Bartender Cantik Ku

Bartender Cantik Ku
Sedikit lagi


__ADS_3

Malam ini rintikan hujan membasahi bumi, suara petir terdengar menggelegar di luar sana..


Namun kehangatan didalam rumah Alden seolah memancarkan cahaya tersendiri di malam gelap ini.


Ada tamu spesial yang membuat rumah ini bertambah ramai. Alden telah mengundang kedua sahabatnya untuk makan malam, merayakan kecil-kecilan atas dipertemukaannya ia dengan Rosella.


Empat cangkir teh hangat yang masih mengeluarkan uap putih mengepul itu tersaji diatas meja ditemani beberapa kue dan juga camilan lainnya.


Sedangkan anak-anak bermain dilantai atas dengan baby sitter nya.


"Aku senang melihat kalian seperti ini" ucap Neta menatap dua manusia dihadapan nya yang terus menempel satu sama lain.


Rosella tampak tersenyum malu karena itu.


"Aku juga senang ta, akhirnya kalian bersama" ucap Rosella mengingat dulu cinta Neta bertepuk sebelah tangan.


Neta mengangguk membenahi kata-kata itu "Semua ini tidak mudah Ros, dan beruntungnya kita berempat bisa berada disini setelah apa yang kita lewati bersama selama ini".


"Maafkan aku yang terlambat menyadari nya" sahut Andre mengecup kening Neta.


"Iya dan kamu dulu memilih Rosella daripada aku" ucap Neta yang membuat mereka terdiam.


"Sayang, aku-" ucap Andre terdiam ketika Neta malah tertawa renyah.


"Aku bercanda" ucap Neta kemudian meneguk teh hangat nya.


"Gimana udah isi belum, kan Alron sudah besar" goda Neta tersenyum.


"masih proses" jawab Alden santai.


"Kalo kamu udah ngelakuin itu dari awal ketemu lagi seharusnya sih udah, soalnya Alden kan gercep banget" Jelas Neta tertawa.


"Sedikasihnya saja" ucap Rosella bersandar pada pundak Alden.


"Aku sudah sangat menantikannya" ucap Alden mengusap rambut Rosella.


"Bagaimana jika kita juga proses buat adik untuk Aruna sayang" ucap Andre yang membuat Neta mendelik kesal.


"Nggak ada ya, Aruna baru berapa tahun mau kamu kasih adik" omel Neta panjang lebar.


Rosella dan Alden tertawa karena pertengkaran keluarga mereka.


.


.


.


"Apa yang kamu pikirkan Mom" ucap Alden yang baru saja memasuki kamar, namun mendapati sang istri sedang melamun, bahkan layar lebar yang masih menyala hanya ia tatap dengan kosong.


"Tinggal sedikit lagi, sedikit lagi Dad. . . sedikit lagi kita akan sangat sempurna dengan kehadiran anak ketiga kita" ucap Rosella yang tiba-tiba menangis, entahlah ia hanya ingin saja.


"Kenapa kamu menangis Mom, aku kan sudah bilang jangan mengingat hal-hal yang berada di masa lalu sekarang lihat saja ke depan, ada aku" ucap Alden segera merengkuh tubuh Rosella.


"Aku hanya ingin" ucap Rosella begitu manja. Alden tersenyum karena itu, sudah berapa lama ia tidak mendapati Rosella bersikap seperti ini.


"iya-iya" kata Alden mencubit gemas hidung Rosella" Lalu mengalihkan pandangannya pada dua anak kecil yang sudah terlelap diranjang.

__ADS_1


"Sepertinya ranjang kita tidak muat" ucap Alden terkekeh.


"Jangan alasan Dad, malam ini aku ingin tidur dengan anak-anak" ucap Rosella segera beranjak dengan memeluk bantalnya.


"Tapi aku peluk kamu ya, kita ditengah" ucap Alden semakin nyeleneh.


"Jangan ngawur" ucap Rosella segera bergabung dengan kedua putranya "atau kamu tidur sofa saja dad, sepertinya benar-benar sempit" ucap Rosella segera menutup tubuhnya dengan selimut, tidak mendengarkan rengekan Alden selanjutnya.


.


.


.


Sarapan pagi ini nampak lebih ramai, karena kedua orang tua Alden sudah berkunjung kesana pagi-pagi dengan alasan kangen dengan cucu-cucunya.


Ya, memangnya siapa yang tidak merindukan kegaduhan, yang selalu membuat seisi rumah ramai.


"Abang!".


