
aroma maskulin yang menyeruak masuk dalam Indra penciuman Rosella membuat jantung nya maraton nya kesana kesini.
ia berkali-kali menghela nafasnya, agar detak jantung nya tidak terdengar oleh Alden. entah mengapa jantung nya seperti ini, namun sepertinya ini adalah hal yang normal ketika wanita berdua dengan laki-laki yang notabene nya tampan.
mereka berhenti tepat di lampu merah, sejak tadi hanya keheningan yang melingkupi mereka berdua. Rosella sedikit menggeser posisi nya namun Alden malah mencekal tangannya.
"tangan mu dingin sekali" ucap nya datar , lalu memasukkan tangan Rosella pada saku jaketnya. sungguh Rosella merasa aneh pada Alden yang bersikap diluar kewajarannya seperti ini.
"te terimakasih" ucap Rosella terbata.
Alden kembali melajukan motornya, Alden sendiri tidak habis pikir Rosella memilih bekerja dan pulang dini hari seperti ini. . . sepi, udaranya yang dingin.
Alden sedikit mengangkat bibirnya mengingat Rosella tidak ada anggun-anggunnya sama sekali pemberani, tomboi dan apa adanya berbeda sekali dengan ibunya Axel.
Rosella masih mematung ketika motor itu sudah menginjak kan di garasi rumah.
"apa kamu mau tetap seperti ini?" tanya Alden ketika Rosella tetap memeluknya dan tidak segera turun.
Rosella langsung gelagapan, "ehm maaf aku tertidur tadi". bisa-bisa nya ia memilih jawaban tak masuk akal seperti itu.
ia segera turun dari motor dan berlari memasuki rumah, sesampainya kamar ia langsung mandi . . .
ia bernafas lega ketika melihat Alden belum kembali ke kamar setelah ia mandi.
mengapa ia jadi salah tingkah seperti ini hanya karena sebuah pelukan, yang mungkin tak berarti bagi Alden. . .
Rosella membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut tebal, melupakan semuanya yang telah terjadi.
apa? bahkan dengan entengnya max menyuruhnya untuk meninggalkan Alden. . .
Alden memasuki kamar dengan segelas susu hangat ditangannya. . . namun ia menghela nafasnya ketika melihat Rosella yang sudah terlelap.
menaiki motor di pagi buta seperti ini sungguh membuat tubuh nya membeku sampai ke tulang-tulang nya. . ia sendiri heran pada Rosella bagaimana ia bisa berteman dengan angin pagi selama ini.
ia menyesap susu nya perlahan sambil terus memandangi wajah lelah Rosella.
__ADS_1
apakah ia bisa hidup dengan wanita ini selamanya. . ?
.
.
.
sudah hampir dua Minggu ini max terus memohon-mohon pada Rosella untuk kembali padanya. namun semuanya berakhir sia-sia Rosella selalu mengabaikannya. mungkin ia bisa saja mengabaikan kesalahan dalam bentuk apapun tapi kecuali penghianatan.
pagi ini hari Minggu Alden berada di rumah tentunya, ia sudah bangun sedari tadi. membaca koran sambil menemani Axel yang bermain dihalaman belakang. itu sudah menjadi kebiasaannya.
"Mommy!" teriak Axel saat melihat Rosella menghampirinya.
mata Alden menatap Rosella yang memakai daster rumahan serta rambutnya yang dicepol , masih terlihat wajah ngantuknya.
Rosella menghampiri Axel lalu mengangkat tubuhnya dan menghujani nya dengan banyak ciuman bertubi-tubi.
"Mommy hentikan Axel sudah besar" protes anal kecil itu tidak suka.
"Axel harus cepat gede, nanti biar bisa jagain adek"
"adek?" kening Rosella berkerut
"yes mommy" Axel turun dari gendongan Rosella dan segera menghampiri Alden.
"Daddy kapan Axel punya adek, Axel mau cepet punya adek bayi" rengek nya menarik-narik kaos Alden
"sayang, tidak semudah itu" tutur Alden memangku putranya.
"katanya Oma Axel suruh minta ke Daddy" ucap Axel mengerucutkan bibirnya.
"minta aja sama Mommy, kalo Mommy mu sudah siap Daddy akan memberikan nya" ucap Alden melemparkan pandangan nya pada Rosella.
Rosella menelan ludahnya kasar "dad, jangan berbicara sembarangan pada anak kecil" Rosella merebut Axel dari pangkuan Alden dan langsung menggendong nya.
__ADS_1
Axel lagi-lagi mengerucutkan bibirnya dengan lucu "Axel bukan anak kecil" ucapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
tanpa Rosella sadari tangan kokoh itu melingkar padanya yang sedang menggendong Axel, ia memeluk istri dan anaknya.
entah ada angin apa, ia ingin sekali melakukan ini dengan keluarga kecilnya sejak dulu.
"anak Daddy nggak boleh cengeng, nanti Daddy kasih adek" ucapnya enteng.
"dad" gerutu Rosella mengalihkan pandangannya pada Alden yang saat ini sangat dekat padanya bahkan hembusan nafasnya sudah sampai tengkuknya.
seketika tubuhnya merinding saat merasakan geleyar aneh itu. Alden laki-laki normal yang sudah memendam hasratnya bertahun-tahun , namun tetap saja ia akan mendekati Rosella pelan-pelan meskipun perasaan nya sendiri pun tidak jelas.
Melinda yang melihat dari balik pintu sampai meneteskan air mata, anaknya memiliki keluarga yang utuh. Alden adalah orang yang dingin namun dibalik sikapnya yang dingin ia juga membutuhkan kehangatan.
Melinda mengusap air matanya , ia segera menghampiri mereka.
"jangan dilepas" godanya pada Alden yang menjadi salah tingkah.
"mamah apaan sih" ucap Alden.
"itu ada Neta di bawah" ucap Melinda, Melinda merupakan sahabat Alden dari kecil. Alden , Neta juga Andre adalah sahabat kecil yang dekat dari dulu sampai sekarang.
Alden berlalu meninggalkan mereka begitu saja.
"rose Neta itu sahabat nya Alden , jangan cemburu ya" ucap nya pada sang menantu.
untuk apa?, batin Rosella, cemburu pun tidak ada gunanya jika keduanya tidak saling mencintai.
.
.
.
tinggalkan jejak gaessπππ
__ADS_1