
Wanita dengan perut yang membesar ini berjalan penuh senyuman ketika semua karyawan menyapa dirinya.
Ternyata begini rasanya menjadi nyonya siregar. Setelah semuanya tahu dirinya adalah istri pemilik gedung ini, semuanya menunduk sopan padanya. Benarkan, harta dan kasta membuat dunia seolah tunduk pada kita.
Tapi tetap saja ini kurang nyaman bagi Rosella, lebih baik seperti biasanya saja.
“Ibu kenapa tidak biang jika ingin kesini?” Tanya Juna tergopoh-gopoh menghampiri Nyonya Siregar yang tiba-tiba sudah berada didepan ruangan Alden.
Rosella membalasnya dengan senyuman lalu mengangkat rantang susun yang sedari tadi di tangannya.
“Ada siapa di dalam?” tanya Rosella “Ada tamu ya?”.
Juna menelan ludahnya kasar, didalam sana sedang ada Vidiya yang tengah menyerahkan dokumen pada Alden.
Ya, Alden juga sudah bercerita padanya tentang keposesifan Rosella selama ia hamil. Bahkan Rosella selalu berpesan agar tidak pernah diruangan berdua saja dengan Vidiya.
“Tidak” Jawab Juna spontan, menggaruk tengkuknya karena takut salah berbocara.
Tangan lentik Rosella terulur mengetuk pintu kayu itu.
“masuk”.
Rosella tersenyum kecil mendengar suara dingin suaminya, membuka pintu perlahan tapi senyuman itu memudar seketika.
Alden tengah duduk bersama Vidiya dalam posisi begitu dekat. Sudah seperti tercabik-cabik di dalam sana. Alden refleks menjauh ketika melihat kehadiran istrinya.
“Sayang” panggil nya khawatir dan segera menghampiri istrinya.
Namun dahinya mengeryit heran ketika Rosella justru tersenyum manis padanya.
Rosella melengkungkan bibirnya sangat terpaksa, mengingat semua perjuangan serta pengorbanan Alden ia tidak ingin terlalu menuntut. Ia mencoba tegar dan tidak menjadi wanita lemah.
Sejujurnya ia juga takut jika Alden muak dengan kecemburuannya yang berlebihan ini.
“Aku bawa sup ayam kesukaan kamu” ucapnya masih dengan senyuman.
Alden segera mengambil rantang susun dari tangan Rosella. Mengecup keningnya lalu memberinya pelukan hangat “Kamu kok nggak bilang mau keisni”.
Menuntun Rosella menuju sofa “Kamu lanjutkan dengan Juna saja” ucap Alden pada Vidiya yang masih bergelut dengan lembar-lembar putih itu.
“Baik pak” jawab Vidiya segera berdiri merapikan tumpukan kertas itu.
Sial!
Mengapa ia selalu berpakaian seperti itu, belahan dadanya begitu nampak. Rosella melirik Alden yang ternyata matanya tertuju padanya. Alden sudah paham apa yang tengah dipikirkan sang istri.
“Permisi” ucap Vidiya menunduk sebelum akhirnya benar-benar pergi darisana.
Alden segera mengajak Rosella untuk duduk. Menggenggam tangannya “Kamu nggak berpikir macem-macem kan?”tanya nya menatap dalam pada Rosella.
Rosella menggeleng, segera menepis pikiran buruk yang bersarang pada otaknya “Tidak” ucap Rosella segera membuka rantang makanannya.
__ADS_1
Entah mengapa jawaban Rosella malah membuat Alden khawatir. Pasalnya yang biasa dilakukan Rosella adalah marah-marah lalu menangis sesenggukan, berujung Alden akan mengajaknya pada pergumulan ranjang yang panas untuk meredakan amarah istrinya.
“Yakin?” tanya Alden sekali lagi, membawa wajah Rosella agar menatapnya.
Dan Alden bisa melihat kesedihan dimata Rosella, meskipun bibirnya terus tersenyum.
Rosella menggeleng dengan setetes air mata yang tiba-tiba jatuh begitu saja tanpa permisi.
“Kamu bohong” ucap Alden segera membawa Rosella dalam dekapannya “Aku tidak melakukan apapun dengannya, tadi dia hanya bertanya tentang revisi dokumen. Makannya kita duduk berdekatan”. Entah sejak kapan Alden mulai merasa mejadi manusia paling peka di muka bumi ini.
Ia mulai belajar memahami maksud dan mau istrinya sejak kandungan Rosella berumur dua bulan. Karena selalu marah-marah tidak jelas dan ternyata alasanya hanya itu-itu saja, yaitu cemburu.
Rosella tidak menjawabnya malah semakin menelusupkan kepalanya pada dada bidang Alden.
“Mau bercinta?” tawar Alden karena biasanya itu akan mengembalikan mood ibu hamil ini.
