
"katakanlah saya memang wanita penggoda dan tidak tahu malu telah menjadi istri dari Alden Mahendra Siregar. . . yang kastanya jauh berbeda dengan saya" ucap Rosella begitu serius, lalu ia beralih menatap Andre yang berada di depannya.
"Tapi pak Andre, saya tidak pernah memberikan harapan untuk anda. . . bahkan sebelum saya menikah dengan mas Alden, saya sendiri memiliki kekasih dan saya sudah mengatakan itu pada anda. . . saya tidak pernah memberikan celah untuk anda masuk" Rosella menghela nafasnya ketika melihat tatapan sendu Andre.
"Mungkin anda semua tidak percaya kalau saya menikah dengan mas Alden bukan karena harta, ataupun rupa. . . . saya menikah dengannya, karena hatinya juga karena anak kita, Saya jatuh hati ketika melihat bagaimana dia memperhatikan putra kita, saya jatuh hati ketika gumpalan es yang begitu keras melebur dan meleleh begitu saja" ucap Rosella tersenyum kearah Alden.
Lalu Rosella beralih menatap Andre "pak Andre. . . kami dijodohkan beberapa bulan yang lalu, dan saya yakin tidak ada niat sedikit pun untuk mas Alden mengkhianati anda, sahabatnya semenjak kecil. Kami juga tergesa-gesa melakukan pernikahan atas permintaan keluarga juga karena Axel yang terus menahan saya untuk terus tinggal dirumahnya".
"Maka dari itu saya ingin meminta maaf karena tidak bisa membalas perasaan anda pada saya" ucap Rosella menundukkan kepalanya.
Lalu Rosella beralih menatap orang-orang yang kini tengah memandangnya "dan untuk semuanya maaf karena hati tidak bisa dipaksa".
Alden ikut naik di atas panggung tiba-tiba, ia berdiri tepat dihadapan Andre "pukul aku ndre" ucapnya mantap, lebih baik Andre segera melampiaskan semuanya daripada harus menyimpan dendam pada dirinya.
Duuggghhhh!. . .
"brengsek Lo den" ucap Andre setelah melemparkan satu pukulan keras di tangannya.
Alden mengangguk "aku benar-benar tidak bermaksud mengkhianati mu, tapi aku tahu aku memang salah. . . jadi kamu berhak memukul ku" ucap Alden.
Duuggghhhh!. . .
Alden memegangi ujung bibirnya yang berdarah itu, tapi tak apa asalkan Andre bisa memaafkan dirinya.
"cukup!" teriak Rosella ketika Andre ingin melayangkan pukulan nya lagi.
"tidak semua salah mas Alden, aku juga bersalah" ucap Rosella menatap Andre.
"aku tidak bisa memukul mu Ros!" teriak Andre dengan emosi.
"tidak apa , lakukan jika itu bisa membuat mu lega"
"Ros" ucap Alden memegang lengan Rosella lalu menutupi Rosella dengan badan tegap nya.
"bgst!" umpat Andre lalu meninggalkan mereka, ia berjalan keluar bar dan disusul oleh Neta.
..........
"aw" rintih Alden saat Rosella mengobati luka pada bibirnya, Saat ini mereka sudah berada dikamar. semenjak kejadian tadi mereka langsung pulang dan membiarkan Andre untuk tenang terlebih dahulu.
__ADS_1
"sakit ya" ucap Rosella menatap ngilu pada luka Alden.
"lumayan" ucapnya lalu merengkuh pinggang Rosella.
"Dad aku tidak bisa bernafas" ucap Rosella memukuli punggung Alden karena memeluknya begitu erat.
"Ros, kamu jatuh hati saat gumpalan es yang begitu keras melebur dan meleleh" ucap Alden menaikkan sudut bibirnya.
Rosella memalingkan wajahnya ke sembarang arah, memutus kontak mata yang mematikan itu dengan Alden.
"jadi apakah benar kamu sudah jatuh cinta padaku" ucap Alden menarik dagu Rosella agar menatap matanya.
"menurut mu" jawab Rosella asal-asalan.
