
Mata lentik itu mengerjap-ngerjap, menyesuaikan pandangannya yang terasa buram.
"Mommy" satu suara lembut yang membuat Rosella tersadar sepenuhnya.
Axel memegang lembut tangannya, menunjukkan kekhawatiran diraut wajahnya.
"silahkan dok" terdengar suara diseberang sana, sontak Rosella menoleh kearahnya.
Alden sedang berdiri mempersilahkan dokter yang baru saja tiba, bahkan ia rela menembus derasnya hujan karena Alden Mahendra Siregar yang memintanya langsung.
Dada Rosella masih sesak mengingat kejadian beberapa saat yang lalu, oh bahkan Alden sudah menikah, dan seharusnya ia senang bukan.
Toh, dia sendiri yang memilih untuk pergi.
"saya tidak apa-apa dok" ucap Rosella ketika dokter itu hendak menyentuhnya.
"tapi Bu" ucap dokter itu melirik Alden.
Sungguh kesal sudah Alden, wanita itu sungguh tidak mengerti betapa Alden mengkhawatirkan dirinya.
"Periksa saja dok" tegas Alden.
"tidak mau!"
"jangan keras kepala!"
"aku--"
"Mommy! Daddy! jangan bertengkar" ucap Axel menengahi, lalu ia menatap Rosella dalam-dalam.
"Mommy harus diperiksa, Axel nggak mau Mommy kenapa napa" ucap Axel yang membuat Rosella mengangguk perlahan.
Dokter itu memeriksa detak jantung Rosella, suhu tubuh dan menanyakan keluhannya.
"Sepertinya ibu kelelahan, kurang tidur, dan kurang makan, tekanan darah ibu juga rendah" ucap dokter panjang lebar.
Kurang tidur?, memang hampir setiap hari Rosella hanya tidur beberapa jam saja karena harus bekerja dimalam hari dan menjaga Alron disiang hari dan sudah pasti lelah tidak sempat makan, pokoknya tubuhnya terasa remuk setelah diguyur hujan.
"periksa bekas luka diperutnya dok" ucap Alden tiba-tiba.
Rosella membelalakkan tak percaya, bagaimana Alden tahu ada bekas jahitan pada perutnya.
"ka-kamu yang menggantikan bajuku" ucap Rosella yang baru menyadari jika telah berganti pakaian.
"iya!"
"permisi Bu" ucap dokter hendak membuka kaus Rosella.
"jangan sentuh saya!" ucap Rosella meninggi "ini sudah tidak apa-apa".
"ba-baik" ucap dokter itu terdiam seketika.
"Resepkan obat saja untuk nya dok" ucap Alden kemudian mengantarkan dokter itu untuk keluar kamar.
"Axel tahu ponsel Mommy nggak?" tanya Rosella mencari-cari benda pipih itu disekitarnya, ia melihat jendela yang menunjukkan langit sudah mulai menggelap, Alron pasti sudah mencarinya.
"dibawa Daddy paling" ucap Axel menguap, bahkan ia sampai mengantuk mendengarkan perdebatan Mommy dan Daddy nya.
"apa?"
__ADS_1
"kamu mencari ini" ucap Alden yang tiba-tiba sudah memasuki kembali ruangan itu dengan menenteng ponsel yang terlihat basah kuyup itu.
"ini" ucap Alden melemparkan nya pada ranjang, dan pergi darisana.
Rosella hampir saja menangis melihatnya, bagaimana ia menghubungi Alron jika ponselnya mati begini, ia tetap berusaha menyalakan ponsel itu meskipun tidak ada hasilnya.
Ia menatap gelapnya langit diluar sana, lalu beralih menatap Axel yang ternyata sudah terlelap disampingnya.
Rosella menuruni tempat tidur lalu dengan ragu ia keluar dari kamarnya, ia menuruni tangga dan mencari-cari kehadiran orang disana.
Dimeja makan terlihat Alden, Andre, Neta dan juga wanita tadi sedang duduk.
"Ros" ucap Neta yang membuat semuanya menoleh kearah Rosella "aku baru saja mau ambilin makan buat kamu" ucap Neta segera menghampiri Rosella.
Rosella tidak kuat, ia tidak bisa melihat Alden bersama orang lain, kini bukan cuma tubuhnya yang remuk, hatinya seperti hancur lebur tak tersisa.
"ta" lirih Rosella.
Neta tiba-tiba memeluk Rosella "kamu kemana aja?" ucap Neta yang tiba-tiba menangis, ketika melihat hancurnya sahabatnya itu tanpa Rosella.
"aku nggak kemana-mana, aku tinggal didekat sini" ucap Rosella memegang lengan Neta, kenapa malah Neta yang menangis.
