BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 86 | Pasukan Jendral Mao Shan


__ADS_3

Ledakan akibat benturan kekuatan kedua jendral perang itu membuat hempasan angin ke sekitarnya. Beberapa prajurit di dekat pertarungan mereka terhempas oleh angin tersebut.


Debu berterbangan mengaburkan penglihatan orang sekitarnya. Ketika debu mulai turun tampak Baihu masih berdiri ditempatnya, sedangkan jendral Zhu Cen terdorong mundur dua langkah ke belakang.


Dengan melihat hal itu dapat dipastikan kekuatan Baihu jauh lebih tinggi dari jendral Zhu Cen. Hal ini membuat para prajurit yang menyerah itu merasa lega karena tidak menendang plat besi.


Peperangan telah berakhir karena banyak prajurit lawan yang menyerah pada pasukan dari kota Emas. Pasukan dari kota Emas tidak membunuh mereka yang telah menyerah dan berlutut. Kini semua mata di medan peperangan itu melihat ke arah pertarungan Baihu dengan Jendral Zhu Cen.


Mata Jendral Zhu Cen tampak panik melihat hal itu, harga dirinya sebagai jendral merasa terinjak-injak. Menyerah adalah pilihan terakhir baginya, mati dalam peperangan merupakan kehormatan bagi seorang jendral seperti dirinya.


“Bodoh, tetap hidup dan berubah menjadi baik jauh lebih mulia daripada mati membela harga diri.” gumam Li Yan dalam hatinya melihat jendral Zhu Cen yang tidak bermaksud menyerah itu.


Baihu menatap tajam kepada jendral Zhu Cen yang sudah bersiap untuk menyerang dirinya kembali. Kemudian Jendral Zhu Cen kembali melompat dengan mengayunkan tombaknya ke udara, kali ini dia mengeluarkan jurus tebasan di udara yang turun menghujam ke arah kepala Baihu dengan seluruh kekuatan alam Langit miliknya.


Baihu melihat tebasan tersebut lalu meningkatkan kekuatannya dan mengeluarkan jurus Kuasa Sejati dari Sembilan Semesta. Baihu mengepalkan tinjunya serta mengerahkan seluruh kekuatan pada tinjunya itu. Dia menghantap mata golok itu dengan tinjunya.


BAMM... BRAKK...


Tombak mata golok milik Jendral Zhu Cen patah oleh hantaman tinju dari Baihu. Mata Jendral Zhu Cen berkedut melihatnya, namun tubuhnya di udara menjadi sasaran empuk bagi Baihu untuk melanjutkan serangannya.


Jendral Zhu Cen segera memutar tubuhnya salto ke belakang, namun Baihu mengetahui gerakannya itu dan langsung mengejar tubuhnya yang hendak mendarat.


Tengkuk jendral Zhu Cen merasa dingin ketika desiran angin mendekatinya. Baihu telah lebih dulu mengeluarkan tendangan menyambut dirinya yang mendarat. Beruntung jendral Zhu Cen telah berpengalaman dalam banyak pertarungan, sehingga dia memperlambat gerakannya dan menggunakan tendangan Baihu untuk memantulkan gerakannya menjauhinya.


“Cih, kamu sungguh licin,” gumam Baihu melihat lawannya bisa meloloskan diri dari tendangannya.

__ADS_1


Jendral Zhu Cen menyeringai melihat serangan Baihu yang tidak bisa mengenainya karena kemampuan dari pengalaman tempurnya itu.


Baihu bersiap kembali melakukan serangan, dia meningkatkan kekuatannya mencapai puncak alam langit dan menggunakan jurus Matahari dan Bulan ke 8 dengan ganasnya. Serangan Baihu semakin lama semakin gencar dan mengganas, jendral Zhu Cen tampak semakin kewalahan menghindarinya.


Baihu mempercepat gerakannya, kekuatan tidak akan bisa menang tanpa kecepatan. Mata jendral Zhu Cen terkejut saat melihat Baihu menjadi lebih cepat dari sebelumnya.


BUGH... BUGH...


Dua pukulan Baihu mampu bersarang dengan telak di dada dan perut jendral Zhu Cen dan membuatnya terpelanting ke belakang menabrak pohon di belakangnya hingga hancur.


Jendral Zhu Cen menyeringai sambil membersihkan darah di sudut bibirnya, “Aku harus menahan Baihu sambil menunggu bala bantuan datang” gumamnya dalam hati.


