
"Mas, sakit" Dengan buliran keringat di sudut dahinya, Rosella mencengkeram erat lengan Alden.
Kontraksi itu datang berkala, kadang tiba-tiba menghantam, kadang juga hilang tanpa terasa apa-apa.
Jantung Alden benar-benar maraton hari ini. Tiba-tiba saja ia dihubungi jika Rosella akan melahirkan dan sudah berangkat ke rumah sakit.
Padahal seharusnya masih satu Minggu lagi. Ternyata begini rasanya sungguh luar biasa menegangkan. Belum lagi setelah sampai di rumah sakit ia harus melihat wajah Rosella yang kesakitan dan terus mengaduh padanya seperti ini.
Ya memangnya dengan siapa lagi ia merengek, toh membuatnya juga berdua.
Membantu Rosella berjalan memutari ranjang kesana-kemari. Memeluknya sesekali mengusap pinggul wanita itu.
Ternyata begini rasanya menjadi suami siaga. Tapi rasanya campur aduk tak karuan, ketika melihat Rosella mendesah kesakitan matanya ikut basah tiba-tiba.
Tidak menyangka kalau melahirkan akan sesakit ini. Iya, ini memang yang pertamakali untuk dirinya. Dulu, Jessica menolak untuk ia dampingi.
Mengecup bibir Rosella penuh sayang, andai saja ia dapat menggantikan rasa sakitnya. Lebih baik ia yang meringis kesakitan seperti ini. Tidak tega melihat Rosella yang seperti ini, apalagi ibu juga menangis melihat Rosella kesakitan.
Alhasil mamahnya yang menemaninya dan ibu disuruh pulang menjaga anak-anak dirumah.
.
.
.
Pukul setengah tiga dini hari pembukaan sudah sempurna. Bahkan tidak sedikitpun Alden memejamkan matanya, melihat Rosella seperti itu.
Entah sudah berapa lama mereka berada didalam ruangan bersalin ini. Cengkraman erat pada tangan Alden membuatnya begitu gugup.
Ia kecup mata istrinya yang sudah basah menahan rasa sakit "Kamu bisa Mom" ucapnya menguatkan, padahal dirinya sendiri sudah sempoyongan sedari tadi.
Berkali-kali Rosella mengejan menahan rasa sakit yang luar biasa. Perih, panas bercampur menjadi satu dibawah sana.
Berkali-kali itu juga hampir menyerah rasanya. Namun kata-kata Alden yang selalu membuat semangat nya kembali.
"Sebentar lagi sayang, sebentar lagi kita akan melihat putri cantik kita lahir di dunia ini dengan perjuangan mu yang luar biasa ini".
Menarik nafas dalam-dalam, ia benar-benar merasa sesuatu akan keluar dari bawah sana. Rosella menjerit dengan mengerahkan semua tenaganya.
"Aaaaaakkkkkhhhhh....!"
Detik selanjutnya ia benar-benar merasa sesuatu keluar dari bawah sana, yang membuat nyawanya seperti diombang-ambingkan. Rasanya sungguh luar biasa sakitnya.
Tapi, nafas yang hampir habis itu seolah kembali normal tatkala suara tangisan bayi begitu merdu menusuk telinganya.
Sedangkan Alden tidak berhenti menghujani wajah Rosella dengan ciuman. "Terimakasih, sudah menjadi istri dan ibu sehebat ini" Bahkan matanya sudah basah ketika kata-kata itu keluar dengan bibir yang bergetar.
Rosella mengangguk dengan lemah, ia selipkan senyuman pada sudut bibirnya, agar Alden tahu ia baik-baik saja.
Kenapa laki-laki yang begitu gentle ini mengeluarkan air mata sederas ini didepan para tenaga medis.
__ADS_1
"Wah cantiknya" puji seorang suster memperlihatkan bayi mungil dengan kulit putih halus, bibir merah, serta hidung yang mancung.
Alden kembali mengecup rambut Rosella, bukannya tersenyum malah ia menangis tersedu-sedu melihat bayi itu.
"Sayang, kamu hebat" ucapnya bergantian menatap Rosella dengan bibir pucat dan keringat membasahi tubuhnya.
"Mas, putri kita cantik" Jeritan dan rintihan itu seolah terbayar lunas ketika melihat luar biasanya karunia Tuhan yang dititipkan kepadanya.
.
.
.
"Amaranggana Monera Siregar" Jawab Alden pada seluruh keluarganya yang tengah memandangi bayi cantik terlelap dalam box bayi itu.
Bidadari yang bersinar terang di keluarga nya.
Rosella tersenyum simpul mendengarnya. Alden begitu antusias mencari nama bayi sejak bulan kedua ia mengandung.