"sudah" jawab Alden mantap.
"percaya diri sekali" ucap Rosella yang pipinya sudah semerah tomat.
"harus"
Rosella beralih menatap Alden dengan serius, ia mengusap rahang yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu.
Alden menggenggam tangan Rosella "bagaimana tanda-tanda orang yang sedang jatuh cinta?" tanya nya lalu menempelkan tangan Rosella pada dadanya "apakah berdegup kencang seperti ini?" tanya dengan bibir yang terus tersenyum meskipun sebenarnya sangat gugup.
Rosella membelalakkan matanya tak percaya, merasakan degup jantung yang begitu kencang itu "kamu tidak sedang sakit jantung kan?" tanya Rosella yang membuat Alden terkekeh.
"Apakah jatuh cinta akan selalu memikirkan orang yang dicintainya, apakah jatuh cinta membuat selalu ingin menyentuhnya, dan satu lagi apakah jatuh cinta membuat aku selalu ingin memandangi wajah mu" ucap Alden menatap wajah Rosella begitu serius, jarak diantara mereka sangat dekat.
Rosella tergugup mendengar itu semua "bi bisa jadi seperti itu" jawabnya tertawa garing.
"kalau begitu jawabanku adalah" Alden mendekatkan bibirnya pada telinga Rosella "aku sudah mencintaimu Rosella" ucap Alden mengecup singkat pipi yang bersemu itu.
"aku selalu memikirkan mu" ucap Alden menatap Rosella begitu intens "aku selalu ingin menyentuh mu" lanjutnya dengan menempelkan dahinya dan menatap Rosella lebih dekat.
"dan aku suka memandangi wajahmu ketika hendak tidur maupun bangun tidur" ucap Alden jujur dengan apa yang ia lakukan selama ini tanpa sepengetahuan Rosella.
Rosella masih mematung mendengar semua pengakuan Alden, rasanya ingin terbang dan mungkin hatinya sekarang sudah berbunga-bunga.
"aku sempat mengira jantung ku sedang sakit" ucap Alden kembali menaruh tangan Rosella pada dadanya.
__ADS_1
"tapi aku berdegup kencang hanya ketika memandangi mu seperti ini, apalagi jika berkontak fisik dengan mu. . . . semua itu membuatku gila Ros".
Rosella menelan ludahnya kasar, masih tidak mengalihkan pandangannya pada mata tajam yang seolah menghipnotis dirinya.
"se-sejak kapan?" tanya Rosella.
"aku tidak tahu yang pasti semenjak tubuhku dan tubuhmu bersatu, dan rasa selalu ingin menjamah tubuhmu setiap waktu, bersatu dalam keringat sewaktu-waktu. . . aku semakin tidak bisa mengendalikan hatiku".
"kenapa baru bilang?" tanya Rosella.
"karena aku juga tidak tahu kapan".
"jangan-jangan itu hanya perasaan sesaat"
"kamu meragukan ku" ucap Alden lalu mencium Rosella begitu lama. . .
"aku hanya bisa berkontak fisik denganmu, dan sebelumnya jantung ku tidak pernah seperti ini" ucap Alden dengan polosnya.
Rosella tersenyum lalu mengusap usap dada bidang Alden yang masih terbalut kaos tipis.
"sepertinya disini memang sudah ada namaku" ucap Rosella.
Alden mengangguk "jangan pernah meninggalkan aku dan Axel" lalu ia kembali memeluk tubuh Rosella, rasa trauma ditinggalkan itu selalu ada , meskipun ia tidak memiliki rasa pada ibunya Axel, tetap saja patah hatinya Axel adalah patah hatinya juga. . .
Sebelumnya ia selalu melihat Axel melamun kesepian sebelum ada Rosella.
Rosella mengangguk "aku hanya bisa berdoa untuk itu".
Alden menelusupkan kepalanya pada ceruk pundak Rosella "lalu bagaimana dengan perasaan mu, Mommy?"
Rosella mengerjapkan matanya bingung "aku. . aku ehm. . . ".
.
.
.
LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋💋💋
__ADS_1