BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga

BAIHU (Pendekar Harimau Putih) : Menantang Naga
BAB 113 | Bertemu lelaki tua misterius


__ADS_3

Akhirnya beberapa kapal pasukan air bangsa Lato yang tersisa berbalik arah dan kembali menuju lautan untuk pergi ke wilayah kerajaan bangsa Lato.


Baihu merasa lega bisa mengusir bangsa Lato dan membebaskan kerajaan Pesisir Laut Selatan dari pendudukan bangsa Lato.


Seluruh pasukan kerajaan Gurun Barat dan penduduk Pesisir Laut Selatan bersorak senang melihat kemenangan mereka. Mereka pun kembali ke kota asal masing-masing dan memulai perayaan kemenangan.


Baihu bersama Wang Mei dan Zhou An mengantarkan Raja dan Ratu kerajaan Pesisir Laut Selatan kembali ke ibukota kerajaan. Dalam perjalanan ke ibukota mereka dengan mudah mengalahkan para penjaga di setiap kota hingga ibukota kerajaan.


“Yang Mulia, terima kasih atas bantuan kerajaan Gurun Barat melawan bangsa Lato sehingga kerajaan Pesisir Laut Selatan bisa direbut kembali dan rakyat merasa senang.” kata Raja Pesisir Laut Selatan sambil memberi hormat pada Baihu.


“Yang Mulia Raja, sudah kewajibanku untuk membantu kerajaanmu. Putri Zhou An adalah teman kami, jadi tidak perlu terlalu sungkan.” sahut Shen Long


Wajah Raja dan Ratu merasa senang mendengar hal itu. Mereka melirik ke arah putri mereka Zhou An yang wajahnya menunduk merona. Kedua orang tua mereka mengerti arti wajah itu dan mereka pun senang dalam hatinya.


“Yang Mulia, ada permohonanku padamu. Aku harap kamu bersedia mengabulkannya,” kata Ratu Pesisir Laut Selatan.


“Katakanlah Yang Mulia Ratu, aku akan berusaha memenuhinya semampuku,” sahut Baihu.


Kedua orang tua Zhou An saling memandang lalu menatap ke arah Baihu sambil bersama-sama memberi hormat kembali.


“Yang Mulia, tolonglah jaga putri kami bersamamu. Kami akan sangat bahagia melihatnya berada disisimu yang pasti bisa melindunginya,” kata Ratu sambil tersenyum.


“Ibu!” Putri Zhou An berteriak terkejut dengan permohonan ibunya. Wajahnya menjadi semakin memerah. Jantungnya menjadi berdegup kencang menunggu jawaban dari Baihu.


Mata Baihu berkedut karenanya. Mata Wang Mei juga berkedut. Baihu merasa tidak tahu harus menjawab apa saat ini. Hal ini sama saja dia dilamar oleh kedua Raja dan Ratu itu secara tersirat.


Wajah Baihu menjadi merah. “Yang Mulia Ratu, Putri Zhou An adalah teman kami. Kami pasti akan melindunginya.” sahut Baihu sambil menundukkan wajahnya.


“Hahaha... aku merasa tenang jika demikian.” Raja tertawa senang mendengar kata-kata Baihu. Meskipun Baihu tidak menyiratkan menerima lamaran itu, tetapi dia juga tidak menolaknya. Jadi Raja dan Ratu tidak berani menekannya lebih lanjut. Baihu adalah penolong mereka, sangat tidak sopan jika memaksanya untuk mengikuti kehendak pribadi mereka.


Setelah mengadakan perjamuan kecil, Baihu lalu berpamitan pada Raja dan Ratu Pesisir Laut Selatan bersama Wang Mei. Sementara Zhou An masih ingin bersama kedua orang tuanya terlebih dahulu sebelum kembali ke ibukota kerajaan Gurun Barat.


Dalam perjalanan kembali, Baihu mengendarai harimau Sunu bersama Wang Mei. Wajah Wang Mei terlihat bersungut dan terdiam sepanjang jalan. Baihu merasa kikuk dengan situasi itu.


“Kakak Wang, kita pergi ke arah mana?”


Wang Mei mendengus dingin. “Pulangkan aku ke rumah orang tuaku.” sahutnya kesal.

__ADS_1


“Kota Persik?”


Wang Mei diam tidak menyahut pertanyaan Baihu. Mata Baihu berkedut melihat sikap Wang Mei dan merasa udara sekitarnya menjadi dingin. Dia pun tidak berani berbicara apa-apa lagi.


ROOAAARRR...


Tiba-tiba Sunu berhenti sambil mengaum. Bulu kuduknya berdiri merasakan suatu yang beraura kuat mendekatinya. Baihu pun merasakan aura yang sangat kuat mendekati mereka.


