Bartender Cantik Ku

Bartender Cantik Ku
Perang Dingin


__ADS_3

makan malam, dimalam ini terus di penuhi suara Axel yang tidak berhenti hentinya mengoceh. . .


sikap anak kecil itu menunjukkan perasaan bahagianya, karena keluarganya yang sudah lengkap mulai sekarang....


Alden sendiri sampai terheran heran, sejak kapan Axel begitu cerewet seperti ini. . . tapi saat melihat senyum dibibir mungil itu, ia pun juga merasakan kebahagiaan tersendiri.


berbeda dengan Rosella yang diam dan sesekali tersenyum pada Axel, ia masih canggung berada di tengah-tengah keluarga ini.


selesai makan semua keluarga berkumpul diruang tengah untuk menonton televisi, itulah kebiasaan keluarga Siregar selama ini.


Axel duduk dipangkuan Rosella, dan Alden duduk disampingnya.


"rose Alden mau ngomong" ucap Melinda melirik putra nya.


dan Rosella langsung mengalihkan pandangannya pada Alden " i iya mas Alden , ada apa ya?"


"maafkan saya jika saya melarang kamu untuk bekerja di bar". ucap nya hati-hati


Rosella mengangguk "iya nggak papa, aku ngerti kok"


"sebagai gantinya apakah kamu berminat meneruskan S2 mu, atau kamu berminat ingin bekerja di perusahaan papah. karena kamu masih sangat muda sayang jika masa muda mu hanya untuk mengurus Axel saja".


Rosella masih ling lung tidak bisa berkata-kata, pertanyaan ini terlalu mendadak menurutnya.


"ehmmm, sebenarnya aku tidak masalah mas apabila hanya mengurus Axel saja . . . tapi jika mas Alden berkata sedemikian, apakah mas Alden memberi ijin untuk keduanya" jawab Rosella.


"pilih salah satu saja!"


"Alden!" Melinda menegur Alden untuk tidak berbicara dengan nada tinggi.


"maaf" ucap Alden kemudian.


"apakah ada bidang yang cocok untuk ku bekerja di perusahaan papah" tanya Rosella.


"itu perusahaan suami kamu Ros, sudah papah alih namakan. . . jadi kamu bebas untuk memilih bagian apa saja" ucap pak Rahmono.


"beri saya pekerjaan yang cocok dengan jurusanku saja mas"


"desain grafis kan?, kamu bisa bekerja di bagian periklanan" ucap Alden.


Rosella membelalakkan matanya, bagaimana Alden tahu tentang jurusannya sewaktu kuliah.


"i iya mas, tapi apa boleh aku meminta satu hal lagi"


"apa?"


"ijinkan aku mengikuti pembelajaran desain grafis untuk satu bulan saja, aku takut mengecewakan jika nanti bekerja di perusahaan sedangkan kemampuanku masih jauh"


"baiklah hanya satu bulan saja, jadi kamu tidak perlu melanjutkan S2" ucap Alden.


"untuk sementara biarkan begitu saja Al , nanti kalo kalian sudah punya anak dan anak nya sudah besar biarkan dia melanjutkan S2 nya". Melinda menyela.


Alden dan Rosella tentu saja terkejut , anak?


mengapa mamahnya berfikir sejauh itu.

__ADS_1


"iya mah" jawab Alden pasrah.


.


.


.


pagi ini Rosella sudah berjanji untuk mengantarkan Axel untuk pergi ke sekolahnya.


"mau kemana?" tanya Alden pada Rosella, itulah pertanyaan satu-satunya yang ia ajukan padanya karena sedari kemaren ia hanya diam meskipun tidur diranjang yang sama.


"Axel minta dianter" ucap Rosella tak kalah cuek, ia hanya akan bersikap lembut ke Alden jika bersama orangtuanya dan Axel saja.


biarkan saja , ia yang memulai perang dingin ini. . .


ia tidak mau berbuat hangat hanya untuk membuat Alden meleleh, dingin harus dibalas dengan dingin ...


"dengan pakaian seperti itu" ucap Alden mengamati pakaian Rosella dari atas sampai bawah, ia mengenakan celana jeans ketat dan jaket Hoodie hitam tidak lupa sneaker nya, sejujurnya ya seperti inilah penampilan Rosella. . . sedikit tomboi , ia sudah terbiasa karena dulu ia seorang diri disini jadi harus bisa membentengi diri sendiri.


"iya kenapa malu?, aku hanya akan mengantarkan sampai gerbang saja". ucap sinis Rosella.


"bukannya begitu, kamu terlihat seperti kakaknya Axel bukan Mommy nya"


Rosella membelalakkan matanya tak percaya, namun ia sedikit menahan senyumnya.


