Bartender Cantik Ku

Bartender Cantik Ku
Memperbaiki bersama


__ADS_3

"kamu berlebihan mas, aku hanya menjalankan tugasku dengan baik saja".


"aku sangat bangga padamu, istriku" ucap Alden begitu manis, pelupuk matanya sudah basah jika mengingat Rosella berjuang sendirian untuk menghidupi dirinya dan Alron, yang seharusnya itu adalah kewajibannya.


"ada satu hal yang yang membuat mu harus memaafkan ku mas" ucap Rosella menatap Alden, lalu mengusap mata suaminya yang sudah basah.


"apa, apapun itu aku akan memaafkan mu" ucap Alden mengecup tangan Rosella.


"Aku menjual cincin kawin kita" ucap Rosella dengan menundukkan pandangannya, tidak berani menatap manik mata Alden.


"kenapa?" tanya Alden , karena itu adalah hal yang ingin ia tanyakan semenjak kemarin, mengapa tangan Rosella begitu polos tanpa cincin yang melingkar di jari manisnya.


FLASHBACK ON


Rosella baru memasuki rumahnya ketika tengah malam, badannya remuk. Baru saja dua sebulan kemarin ia melahirkan namun sudah harus bekerja mengurus bar nya yang belum lama buka.


"Ros" panggil ibu yang tengah menimang Alron.


"iya Bu" ucap Rosella segera menghampiri mereka, melabuhkan ciuman manis pada puncak kepala putranya.


"tadi yang punya kontrakan kesini nagih uang kontrakan, kita udah dua bulan belum bayar" ucap ibu dengan ragu.


Namun Rosella tetap tersenyum, tidak akan membiarkan ibunya tahu jika ia sedang dalam kesulitan, uang tabungannya terkuras untuk biaya melahirkan "iya Bu minggu depan paling sudah ada uang nya".


"bar kamu rame?" tanya ibu lagi.


"iya, yaudah Ros mau mandi dulu" ucap Rosella segera ke kamarnya.


Rosella termenung dikamar nya, menatap cincin yang berada dijari manisnya, satu-satunya harta miliknya yang masih tersisa.


"maafkan aku mas" ucapnya mengusap cincin itu "anggap saja dengan ini kamu telah menafkahi aku dan Alron" lanjut nya terasa sesak.


Dan akhirnya ia memutuskan untuk mengadaikan cincin kawin yang ternyata nilainya ratusan juta itu. Untuk kebutuhan Alron, membayar kontrakan dan juga upah karyawan yang masih ia tunggakan.


FLASHBACK OFF.


"Kurang tiga bulan lagi, aku masih mencicilnya, setelah itu aku akan mengambilnya di pengadaian" ucap Rosella.


Alden mengusap air matanya "kenapa tidak menjualnya saja, seharusnya kamu menjualnya saja agar rasa salah ku sedikit berkurang" ucap Alden menggenggam tangan Rosella.


Rosella menggeleng "itu adalah kenangan satu-satunya yang aku bawa dari kamu saat itu, mana mungkin aku menjual nya".


Alden mengangguk "besok kita tebus, kita ambil cincinnya".


Rosella tersenyum kecut, memang bagi Alden uang dalam jumlah seperti itu tidak ada harganya di matanya.


Alden mengeluarkan dompetnya mengambil kartu kredit, lalu menaruhnya pada genggaman Rosella "ini kartu mu yang kamu tinggalkan dulu, aku selalu mentransfer nya setiap bulan, tidak pernah terlewatkan setiap bulan nya, pakai ini untuk apapun" ucap Alden begitu serius.


Rosella tahu jika ia menolak itu akan melukai harga diri suaminya "buat jajan Alron" ucapnya lalu menerimanya.


"Jajan Alron itu tanggung jawabku mulai sekarang, dia juga akan mendapatkan tabungan khusus seperti Axel, empat tahun . . . dan anggap saja sudah berjalan lima tahun".


"mass-"


"Jangan melarang ku, ini untuk masa depan putra ku, mari kita memperbaiki keluarga kecil kita bersama-sama".

__ADS_1


Rosella mengangguk, "baiklah, semuanya aku serahkan kepada mu".


"jadilah istri yang penurut" ucap Alden mencubit gemas hidung Rosella.


"massss"


"lepas kacamata mu, aku lebih suka menatap matamu secara langsung mom".


"aku sudah nyaman mengenakan ini" ucap Rosella tersenyum "aku hanya akan membukanya didepan mu".


"termasuk baju mu" bisik Alden menggoda.


Rosella memukul pelan dada suaminya yang mesum itu.


