Bartender Cantik Ku

Bartender Cantik Ku
Tersiksa


__ADS_3

tok. . tok. .


Suara ketukan di kaca mobil membuat Rosella dan Alden saling memandang sejenak, kemudian menoleh pada sumber suara.


Rosella duduk kembali di kursi nya, karena terdapat dua orang laki-laki yang berdiri disana.


jika dilihat dari pakaiannya seperti preman, yang suka memalak orang ditengah jalan.


tunggu. . . inikan jalanan sepi. .


"biar aku yang keluar, kamu disini saja " ucap Alden .


"tapi Dad"


"jangan membantah" ucap Alden lalu keluar dari mobil, dua orang itu lalu tersenyum penuh arti.


"tinggalkan wanita itu bersama kami" ucap salah satunya.


"jangan bermimpi!" ucap Alden menyeringai.


"kurang ajar berani-beraninya!" ucap preman satunya yang langsung melayangkan tinju pada Alden namun berhasil ditepis nya.


Akhirnya Alden berkelahi dengan mereka, jika dilihat seperti nya dua orang ini sedang mabuk, karena terus meracau tidak jelas.


Preman salah satunya mengetuk jendela mobil yang membuat Rosella segera turun dengan santainya dari mobil.


"manis , ikut Abang yuk" godanya.


"cih, nggak Sudi" ucap Rosella geram dan langsung menendang preman tersebut hingga tersungkur.


"cari mati kamu!" teriak preman itu dan langsung bangkit menghajar Rosella.


Alden yang sedang berkelahi menoleh pada Rosella yang justru juga ikut berkelahi, bahkan Alden sudah menyuruhnya untuk diam di mobil. tapi tidak dihiraukan sama sekali.


bugh. .


Satu pukulan keras dari Alden hingga satu preman itu ambruk tak berdaya Alden lalu menghampiri istrinya, ia ganti menghajar preman satunya. .


Rosella tersenyum kecil saat melihat Alden begitu mahir dalam baku hantam, Alden sangat gagah saat otot-ototnya menyembul seperti itu. tanpa ia sadari preman yang dihajar Alden tadi sudah berdiri di belakangnya.


Rosella reflek menoleh dan hendak memukulnya namun kalah cepat. .


jleb. .


Rosella membelalakkan matanya seketika saat preman itu berhasil menusukkan pisau pada punggungnya.


"aw!"


"Ros!" Alden yang sudah berhasil menumbangkan salah satu preman itu, ia berlari menghampiri Rosella. dan begitu kaget setelah melihat darah bercucuran pada punggung Rosella.


"sakit dad" rintih nya yang hendak ambruk tapi untungnya Alden segera menopangnya.

__ADS_1


"Ros, bangun" ucap Alden menepuk-nepuk pipi Rosella.


Dua orang bertubuh besar dan memiliki perawakan yang tinggi tergopoh-gopoh berlari menghampiri mereka dan langsung menghajar preman tersebut.


"lambat!" bentak Alden pada kedua bodyguard nya, ia langsung membopong tubuh Rosella ke dalam mobil.


"maaf pak" ucap salah satunya mendekati Alden namun tidak dihiraukan.


.


.


.


"luka nya tidak terlalu dalam kok pak" ucap dokter yang menangani Rosella.


"apakah ada yang serius dok, anda sudah memastikan semuanya?" tanya Alden yang sangat khawatir dari tadi.


"tidak ada yang serius pak Alden. mungkin tadi Bu Rosella hanya syok saja jadi pingsan".


Setelah dokter tersebut keluar Alden menghampiri Rosella yang sudah sadar, ia tidur dalam posisi miring karena tusukan di punggungnya.


"kamu buat saya nggak bisa bernafas Ros!" sentak Alden , bukannya menenangkan malah kembali memarahi Rosella.


"aku nggak papa kok dad" ucap Rosella begitu lemah, karena bius yang diberikan sudah habis sehingga punggungnya terasa begitu nyeri.


"seharusnya kamu nggak usah keluar, itu sama saja kamu tidak mempercayai ku untuk melindungi mu!".