“Nggak, kamu makan aja dulu” Rosella segera mengambilan makanan untuk Alden. Rosella juga mulai terbiasa dengan perkataan Alden yang begitu blak-blakan.
Alden tersenyum dan segera menyatap makanan itu dengan lahap. Sesekali memandangi wajah cantik istrinya.
Oh ya, semenjak hamil aura kecantikan Rosella benar-benar terpancar. Membuat Alden semakin cinta dan semakin ingin menelanjanginya bulat-bulat hahaha.
“Anak-anak pulang jam berapa?” tanya Alden sembari mengunyah.
“Ini hari sabtu, sebentar lagi juga pulang. Biar aku yang menjemput mereka bersama pak kus” Jawab Rosella masih dengan wajah masamnya.
“Kita jemput bersama saja, aku tinggal menyelesaikan beberapa dokumen saja. Hari ini aku akan pulang siang bersama kalian”.
CUP. . .
Alden mencuri satu kecupan pada bibir merah Rosella. Menaruh kotak makanannya yag sudah kosong.
“Masss” geruru Rosella dengan mata yang membulat.
“Apa Mommy” jawab Alden mengusap perut buncit Rosella “Dedek sudah makan belum?”.
“Sudah Daddy”.
“Makan apa tadi?”.
“Tadi dia pengen ayam geprek, jadi aku ajak mampir pak Kus ke rumah makan dulu tadi” jawab Rosella menyengir.
“Sudah ku bilang jangan kemana-mana sendiri. Bilang aku kalau mau apa-apa” ucap Alden khawatir.
“Tadi kan sama pak Kus, Daddy. Keburu ngiler kamu harus bilang kamu dulu” ucap Rosella mengelak.
.
.
.
__ADS_1
Setelah menjemput kedua anaknya Rosella dan Alden kini dalam perjalanan pulang menuju rumah. Axel dan Alron terus berceloteh disepanjang jalan.
“Mommy,mommy besok temen Abang mau kerja kelompok dirumah boleh?” tanya Axel yang tengah sibuk mengunyah keripik kentangnya.
“Boleh” ucap Rosella menoleh pada bangku belakang “Memang kamu nggak ikut Adek sama Daddy pergi memancing besok?” tanya nya.
“Nggak ah, bosen. Axel dirumah saja sama Mommy sama Adik bayi” Jawab Axel menghela nafasnya ternyata memancing begiti membosankan baginya. Tapi Daddy dan Adiknya sangat hobby dengan hal itu. Mugkin karena memang mereka suka berdiam diri lama-lama.
“Yah, Abang nggak asik” sahut Alron mencuri satu keripik kentang dari Abangnya.
Alden yang tengah mengemudi terkekeh mendengar perdebatan kecil keluarga kecilnya itu.
.
.
.
“Aw” rintih Rosella mengusap perutnya.
Alden yang baru saja terpejam langsung terduduk mendengarnya “Ada apa, perut kamu nggak enak lagi?” tanya nya begitu panik.
Kedua manusia itu masih tanpa sehelai benang, karena sebelum tidur siang mereka melakukan kegiatan panas terlebih dahulu.
“Iya” jawab Rosella lemah, kadang memang seperti ini setelah berhubungan badan. Perutnya terasa kencang tiba-tiba. Kata dokter itu kontraksi palsu. Tapi tidak apa-apa kata dokter selama tidak terus menerus dan tidak berlangsung lama.
Mengambil boxer nya yang masih tergeletak diantai Alden segera mengambilkan minum untuk sang istri “minum dulu” ucapnya segera membantu Rosella untuk duduk.
Mengusap punggung dan Rosella dengan lembut “Udah hilang belum?”.
Rosella mengangguk dan kembali berbaring dengan posisi miring, lalu membawa tangan Alden untuk mengusap perutnya.
Mata Alden membulat ketika merasakan pergerakan didalam sana “dia gerak” ucapnya dengan riang, sangat bahagia. Selalu seperti itu ketika merasakan tendangan samar itu.
Rosella ikut tersenyum “Dia pengen diusap Daddy nya” ucap Rosella.
Alden tersenyum dan segera ikut berbaring “jangan rewel ya nak, jangan buat mommy kesakitan” ucapnya lalu membungkuk memberikan ciuman pada perut Rosella.
“Mas” panggil Rosella. Alden segera melabuhkan ciuman pada kening sang istri lalu beralih menatapnya.
“Mas aku mencintaimu” Sepatah kata yang benar-benar tulus terucap dari relung hati terdalam. Cerita sang mertua masih teringat betapa pilu sosok Alden ketka kehilangan dirinya.
.
.
.
Kurang beberapa bab lagi, saya usahakan Minggu ini tamat ya.
Like komen and vote gaess 💋
__ADS_1