
"aku. . .aku akan mempertimbangkan nya" jawab Alden.
jawaban macam apa itu.
"sudahlah aku sedang malas berdebat" ucap Rosella mengambil jaketnya yang tergeletak di sofa, ia beranjak pergi dari sana.
"mau kemana!" tanya Alden yang terlihat tidak suka.
"aku akan menemui mamah sebentar, setelah itu pergi menemui sahabat ku" ucap Rosella tersenyum penuh arti.
"bukan kah kamu tadi bilang ingin merawat mamah?".
"sudah ada sahabat mu yang mengurus nya. . . aku juga merindukan sahabat ku" ucap Rosella tersenyum kecil.
"Ros , jangan kemana-mana. . . ba bagaimana jika nanti Axel bangun dan mencari mu" ucap Alden yang tetap ingin menahan Rosella dirumah.
"aku sudah menyuruh mbaknya untuk mengabari ku" ucap Rosella pergi begitu saja, karena Alden sangat bertele-tele.
Seharusnya Alden bisa kan mengatakan, jangan pergi aku ingin kamu disini. . . cih, berharap kata-kata itu dari manusia batu bagaikan hal yang mustahil.
.
.
.
Rosella memasuki kamar mertuanya, karena terbuka dan memang tidak terkunci. Melinda yang melihat mantu nya datang langsung tersenyum hangat pada Rosella.
"mamah, mana yang sakit mah?" tanya Rosella memegang tangan Melinda.
Melinda menggeleng "cuma butuh istirahat aja Ros, kamu baru dateng ya".
"iya mah, mas Alden baru bilang pagi tadi kalo mamah sakit"
"mamah udah suruh Alden supaya nggak bilang ke kamu, mamah nggak mau ganggu waktu kalian" ucap Melinda mengusap tangan Rosella.
"nggak lah mah, kan mamah lebih penting".
"Ros sini , mamah mau peluk kamu" Melinda merentangkan kedua tangannya, dengan senang hati Rosella memeluk wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya itu.
"makasih ya Ros , udah hadir di keluarga ini" ucap Melinda yang mulai menangis, karena baru kemarin hasil tes psikis Axel dinyatakan sembuh. tentu semuanya adalah berkat Rosella yang menyayangi dan merawat Axel begitu tulus.
__ADS_1
"iya mah" jawab Rosella mengusap punggung mertuanya.
Mata Melinda kembali beralih pada Alden yang baru masuk, ia tersenyum kearah putranya. Alden juga tahu jika Axel sudah sembuh.
Mereka melepaskan pelukannya, Rosella langsung berdiri ketika melihat Alden disana.
"mau kemana" ucap Alden lalu mendekap erat pinggang Rosella.
sial. . .
Alden tahu kelemahannya, ia tidak bisa menolak kontak fisik saat bersama dengan mertuanya.
"ehm. . .mamah seneng kalian semakin dekat" ucap Melinda tersenyum bahagia.
Rosella hanya memaksakan senyumnya dan mencoba sedikit menjauhkan diri dari Alden.
namun semuanya sia-sia.
tiba-tiba seseorang memasuki kamar itu, dan segera mungkin Rosella mendorong Alden tanpa sepengetahuan mamahnya.
"kalo gitu Ros, pergi dulu ya" ucap Rosella pada Melinda, dan dibalas dengan anggukan.
Neta yang baru datang terlihat sedikit kaget melihat Rosella disana, Rosella tersenyum kearah Neta lalu benar-benar pergi dari sana.
"nggak mah, Alden cuma capek aja".
"yaudah istirahat sana sama istri kamu" ucap Melinda yang membuat Neta membulatkan matanya seketika.
"istri" tanya nya.
"loh kamu belum cerita sama Neta, Al?" tanya mamahnya.
"sudahlah, nanti saja kalo Andre sudah pulang. . . aku malas mengulang cerita" ucap Alden berlalu dari sana.
Neta meletakkan nampan yang berisikan semangkuk bubur dan air mineral itu pada meja di samping Melinda.
"istri siapa sih tan?" tanya Neta.
"nanti aja, Alden pasti ngomong kok sama kamu".
Neta hanya mengangguk, karena yang ia tahu Melinda memang sering menjodoh-jodohkan Alden dan menyebut wanita yang dijodohkan sebagai calon istri.
__ADS_1
.
.
.
Lagu klasik dengan segelas kopi susu ditangannya, sekarang disinilah Rosella . .
di kafe dekat dengan rumah Alden ditemani dua sahabat nya.
"pengen nampol cewe itu sumpah!" ucap Mimi emosi mendengar cerita Rosella. sedangkan Renal masih saja ternganga tidak percaya bahwa Rosella mengatakan telah menikah.
"nal, Lo nyediain jasa tampol online gak?. . ." ucap Mimi yang benar-benar geram.
"tunggu deh, sampai sini gue masih belum paham?. . . Rosella Raharjeng yang katanya sohib sehidup semati sama gue , kenapa nikah nggak ngundang gue" ucap Renal menatap tajam pada Rosella.
Sedangkan Rosella hanya nyengir kuda mendengarkan Omelan Renal "maap nal" ucapnya menepuk pundak Renal yang terlihat kesal.
"kualat Lo Ros, sumpah kesel banget gue" ucap Renal menyesap secangkir kopi hitam pekat untuk menenangkan dirinya.
Sebenarnya bukan hanya kecewa, namun hatinya sedikit patah. . . bohong jika ia tidak melirik Rosella sebagai wanita. ia Laki-laki normal yang juga terpesona akan kecantikan natural yang dimiliki oleh Rosella, namun ia mengesampingkan rasa itu demi persahabatan nya yang sudah bertahun-tahun.
"jangan kan Lo nal, gue aja juga nggak diundang" ucap Mimi sambil memasukkan kentang goreng di dalam mulutnya.
"yaudah deh gue yang traktir hari ini, sebagai penebus dosa heheheh" ucap Rosella.
ia memang sering menggunakan kata lo-gue ketika bersama Renal, namun jika berdua dengan Mimi saja lebih nyaman menggunakan kata aku.
Renal masih menggeleng tidak percaya ia mendengus kesal "duda lagi, Ros. . Ros. . tau gini mending Lo nikah sama gue".
Rosella dan Mimi tertawa mendengarnya.
"biar Rosella digebukin sama tante-tante Lo" ucap Mimi mengingat penggemar Renal adalah tante-tante yang kesepian.
Renal mengabaikan omongan Mimi, ia beralih menatap ke Rosella "jadi Lo belum mantap-mantap kan sama dia".
Rosella yang sedang meminum kopinya, tentu saja tersedak saat ditanya hal itu.
"uhuk. . uhuk. . " Rosella terus terbatuk dengan pipi semerah tomat.
Mimi mengambilkan tissue untuk Rosella "udah nal, jangan godain dia terus" ucap Mimi.
__ADS_1
"belum" jawab Rosella menundukkan kepalanya.
"Apa?!!" teriak Mimi dan Renal secara bersamaan.