Jendral Zhu Cen sengaja memperlambat tempo pertempuran agar bisa menunggu bantuan dari jendral Mao Shan dari kota Beidu. Namun sayang, rencananya itu telah diketahui oleh Baihu. Baihu tidak ingin lagi menyia-nyiakan waktu melawan jendral Zhu Cen. Dia segera mengeluarkan jurus ke 9 Matahari dan Bulan Bersatu untuk menyelesaikan pertarungan itu.


Mata jendral Zhu Cen melotot melihat lingkaran Yin dan Yang telah mengurung tubuhnya. Dia tidak dapat menggerakkan tubuhnya karena tekanan jurus dan kekuatan Baihu. Baihu kemudian mengerahkan jurus itu ke arah jendral Zhu Cen.


Mata jendral Zhu Cen melotot keluar dari kelopaknya karena merasa kesakitan. Tubuhnya terasa diiris-iris oleh kekuatan dari jurus Matahari dan Bulan Bersatu. Mulutnya menganga, pikirannya melayang sesaat sebelum pandangannya mulai gelap.


BUMM...


Ledakan itu menghancurkan tubuh jendral Zhu Cen menjadi beberapa bagian hingga tidak bisa dikenali kembali. “Sungguh jurus yang mengerikan.” Mata para prajurit bergidik melihat jurus yang dikerahkan oleh Baihu melenyapkan jendral Zhu Cen.


“Kalian pasukan jendral Zhu Cen memiliki dua pilihan, bergabung dengan kami di kota Mengsu atau bergabung dengan kami di kota Emas ini.” kata Baihu pada pasukan jendral Zhu Cen yang menyerah.


Akhirnya sebagian diantara mereka ingin kembali ke kota Mengsu dan sebagian lagi mengikuti Baihu mempertahankan kota Emas.

__ADS_1


Ketika mereka hendak kembali ke kota Emas, tampak debu mengepul dari arah utara kota Emas menuju ke arena peperangan itu.


“Bersiaplah untuk menghadapi serangan berikutnya,” teriak Baihu memberikan aba-aba. “Bawa kembali yang terluka ke dalam benteng kota, pasukan panah bersiap kembali.”


Seluruh orang telah bersiap menyambut serangan dari arah utara dimana pasukan jendral Mao Shan sudah mendekati perbatasan kota Emas.


Tiba-tiba dari arah kota Mengsu tampak debu mengepul di kejauhan membuat mata Baihu berkedut, “Siapa mereka? Apakah lawan atau kawan?” gumamnya.


Baihu meminta teman-teman sektenya bersiap untuk segala kemungkinan yang bisa terjadi.


Setelah mendekat, akhirnya Baihu tampak lega karena dari arah barat kota Mengsu yang datang adalah teman-teman sekte Teratai Suci dan juga sekte Matahari Bulan yang berhasil merebut kota Mengsu.


“Ah, syukurlah mereka yang datang bergabung.” Baihu merasa senang.


Wang Mei terlihat berkuda di depan mendampingi ketua sekte Matahari Bulan bersama Zhou An dan beberapa murid sekte lainnya. Baihu tersenyum melihat mereka tidak terluka dan segera bergabung kembali ke kota Emas.


“Kita bersiap menghadapi serangan dari utara,” teriak Baihu setelah memastikan yang datang dari barat adalah teman-teman mereka.


Dari arah utara pasukan yang datang lebih besar dari pasukan jendral Zhu Cen dari kota Mengsu. Hal ini dikarenakan kota Beidu berada di perbatasan utara, sehingga kekuatn pasukannya lebih besar untuk menjaga perbatasan dan mengatasi apabila ada serangan lawan dari wilayah kerajaan utara.


Debu mengepul karena pasukan berkuda dari kota Beidu dan ribuan pasukan tombak bersama pasukan panah mengikuti di belakang mereka.


Jendral Mao Shan memimpin pasukannya dengan menunggangi kuda berwarna putih dan tombak baja miliknya. Dia mengangkat tombak miliknya menghentikan pasukannya. Lalu dia menyipitkan matanya melihat panji dan bendera kota Mengsu telah jatuh di tanah, demikian juga panji-panji kerajaan Gurun Barat.


“Zhu Cen bodoh! Dia tidak menunggu kedatanganku dan akhirnya dikalahkan oleh musuh,” jendral Mao Shan menggertakkan giginya. Wajahnya berubah gelap menahan amarahnya yang meluap.

__ADS_1


Dia memandang pada sosok yang menunggangi harimau di depan pasukan lawan. “Diakah yang bernama Baihu?” gumam jendral Mao Shan menyipitkan matanya ke arah Baihu.


__ADS_2