Alden menghela nafasnya,. ia mengusap puncak kepala Rosella "sudah malam ,jadi aku tidak mengabari siapapun. . . lebih baik kamu cepat tidur".


"jangan beri tahu ibu Dad" ucap Rosella.


"iya".


"maaf ya Dad menyusahkan mu".


"tidak perlu meminta maaf tentang apapun, yang penting mulai sekarang kamu harus menurut".


Rosella mengangguk , tangannya meraih rahang Alden lalu mengusapnya, terdapat memar pada sudut bibir Alden. "kamu juga terluka" ucap Rosella.


"ini masalah kecil" ucap Alden meraih tangan Rosella lalu mengecup nya.


"aku mohon menurut lah kepada ku, turuti setiap kata-kata ku" lanjutnya begitu serius.


"iya" Rosella mengangguk sembari mengusap air mata yang berjatuhan.


"jangan menangis , aku tidak akan memarahi mu lagi" ucap Alden mengusap pipi halus yang tergenangi air mata itu.


"aku menangis bukan karena itu"


"lalu?" tanya Alden mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"selama ini aku selalu berdiri diatas tubuhku sendiri, aku melindungi diriku sendiri, hiks. . . aku selalu mengobati luka ku sendiri" ucap Rosella sesenggukan mengingat ia tidak terbiasa menyusahkan ataupun bergantung pada siapapun selama ini.


CUP. .


Satu kecupan mendarat pada pipi putih Rosella, "mulai sekarang aku yang akan melakukan semua itu, itu adalah tugasku sebagai suamimu Ros".


"terimakasih" ucap Rosella menggenggam tangan Alden yang masih setia mengelus pipinya.


Waktu sudah menunjukkan pukul tengah malam, namun Rosella belum juga menutup netranya, punggung nya sungguh terasa ngilu dan nyeri.


Tapi ia tidak berani mengatakan pada seseorang yang sedang duduk disampingnya , Alden terlihat sibuk pada ponselnya.


"kenapa?, sakit?" tanya Alden saat melihat Rosella terus menggigit bibir bawahnya.


"sedikit" ucap Rosella memaksakan senyumnya.


"kata dokter memang akan sedikit ngilu setelah biusnya habis sepenuhnya" ucap Alden meletakkan ponselnya dan fokus pada wanita di depannya. "oh iya kata dokter kamu boleh melepas bajumu jika itu terasa menganggu" imbuhnya.


Dan benar saja, sebenarnya baju rumah sakit ini sedikit mengganggu ketika bergesekan dengan kulitnya yang terluka meskipun sudah diperban akan tetapi sangat tidak nyaman.


tapi aku tidak memakai bra, batin Rosella menjerit mengingat hal itu, karena ia tidak diperbolehkan memakai bra takut mengenai punggungnya yang terluka.


"mau lepas saja?" tanya Alden yang sudah berdiri, karena Rosella terus mematung.


"ti tidak usah"


"aku tidak akan macam-macam" ucap Alden yang sudah mengerti jalan pikiran Rosella.


Rosella menggelengkan kepalanya kuat-kuat, kemudian mengalihkan pandangannya ke sembarang arah "aku . . . aku tidak mungkin telanjang di depan mu" ucapnya begitu malu.


"telanjang?"


"sudahlah , aku baik-baik saja" ucap Rosella jengkel karena Alden tidak mengerti.


"aku tidak akan melakukan apapun terhadap mu, aku janji. . . lepas jika kamu merasa tidak nyaman" ucap Alden.


Rosella bukan menghela nafasnya "baiklah" ucapnya seraya melepaskan satu persatu kancing bajunya . . . ia hanya membuka tiga kancing saja kemudian menyingkap sedikit bajunya pada bagian yang terluka.


Alden menelan ludahnya saat melihat bahu yang begitu mulus dan menggoda untuk di jamah itu.


cukup, aku sudah tersiksa dari tadi . . . merendam hasrat yang belum tertuntaskan.


Alden menggelengkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah yang penting tidak menatap kesintalan tubuh Rosella yang membuatnya tersiksa.


.


.


.


Like komen and vote 💋💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2