"bapak takut orang-orang bilang saya anak bapak" ucap Rosella menantang.


"kamu panggil saya apa?!" tanya Alden tak terima.


"bapak Alden, ehm tidak aku panggil Daddy saja" ucap Rosella pergi meninggalkan Alden begitu saja.


.


.


.


dengan terpaksa Alden mengantarkan Axel ke sekolah dengan Rosella, padahal tadi ia sudah kekeh ingin langsung berangkat ke kantor saja dan Rosella juga tidak masalah mengantarkan Axel sendiri. tapi mamahnya selalu memaksa apa boleh buat.


mereka sampai disekolah Axel, terlihat begitu ramai karena siswa yang lain juga diantarkan orang tuanya berdatangan.


"Daddy kamu Anter Axel kedalam ya, aku tunggu sini aja" ucap Rosella. kini mereka sedang berdiri didepan gerbang sekolah Axel yang berstandar internasional itu, tentunya hanya orang beruang yang mampu masuk sekolah ini.


"what?, Daddy?" ucap Alden tak terima, entah mengapa Rosella sejak kemarin menjadi sangat menyebalkan.


Rosella mengangguk lalu berjongkok mencium pipi Axel "Axel masuk sama Daddy ya, Mommy tunggu sini".


Axel mengerucutkan bibirnya, "Axel mau Mommy sama Daddy antar kedalam".


Rosella menatap Alden , kemudian Alden mengangguk.


"yasudah ayo ,tapi senyum dulu dong"


Axel tersenyum lebar karena ria berniat memamerkan Mommy nya pada teman-teman nya. tangan kecil Axel dituntun Rosella dan Alden ,ia berjalan berada ditengah-tengah mereka.

__ADS_1


bahagia. . . mungkin kalimat itu hanya dirasakan oleh Axel saja saat ini tidak dua orang disampingnya yang terus bersiteru.


"selamat pagi pak Alden" sapa seorang guru Axel disana.


"pagi Bu" balasnya ramah.


"pagi ini ada yang beda ya pak" ucap guru itu melirik Rosella.


"i iya Bu"


"Mommy Axel masuk dulu ya" ucap Axel.


"Mommy? , jadi ini toh Mommy axel" ucap guru itu.


"iya Bu, saya Rosella" ucapnya memperkenalkan diri.


"panggil saya Irma, wah pantas saja keluar negeri ternyata masih muda ya".


Rosella dibuat bingung dengan perkataan guru itu, apa maksud nya?.


"iya Bu baru pulang kemaren" Alden yang menjawab.


"oh begitu, sepertinya pak Alden dengan bu Rosella ini menikahnya masih muda sekali ya"


"iya Bu" lagi-lagi Alden yang menjawab.


"tapi cocok kok pak , cantik sekali ternyata Mommy nya Axel"


"terima kasih Bu" jawab Rosella.


Axel mencium tangan Alden dan Rosella bergantian, ia segera menghampiri temannya dan memperlihatkan Mommy nya karena selama ini teman-temannya tidak percaya jika ia memiliki Mommy.


Alden menahan senyumnya karena melihat tingkah Axel, ia bisa mendengar jika ia sedang memamerkan Mommy nya meski jarak mereka sedikit jauh.


Alden dan rose berjalan beriringan menuju mobil, tapi beberapa wali murid terus memperhatikan mereka berdua.


"kenapa sih mereka lihatin kita mulu" gerutu Rosella.


"wajar saja, saya tidak pernah mengantarkan Axel dengan seseorang biasanya selalu sendiri" ucap Alden , kini mereka sudah berada didalam mobil.


"mereka pasti ngira aku baby sister Axel" ucap Rosella tanpa melihat Alden


"kenapa kamu berfikir seperti itu?" tanya Alden sedikit menyunggingkan senyumnya.


"penampilan aku, muka aku. . . sudah jelas aku tidak terlihat seperti istrimu dad"


"saya merasa sangat tua jika kamu memanggil ku seperti itu" Alden mulai melajukan mobilnya.


"kenapa tidak terima!" ucap Ros menantang


"keras kepala juga kamu ternyata". sahut Alden.


"aku akan memanggil mu mas jika kamu sudah mencintai ku, sesuai perkataan mu waktu itu kamu akan berusaha mencintai ku" ucap Rosella.


"jika saya belum bisa?"

__ADS_1


"aku akan memanggil mu bapak atau Daddy" ucapnya santai.


sejujurnya Alden sangat kesal dengan wanita disampingnya. . . keras kepala, pembangkang, semaunya sendiri.


__ADS_2