Bartender Cantik Ku

Bartender Cantik Ku
Saling memaafkan


__ADS_3

"Maaf ya Mommy lama" ucap Rosella mengusap-usap kepala Axel.


"Axel pikir Mommy nggak datang" ucap Axel sendu.


"Mommy kan sudah janji akan datang" ucap Rosella tersenyum pada Axel, senyuman yang meneduhkan.


Axel mengangguk "terimakasih Mom" lirihnya.


"Sudah dimulai?" tanya Alden melihat jam tangannya.


"Sebentar lagi, guru-guru masih rapat" ucap Axel yang terus menggenggam tangan Rosella.


Alden tersenyum kecil melihat mereka "masih ada waktu, ayo makan dulu aku lapar Ros".


"makan dimana Dad?"


"di kantin sekolah, ayo boy" ucap Alden berjalan mendahului mereka.


.


.


.


Terlihat beberapa orang tua juga sedang makan di kantin, Axel sangat bahagia bisa seperti teman-temannya yang lain.


"mas belepotan" ucap Rosella segera meraih tisu dan membersihkan sisa makan yang menempel pada bibir Alden.


"ini brewok dipotong kenapa sih" gerutu Rosella kesal saat terlihat para ibu-ibu memperhatikan wajah tampan Alden.


"katanya gini lebih hot" ucap Alden santai.


Axel tertawa renyah ketika mendengarkan perdebatan antara orang tuanya.


"kamu nggak makan?" tanya Alden ketika Rosella malah sibuk menyuapi Axel.


"aku udah kenyang banget lihat kamu makan" ucap Rosella menggelengkan kepalanya, sudah tiga mangkuk kosong yang berada dihadapan Alden.


Alden terkekeh "aku udah lama nggak makan bakso Mom" sahut Alden santai.


"orang Daddy memang jarang makan" ucap Axel dengan mulut penuh, karena mengunyah.


"kenapa?" tanya Rosella menelisik.


"Semenjak Mommy pergi, Daddy nggak pernah makan dirumah" jawab Axel polos.


Rosella sontak menatap Alden dengan kebingungan dan kekhawatiran "kamu makan dimana dad?" tanya Rosella.


"Aku memang jarang makan Mom, aku sibuk, kalau tidak percaya tanya saja pada Juna" jawab Alden kemudian meneguk segelas es teh yang begitu menyegarkan.


Rosella meraih tangan Alden untuk digenggamnya "mulai sekarang aku yang akan memastikan asupan makanan mu dad".


Alden tersenyum hangat mendengarnya "iya sayang".


"Axel juga mau dimasakin Mommy setiap hari" protes anak kecil itu tak terima jika Daddynya di nomor satukan.


"pasti boy, Mommy pasti akan masak untuk kita bertiga nantinya" sahut Alden.


"bertiga?" tanya Axel tak paham.

__ADS_1


"Sudahlah, nanti Daddy sama Mommy ada hadiah buat kamu kalo nilainya bagus" ucap Rosella riang.


"nggak bagus juga gapapa, yang penting dia sudah berusaha" sahut Alden.


"itu untuk memotivasi mas".


"Hem".


.


.


.


Setelah pengambilan raport untuk Axel, mereka bertiga menuju rumah utama dengan mobil pribadi Alden.


Alden menyuruh supir untuk menjemputnya, karena tidak mungkin mereka mengenakan sepeda motor sedangkan Axel sudah begitu besar sekarang.


Alden terus menggenggam tangan Rosella yang berkeringat dingin "jangan gugup" ucap Alden menenangkan "semuanya akan baik-baik saja".


Rosella tersenyum sekilas kemudian mengangguk, ia sempatkan untuk mengusap rambut Axel.


Jantung Rosella berdegup kencang ketika memasuki pelataran rumah utama yang dulu ia tinggali ini.


Rasa bersalah karena meninggalkan Alden berkecamuk di kepalanya, bagaimana jika mertuanya membencinya.


Alden paham istrinya sedang gugup, bahkan Rosella tampak membeku ketika mereka sudah turun dari mobil.


"peluk sebentar sini" ucap Alden membawa Rosella dalam dekapannya "selama ada aku, nggak kamu aman".


Rosella berkali-kali menghela nafasnya, memenangkan hatinya kemudian tersenyum.


"mah" teriak Alden ketika mereka memasuki rumah, dan tidak ada siapapun disana.


"iya Al" sahutan diseberang sana semakin mendekat.


