pesisir Laut Selatan yang sudah mulai tenang karena melihat harimau Sunu tampak berbaring di lantai dengan tenangnya.


“Senang bertemu dengan tetua Wang dan juga teman anakku,” sahut Raja Pesisir Laut Selatan.


“Ayah, aku akan mengajak teman dan guruku untuk bersantap sambil bercerita,” lanjut Zhou An yang kemudian mengajak Baihu dan Wang Mei menuju ruang makan dan diikuti oleh harimau Sunu.


Mereka pun bersantap bersama dan Sunu bahkan diberikan banyak daging oleh para pelayan kerajaan. Tampak Sunu makan dengan lahap setelah sekian lama kekurangan makan di kurung oleh orang pertunjukkan itu.


“Putri, Yang Mulia memanggilmu.” Tiba-tiba datang seorang pelayan kerajaan memanggil Zhou An untuk menemui ayahnya.


“Guru, Baihu. Kalian teruskanlah dulu berbicara disini. Aku akan menemui ayah dulu,” kata Zhou An sambil bangkit dan mengikuti pelayan kerajaan itu.


Di aula utama kerajaan masih tetap keluarga kerajaan yang sedang berdiskusi dengan Raja dan permaisurinya. Mereka lalu berhenti sejenak setelah melihat kedatangan Zhou An yang memasuki aula tersebut.


“Ayah, ada apa memanggilku?” tanya Zhou An.


“An’er, kemarin ada utusan dari kerajaan Gurun Barat yang datang. Pihak kerajaan Gurun Barat ingin meneruskan tentang pertunangan kamu dengan pangeran Zhang Ji. Untuk itulah aku mengajak keluarga besar kita berdiskusi tentang hal itu,” sahut Raja kerajaan Pesisir Laut Selatan.


Wajah Zhou An tampak muram begitu mendengar mereka berdiskusi tentang pertunangannya dengan Zhang Ji. “Ayah, aku masih belum memikirkan tentang pertunangan itu.”


Zhou An sebenarnya tidak ingin menikah dengan Zhang Ji yang tidak disukainya. Namun dia tidak ingin menimbulkan masalah dengan pihak kerajaan Gurun Barat.


“Ah, kami sudah menduga jawabanmu seperti itu. Kamu sudah cukup umur untuk segera menikah. Apakah kamu tidak ingin secepatnya menikah?” sahut Ibunya Zhang Ji.


“Ibu, sejujurnya aku tidak menyukai pangeran Zhang Ji,” sahut Zhou An berterus terang dan membuat wajah semua orang di tempat itu tertegun mendengarnya.


“Cinta itu bisa tumbuh dalam pernikahan nak,” sahut ibunya Zhou An yang benar-benar menginginkan anaknya untuk cepat menikah.


Wajah Zhou An menjadi gelap, kepalanya terasa pusing mendengar kata-kata lain yang berusaha untuk membujuknya agar mau menikah dengan Zhang Ji.

__ADS_1


__ADS_2