Seseorang lelaki berwajah tua terlihat melayang di udara menatap ke arah Baihu. Wajahnya menatap Baihu dengan tatapan tajam.


RRRRR....


Sunu meneggeram dengan mata menatap erat ke atas. Sunu merasa gelisah dengan tekanan kekuatan yang dipancarkan oleh lelaki tua itu.


“Siapa orang tua ini? Mengapa auranya begitu kuat menekan Sunu,” batin Baihu


Wang Mei juga merasakan tekanan dari lelaki tua itu, dia merasa tubuhnya gemetar ketakutan oleh tekanan yang dipancarkan lelaki tua seperti halnya Sunu.


“Kakak Wang, pergilah bersama Sunu kembali ke ibukota kerajaan. Aku akan berbicara dengan orang itu,” bisik Baihu.


“Kamu tidak apa-apa?” Wang Mei merasa khawatir pada Baihu. Namun Baihu tidak menjawabnya, matanya masih menatap pada lelaki tua yang melayang di udara.


“Tetua, ada perlu apakah bertemu denganku?” tanya Baihu padanya.


Lelaki tua itu tidak menjawab pertanyaan Baihu, namun matanya masih terus melekat padanya dengan tatapan yang tajam. Baihu berusaha menenangkan dirinya, dia menduga lelaki tua ini tentu sedang mencari dirinya.


“Baiklah, jika bukan untuk bertemu denganku. Aku mohon diri.” Baihu segera melayang melewati lelaki tua itu tanpa mempedulikannya.


“Berhenti!”


Baihu menghentikan tubuhnya yang melayang dan membalikkan badannya menoleh ke arah lelaki tua itu. “Tetua berbicara denganku?”


“Apakah kamu tahu siapa yang membunuh kedua muridku?”


Wajah Baihu tertegun mendengar pertanyaan tetua itu. “Murid? Siapa kedua murid tetua?”


Lelaki tua itu mendelik ketika mendengar pertanyaan Baihu. Dia merasa tidak senang dengan hal itu. Tatapannya menjadi tampak semakin kesal pada Baihu.

__ADS_1


“Xu bersaudara. Apa kamu mengenal mereka?” Lelaki tua itu menyebutkan nama kedua muridnya.


“Oh, jadi kedua orang tua itu murid dari tetua?” Baihu menjawabnya dengan polos.


“Apakah kamu yang membunuh mereka?”


Lelaki tua itu menyipitkan matanya setelah jawaban Baihu yang seperti mengenal muridnya.


“Benar. Kedua muridmu gugur dalam peperangan.” sahut Baihu dengan santai.


‘Lancang!”


Lelaki tua itu melambaikan tangannya ke arah Baihu. Selarik cahaya terbang menyerang Baihu dengan cepat. Baihu yang telah waspada segera menghindari serangan tersebut kemudian bersiap untuk melawan.


Cahaya itu melesat melewati tubuh Baihu dan membabat pepohonan yang ada di belakangnya hingga terpotong.


“Kekuatan lelaki tua ini sungguh mengerikan,” batin Baihu


“Tetua, jika kamu tidak ingin murid-muridmu mati dalam peperangan. Sebaiknya suruh di rumah saja. Jangan biarkan dia pergi ikut berperang.” cibir Baihu.


Mata lelaki tua itu berkedut mendengar perkataan Baihu. Tubuhnya mengeluarkan aura yang semakin meningkat dan mendengus marah.


“Kamu mengajariku?”


Lelaki tua itu langsung bergerak dengan cepat ke arah Baihu. Beruntung Baihu telah waspada dan siap untuk melawan. Baihu segera menghindari serangan dari lelaki tua itu.


Wajah lelaki tua itu menjadi semakin jelek setelah dua serangannya berhasil dihindari oleh Baihu. Lelaki itu membalik badannya lalu menggerakkan kedua cakarnya mengarah ke tubuh Baihu. Tekanan kekuatan cakar itu disertai desiran angin panas yang menyengat tubuh Baihu.


Namun Baihu yang telah mengerahkan kekuatan maksimal langsung menghadang serangan cakar itu dengan pedang naga miliknya.


Trang! Trang!


Suara seperti besi beradu terdengar ketika cakar lelaki tua itu berhasil ditangkis dengan pedang naga oleh Baihu.


“Kekuatan cakar yang luar biasa.” Baihu bergumam dalam hatinya.


Lelaki tua itu seperti tidak kelelahan dalam puluhan jurus belum berhasil menyentuh tubuh Baihu, sehingga wajahnya menjadi semakin kesal.

__ADS_1


Baihu lalu melompat mundur dua langkah ketika dia merasa lelaki tua itu semakin gencar menyerangnya.


“Tetua, maafkan aku jika bertindak kasar padamu.” Baihu kini bermaksud untuk memberikan perlawanan pada lelaki tua itu


__ADS_2