Melinda menjatuhkan buah apel yang ia genggam tatkala melihat sosok wanita cantik berdiri diantara Alden dan Axel.


Apakah ini mimpi?


"mamah" ucap Rosella segera mendekat dan mencium tangan wanita paruh baya itu.


"Ros-rosella, ini kamu" ucap Melinda seolah tak percaya melihat Rosella sedang berdiri disana.


"iya mah, ini Ros" ucap Rosella tersenyum.


Melinda berhambur kepelukan Rosella, memeluknya begitu erat, air matanya jatuh tak terkira, mengingat betapa hancurnya keluarga nya saat Rosella pergi dari kehidupan Alden.


Rosella ikut meneteskan air mata, lalu mengusap punggung Melinda "maafin Ros ya mah" ucap Rosella tercekat.


Melinda hanya menggeleng, tak mampu mengucapkan sepatah katapun saat ini.


Setelah beberapa lama tangis Melinda akhirnya perlahan surut, ia sedikit menjauhkan tubuhnya dari Rosella lalu menatap wajah cantik Rosella yang tak berubah sedikitpun seiring bertambahnya usia. "jangan pergi lagi nak" ucap Melinda sendu.


Rosella mengangguk "maafkan Rosella mah" ucapnya merasa bersalah.


"Mamah nggak mau saling menyalahkan Ros, cukup saling memaafkan dan menata kembali apa yang telah rusak".


Rosella mengangguk dan hendak berlutut namun Melinda segera menahannya "kita semua salah Ros, jangan seperti ini".

__ADS_1


"Axel kamu istirahat dulu ke kamar" ucap Alden mengusap rambut Axel.


"yes, Daddy" sahut Axel menurut dan langsung pergi darisana.


Alden mendekati dua wanita itu kemudian merangkulnya secara bersamaan "jangan nangis-nangis lagi" ucapnya menenangkan.


"Mamah nggak tahu mamah harus melakukan apa pada anak ini selama kamu nggak ada Ros" ucap Melinda menjewer telinga Alden.


"Aduh mah, jangan gini malu" gerutu Alden memegangi telinganya.


"biarin anak bandel, sekarang kamu nggak ada alasan ya untuk tidak menurut sama mamah, mamah punya Rosella sekarang" ancam Melinda geram mengingat sikap Alden sebelum-sebelumnya.


Rosella terkekeh geli melihat kelakuan mamah dan Alden.


"Rosella punya Alden ya mah" ucap Alden segera mencuri satu ciuman di pipi halus Rosella.


"ini anak ya" ucap Melinda geram namun senyuman hangat terselip di sudut bibirnya.


.


.


.


"Papah di kamar?" tanya Rosella karena Alden dan mamah membawanya ke depan kamar mertuanya.


"Ros, maafkan papah mu ya" ucap Melinda tak kuasa lagi menahan air matanya.


"Rosella yang akan meminta maaf mah" ucap Rosella tersenyum, namun ia sedikit bingung ketika melihat Alden hanya diam.


Melinda membukakan pintu untuk Rosella, mata Rosella terpaku pada sosok laki-laki yang tengah terbaring di ranjang.


Rosella mendekat lalu duduk di sisi ranjang, ia sempatkan untuk mencium tangan laki-laki paruh baya yang sepertinya sedang tidur itu.


"papah" ucap Rosella pilu ketika melihat betapa kurusnya sosok laki-laki yang dulu begitu gagah ini.


Mata itu mengerjap-ngerjap memandangi wajah Rosella, memegang tangannya seolah tak percaya Rosella tengah duduk disini.


"Ro-ros" lirihnya begitu susah ketika mengatakan hal itu.


"papah, iya ini Ros pah" ucap Rosella.


"ma-afin papah nak" ucapnya kemudian menangis tersedu-sedu.


Rosella mengusap air mata itu "Ros sama ibu sudah memaafkan papah dengan lapang dada".


Tangis pak Rahmono semakin pecah ketika mendengar kalimat itu dari Rosella, rasa bersalah menyeruak dalam dadanya bertahun-tahun ini. Putranya hancur tanpa sosok Rosella disisinya, juga keluarga yang sekarang Alden buat pecah belah, karena geram pada tante-tante nya.


"Rosella memaafkan semuanya pah sungguh, papah harus segera sehat kembali kenapa papah jadi seperti ini" ucap Rosella menghapus air matanya.


Sedangkan Melinda sudah terisak dipelukan Alden ketika melihat semua itu.


.


.


.


LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2