"Adek!".


"Abang!".


"Adek!".


Kira-kira seperti itulah perdebatan yang selalu menyelimuti seisi rumah. "Abang, adek sudah, makan dulu jangan bertengkar terus" ucap Rosella dengan sepiring gurame bakar di tangannya.


"Wah, kamu pagi-pagi sudah masak gurame Ros" ucap Melinda takjub melihat Rosella menghidangkan berbagai macam makanan di meja.


"Hehe" Rosella tampak nyengir kuda "Sebenarnya bibi yang masak kok mah, Rosella kesiangan" ucap nya sungkan.


"Nggak papa Ros, jangan capek-capek kamu" ucap Melinda menyuapi pak Rahmono.


"Al" ucap pak Rahmono tiba-tiba.


"iya pah" jawab Alden segera meraih minumannya, karena papahnya jarang berbicara jika bukan hal yang penting. Dokter menyarankan untuk tidak banyak berbicara dulu selama masa pemulihan.


"Kamu mengembalikan rumah tante mu" tanya pak Rahmono, karena setelah kerumah Alden kemarin Sarah juga singgah ke rumahnya untuk meminta maaf.


"Iya pah, atas permintaan Rosella" sahut Alden tampak dingin.


Pak Rahmono tersenyum pada Rosella yang tengah lahap menyantap gurame itu, sesekali menyuapi Axel dan Alron secara bergantian.


"Dia benar-benar merubah segalanya" ucap pak Rahmono tersenyum, namun juga terharu mengingat kesalahan nya dulu.


"Pak, buk, ada tamu" ucap seorang ART yang baru saja datang.


"siapa bi" ucap Rosella tampak menikmati makanan nya.


"bibi nggak kenal, tapi katanya orang tua ibu" ucap nya yang membuat Rosella menghentikan pergerakan nya dan segera menatap Alden.


"Biar aku yang lihat" ucap Alden berdiri.


"Aku ikut dad" ucap Rosella menyusul.


"Habiskan makananmu dulu" ucap Melinda "nanti kita temui mereka" air mata tampak tak bisa tertahan ketika mendengar sahabatnya disini.

__ADS_1


Akankah Rini memaafkannya.


"Oma, siapa yang datang?" tanya Alron masih sibuk mengunyah.


"Nenek kamu" jawab Melinda tercekat.


.......


"Ibu, Ayah" ucap Rosella segera berhambur ke pelukan ibunya "Ros kangen" ucapnya dengan manja.


"Ros, malu sama anak-anak" ucap ibu segera menjauhkan tubuh Rosella. Rosella hanya mendengus kesal karena itu ibunya memang tidak ada manis-manisnya.


"Ayah apa kabar" ucap Rosella segera mencium tangan ayahnya disusul dengan Alden.


"baik nak" sahut ayah.


"Kenapa ayah sama ibu nggak bilang, kan bisa Alden jemput" ucap Alden.


"Alah, kayak sama siapa aja Al. Ibu masih inget jalannya kok" ucap Rini yang pandangannya teralihkan pada dua sosok mungil yang berlarian kearahnya.


"Axel, Alron" ucap ibu merentangkan kedua tangannya untuk memeluk cucu-cucunya, dan mensejajarkan tinggi tubuhnya.


"Nenek!" sahut mereka bersamaan dan segera balapan untuk menuju sang nenek.


"Ri-rini" ucap seorang yang sangat ibu kenali.


Rini mendongak menatap Melinda yang tengah mendorong kursi roda suaminya, air matanya sudah bercucuran.


"Melinda" ucap Rini segera berdiri "Apa kabar?" tanya Rini yang membuat Melinda segera memeluknya dengan erat.


"Rin, maafin aku" isaknya tak tertahankan.


Rini mengusap-usap punggung Melinda yang bergetar, mengingat kembali pertemuan terakhir mereka memang kurang baik.


"Jangan seperti ini Mel"


"Salahku banyak, aku bersalah hiks hiks. . . Riniii".


Melinda menumpahkan segala tangisnya pada sahabat karibnya.


"Aku juga bersalah Mel" ucap ibu ikut meneteskan air mata.


"Aku yang lebih salah Mel".


"tidak Rin".


Rosella dan Alden saling melemparkan senyuman ketika melihat itu semua, tangannya mendekap erat kedua anaknya.


.


.


.


TINGGAL PART-PART PENYELESAIAN, SEMOGA NGGAK BOSEN.


LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋

__ADS_1


__ADS_2