Deheman seseorang membuat mereka segera menoleh, dan menghentikan aktivitasnya.


"Mas Ihsan" ucap Rosella tersenyum sumringah.


"boleh duduk" ucap Ihsan yang memang belum menyapa Alden dengan baik dan benar.


"Mas Ihsan kenalin ini mas Alden suamiku" ucap Rosella.


"Ihsan".


"Alden".


"Ternyata Alron lebih mirip dengan Daddynya ya" ucap Ihsan tersenyum.


Alden juga ikut tersenyum karena itu "terimakasih" ucapnya karena merasa itu sebuah pujian.


"sudah mas".


"Syukurlah kalau begitu, mas harap kamu bahagia Ros" ucap Ihsan.


Rosella mengangguk "makasih mas, semoga pernikahannya mas Ihsan juga dilancarkan".


"Mas Ihsan mau menikah?" tanya Alden yang sebenarnya canggung memanggil laki-laki yang seumuran dengannya dengan kata-kata itu.


"iya Al, datang ya Minggu depan".


"pasti mas, saya juga ingin mengucapkan terima kasih saya, karena selama ini mas sudah menjaga istri dan anak saya" ucap Alden.


"itu sudah kewajiban ku sebagai kakak nya Al".


Benar kata Rosella, Ihsan sangat dewasa, tapi di lubuk hatinya yang terdalam ia tetap saja tidak rela jika istrinya berdekatan dengan laki-laki lain.


Setelah itu mereka berbincang ringan, Rosella meninggalkan mereka berdua agar lebih akrab.


.


.


.


"Mommy cama Daddy nggak boleh lama" ucap Alron mengerucutkan bibirnya ketika kedua orang tuanya sudah rapi hendak berpergian.

__ADS_1


"iya sayang" ucap Alden yang tengah menggendong tubuh mungil itu "Adek nggak boleh nakal ya".


Alron mengangguk "nanti kalo lama Allon malah".


Rosella mengusap rambut Alron "Adek harus jadi anak baik dong, Daddy sama Mommy kan mau jemput Abang".


"Sudah-sudah ayo Ron, ikut nenek biar Mommy sama Daddy mu cepat pergi nanti biar cepat baliknya".


Setelah perpisahan penuh drama, Alden dan Rosella pergi dengan sepeda motornya. Rosella menolak ketika Alden ingin memanggil supir saja agar menjemputnya.


Rosella ingin touring bersama katanya, mengingat jaman dulu waktu mereka pulang dari puncak untuk pertama kalinya.


Rosella memeluk erat perut Alden "serasa muda lagi ya mas" ucapnya menghirup udara dalam-dalam.


"kita memang masih muda, baru juga anak dua" ucap Alden yang tengah mengemudi.


"Rasanya waktu berjalan cepat sekali" ucap Rosella menyandarkan kepalanya pada punggung kekar suaminya.


"Baru kemarin ya mas rasanya kita seperti ini, dan ternyata dalam lima tahun itu benar-benar pelajaran yang luar biasa bagi kita".


"kamu belum tahu saja betapa beratnya hidup ku tanpa mu" ucap Alden mengusap-usap tangan Rosella.


"seberat apa?" tanya Rosella.


"sudahlah nanti aku tunjukkan" ucap Alden tersenyum kecut, bahkan ia tidak layak disebut manusia ketika Rosella meninggalkan dirinya.


Mereka menempuh perjalanan yang cukup lama, sebelum akhirnya langsung menuju sekolah Axel karena waktu sudah mepet sekali.


Rosella merapikan rambutnya yang berantakan, lalu melepaskan jaketnya "sudah cantik?" tanya Rosella menatap Alden yang juga melepaskan jaketnya.


"kamu selalu cantik di mataku" ucapnya tersenyum.


"serius mas, jangan gombal Mulu".


"serius sayang" ucap Alden mengusap bibir Rosella dengan jarinya "jangan terlalu tebal lipstik nya".


"ini udah tipis mas".


Mereka memasuki sekolah Axel, dan menuju ruang kelasnya.


Terlihat beberapa murid sedang berada di depan kelas bersama orang tuanya.


Tapi mata mereka hanya tertuju pada anak laki-laki yang duduk termenung sendirian, raut wajahnya begitu sedih ketika melihat teman-temannya bersama dengan kedua orangtuanya.


"Axel" panggil Rosella dengan bibir yang bergetar, kasihan sekali anaknya.


Axel mendongak, menatap dua orang yang ia kira tidak akan datang "Mommy" lirihnya lalu berhamburan memeluk Rosella.


.


.


.


LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2