Ibu berkaca-kaca melihat bayi mungil itu "Cantik, cantik sekali" pujinya begitu terharu. Sudah dua kali Rosella melahirkan namun tetap saja begitu menakutkan untuk nya.
"Bahagianya" ucap Melinda segera memeluk Rini. Kebahagiaan mereka lengkap sudah dengan hadirnya cucu perempuan yang begitu cantik ini.
"Biarkan Rosella istirahat dulu" ucap ayah yang ikut menunggui sejak dini hari tadi "Kita cari sarapan dulu".
Ibu mengangguk setuju, karena setelah mengantarkan Axel dan Alron ke sekolah ia langsung menuju rumah sakit tanpa sempat menelan apapun.
Kini hanya dua manusia yang memandang putri nya penuh cinta dan kebahagiaan. "Kamu tidur saja, biar aku yang menjaganya" ucap Alden sembari melabuhkan ciuman pada bibir Rosella.
"Tapi kamu pasti ngantuk dan capek kan" Mata Alden benar-benar tak bisa lepas dari putri nya.
Rosella menggeleng "Semua rasa itu melebur ketika melihat wajahnya".
Alden mengangguk membenarkan kata-kata Rosella, menoleh kearah Rosella lalu tersenyum lembut. Beberapa saat lalu wanita itu masih mengerang kesakitan.
Jujur saja melihat Rosella seperti itu hatinya seperti diaduk-aduk, dunianya terombang-ambing. Segera menggenggam tangan Rosella "Makasih ya, hadiahnya cantik banget. Mata dan hidungnya benar-benar milikmu semua".
Mendesah pelan entah mengapa Rosella tiba-tiba menjadi kesal "Tapi bibirnya sama persis dengan mu".
"Ya, memang anak ku" jawab Alden gemas dengan perkataan istrinya yang tak masuk akal.
Bibir Rosella manyun ke depan mendengar betapa percaya dirinya seorang Alden Mahendra Siregar.
Detik selanjutnya bibir Alden sudah mendarat sempurna pada bibir Rosella. Menggerakkan lidahnya dengan lembut.
CUP. .
Satu kecupan singkat setelah ciuman panas itu "Bagaimana?, kamu juga suka kan dengan bibirku"
Alden menaikan sudut bibirnya saat Rosella kalah berbicara.
__ADS_1
"Oeeek. . oeeek" tiba-tiba tangisan yang begitu nyaring membuat mereka menoleh secara bersamaan.
"Mas, kamu bisa gendong kan?" tanya Rosella yang mendapatkan gelengan kepala dari Alden.
"Panggil suster".
.........
Suster menyerahkan bayi cantik itu pada dekapan Rosella.
"Anak kedua kan Bu?" tanya suster.
"Iya sus".
Rosella segera membuka kancing bajunya, namun matanya tak berpindah menatap mata anaknya yang begitu indah.
Mata mungil itu mengerjap-ngerjap, rengekan kecil keluar dari bibir mungilnya.
"Kalau begitu sudah bisa ya Bu" suster membantu bayi mungil itu untuk mencari asi nya.
Rosella mengangguk mengusap rambut tipis yang begitu menggemaskan "Minum dulu ya sayang".
Alden yang duduk di sebelah Rosella terus tersenyum menatap putri cantiknya. Menyentuh jari kecil kemerahan itu "lucu ya" ucapnya benar-benar takjub.
"Pintar" puji suster ketika bayi tidak membutuhkan waktu lama untuk menyesap ASI Mommy nya.
Mungkin karena lahiran yang kedua Rosella merasa lebih santai. Dulu Alron malah susah sekali waktu pertama kali meminum ASI.
Tapi Rosella tidak ingin membahas itu dan tidak ingin merusak momen bahagia ini.
Namun Rosella salah sepertinya Alden sudah berpikir tentang itu terlebih dahulu "Apakah Alron dulu juga segampang ini untuk meminum ASI".
Rosella menggeleng "Mungkin karena dia laki-laki, nyusu nya lebih kuat. Apalagi jika ASI ku tidak keluar ia akan menangis kencang. Tapi itu hanya berlangsung sebentar dan itu juga hal yang wajar kata dokter" Rosella menjelaskan panjang lebar sembari mengusap rahang Alden yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus lagi.
"Oh ya, nama panggilan nya siapa mas?" ucap Rosella mengalihkan pembicaraan.
"Era".
"Era, boleh juga lucu".
"Boleh aku menciumnya" tanya Alden yang sudah sangat berdebar akan hal itu.
"Boleh".
Ciuman lembut serta penuh kehati-hatian melabuh pada kening mungil dan halus itu.
"Anak Daddy cantik sekali" puji Alden tersenyum lebar sekali, kebahagiaan ini benar-benar seperti mimpi baginya.
.
.
__ADS_1
.
LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