"ta, aku harus pulang" ucap Rosella kemudian.
"kenapa harus pulang?, disini aja" ucap Neta, "kamu nggak mau bicara dengan Alden dulu".
Rosella tersenyum kecut menatap laki-laki yang sepertinya tidak memperdulikannya itu, apa lagi yang harus ia bicarakan, mereka kan sudah memiliki kehidupan masing-masing.
Alden sudah memiliki keluarga kecilnya.
Rosella menggeleng, ia benar-benar tidak sanggup berbicara tentang itu.
"Ros, duduk dulu" ucap Andre mendekati mereka "makan dulu setidaknya".
Karena Neta dan Andre terus memaksanya Rosella terpaksa duduk terlebih dahulu bersama mereka.
Uluran tangan dari wanita itu membuat jantungnya berdegup, ia terlalu sempurna untuk dibandingkan dengan dirinya.
"Namaku Lisa" ucap Lisa memperkenalkan diri.
"Ro-rosella" ucap Rosella kemudian berjabat tangan.
"Ros, Lisa itu temen aku" ucap Neta menjelaskan.
Rosella paham, ia teman Neta dan sekarang menjadi istri Alden.
Alden yang sedari tadi sibuk, entah menggoreng apa?, akhirnya menghampiri mereka dan menaruh sepiring omelet di depan Rosella.
"makan" ucapnya kemudian duduk disebelah Rosella.
Rosella mengamati menu yang tersaji disana memang hanya olahan seafood saja.
Tapi mengapa Alden serepot ini, kan seharusnya ia menjaga perasaan istrinya bukan.
"yasudah makan dulu saja" ucap Andre.
"iya bicaranya nanti aja" ucap Neta kemudian.
Makan malam ini hanya diselimuti oleh keheningan saja, Rosella hampir-hampir tidak bisa menelan makanannya karena hatinya begitu pedih.
__ADS_1
Entah mengapa setelah itu semua orang meninggalkan Rosella yang sedang mencuci piring, hanya Alden saja yang masih disana. mereka seolah memberikan dua manusia itu ruang untuk berbicara dari hati ke hati.
"aku harus segera pulang" ucap Rosella melepaskan celemek nya.
"masih hujan lebat diluar sana, ada beberapa pohon tumbang juga di wilayah villa, belum lagi petir"
Rosella mendengus kesal mendengar Alden yang menakut-nakuti dirinya "pinjam ponselmu sebentar" ucapnya menyingkirkan rasa malunya.
"untuk?"
"aku harus menghubungi seseorang" lirih Rosella merasa sesak saat mengingat Alron.
"ini" ucap Alden menyerahkan ponselnya.
Rosella segera mengambilnya dan sedikit menjauh, ia berdiri didekat jendela, kemudian segera menelepon anaknya.
"ini Mommy sayang" ucap Rosella.
Benarkan, Alron sudah menangis tersedu-sedu.
"Mommy kemana, Mommy pulang huuaaa"
"adek, adek dengerin Mommy dulu, disini hujan deras, sepertinya Mommy akan pulang besok pagi".
"nggak mau" lirih anak itu yang terus menangis.
"Sayang, diluar berbahaya, Mommy takut nanti kalo Mommy kebawa banjir gimana" ucap Rosella meyakinkan.
"kalo gitu Mommy pulang besok aja" akhirnya Alron juga takut mendengar perkataan Rosella.
"anak pintar, adek jangan nakal ya, Mommy besok langsung pulang kalo udah nggak banjir"
"iya, aku sayang Mommy" lirihnya yang sudah tidak menangis lagi.
"Mommy juga sayang sama adek".
tut!
"siapa?" tanya Alden yang ternyata sudah berdiri dibelakang Rosella.
Rosella berbalik dan betapa kagetnya ia melihat Alden "se-sejak kapan kamu disini" ucap Rosella takut.
"adek siapa?" tanya Alden "kamu sudah menikah lagi?"
Rosella mengerjap-ngerjap kan matanya "bukankah kamu juga sudah menikah lagi" ucapnya dengan bibir yang bergetar.
"mas, kenapa kita tidak bercerai saja?" ucap Rosella sesak, bahkan begitu nyeri saat ia mengucapkan kata-kata itu.
Dada Alden bagaikan ditusuk ribuan pisau "bercerai?" ucap Alden mengulangi kata-kata itu, matanya sudah memerah ia mencengkram erat pundak Rosella, menatapnya dengan rasa yang tidak bisa diungkap oleh kata, marah, kesal, emosi, rindu, cinta dan benci.
Rasanya benar-benar tidak karuan.
"aku tidak akan pernah menceraikan mu!"
.
.
.
__ADS_1
LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋💋💋💋💋