Bartender Cantik Ku

Bartender Cantik Ku
Cinta monyet


__ADS_3

"Ma mas Sandy" ucap Rosella terbata karena melihat pesona seorang Sandy.


Sandy tersenyum lembut kearah Rosella "udah lama nggak ketemu ya, loh ini ?" tanya Sandy saat menyadari Rosella tidak sendirian.


Alden mengulurkan tangannya "Saya Alden, suami Rosella" tegas Alden.


"Su suami" ucap Sandy tergugu.


"Sandy baru pulang dari kota Ros, jadi ketinggalan berita" sela Bu camat karena tahu anaknya sedang bingung.


"inggih Bu" sahut Rosella.


"dia baru beberapa bulan Ros dapet kerja kantoran".


Rosella hanya tersenyum sambil mengangguk. .


Tidak lama kemudian Rosella memilih untuk berpamitan karena sangat canggung tidak ada bahan pembicaraan yang lebih dan wajar saja karena mereka memang jarang bertemu.


"hati-hati Ros!" ucap Bu camat saat Rosella sudah menaiki motor bersama Alden.


"nggih Bu camat, mari. . . mari mas Sandy" ucap Ros sopan.


"iya Ros" sahut Sandy.


Mereka terus memperhatikan sampai Rosella dan Alden tak terlihat lagi. . .


"gimana, nyesel kan kalah cepet" ucap Bu camat pada anaknya yang sedang berdiri disebelah nya "apalagi suaminya Ros ganteng, kaya lagi" lanjutnya.


"ibuk apaan sih" sahut Sandy yang sudah ingin memasuki rumah.


"ganteng kaya tapi sayang duda" ucap Bu camat yang membuat langkah Sandy terhenti.


"duda?" ucapnya tak percaya.


"iya duda anak satu, gosipnya sih gitu. . . .tapi kelihatannya masih muda kok mas Alden".


"tapi Sandy kaya pernah lihat suami Rosella ya bu, dimana tapi".


"Halah udah ikhlas in san".


"ibu bukan nya begitu maksud Sandy".


"lupain cinta monyet mu le" goda Bu camat.


"ibuuuuuu".


.


.


.


"dia siapa?" tanya Alden membelah keheningan di jalan bergelombang ini.


"siapa Bu camat?" tanya Rosella.


"laki-laki tadi" sahut Alden.


"oh, mas Sandy" ucap Rosella sedikit tersenyum dan Alden masih bisa melihatnya dari kaca spion.

__ADS_1


"iya, dia kayaknya nggak rela gitu denger kamu udah nikah" sahut Alden yang tetap memperhatikan Rosella dari kaca spion.


"dia cinta monyet ku" ucap Rosella kemudian terkekeh geli mengingat masa-masa cinta monyet nya dengan Sandy.


"mantan kamu?" tanya Alden.


"iya dulu waktu SMP"


"kamu SMP udah pacaran Ros, bukannya belajar yang bener malah pacaran". ucap Alden


"hehe ya gitulah dad" ucap Rosella mengabaikan gerutuan Alden. lalu dibalas dengusan kesal oleh Alden.


......


"dad kita berhenti di warung depan dulu ya, ibu titip minyak goreng tadi".


"iya"


tak lama kemudian mereka berhenti disebuah toko kecil yang lumayan rame karena banyak ibu-ibu yang sedang berbelanja disana.


"Bu minyak goreng nya satu ya" ucap Rosella yang membuat semua ibu-ibu disana mengalihkan pandangan padanya.


"eh mbak Ros, lagi pulang kampung" tanya salah satu ibu-ibu.


"inggih Bu" ucap Rosella.


"itu yang ganteng siapa?, pacar atau simpanan" ucap ibu-ibu satu lagi, Ros tahu betul ibu ini adalah musuh bebuyutan ibunya.


"oh itu" ucap Ros menatap Alden sejenak "suami Ros Bu".


"hah suami?, kapan nikahnya?"


"nikahnya di kota Bu".


"tuh kan dia cewe nggak bener" bisik salah satu ibu-ibu yang masih terdengar jelas pada telinga Rosella.


"iya, kerja nya malem gitu kata anak saya yang juga kerja disana".


Meskipun Rosella mendengarnya namun memilih bungkam, ia sudah terlalu kebal dengan ucapan tetangganya yang begitu pedas.


"ini kembaliannya mbak Ros".


"sayang" ucap Alden tiba-tiba menghampiri Rosella.


"suaminya mbak Ros toh?" tanya ibu-ibu penjual.


"iya Bu" ucap Alden menunjukkan cincin dijari manis nya.


"Dad" gerutu Rosella menurunkan tangan Alden.


"ganteng mbak Ros suaminya".


"hehe terimakasih Bu".


"tapi katanya duda" ucap ibu yang bermulut pedas tadi.


"memangnya ada masalah apa sama ibu kalo saya duda" ucap Alden mulai meninggikan suaranya.


"Dad, udah ayo pulang" ucap Rosella memegang lengan Alden untuk menenangkan agar tidak terpancing.

__ADS_1


"mas udah nggak usah didengerin omongan ibu ini, suka ngelantur emang" ucap ibu-ibu yang lain.


"baik Bu, mohon lebih dijaga berbicara nya. . . karena belum tentu ibu lebih baik dari kami, dan perkataan seseorang itu mencerminkan kepribadian dirinya sendiri, permisi !" ucap Alden tegas lalu merengkuh tubuh Rosella untuk pergi dari sana.


"wah ganteng banget" ucap salah satu ibu-ibu.


"biasa aja tuh" ucap ibu bermulut pedas.


"kamu itu kerjaannya iri aja sama Bu Rini dan Rosella". ucap ibu-ibu lalu ibu-ibu yang lain memberikan anggukan setuju.


"apaan sih" balasnya lalu pergi dari sana.


Sepanjang perjalanan hening menyelimuti kedua insan ini , sampai akhirnya Rosella memutuskan untuk berbicara terlebih dahulu karena Alden terlihat sangat kesal.


"dad" ucap Rosella pelan.


"Hem" balas Alden.


"maafin omongannya ibu-ibu tadi ya" ucap Rosella sungkan.


"kenapa kamu yang meminta maaf".


"yah takut aja kalo buat kamu sakit hati, kalo aku mah udah biasa".


Alden memegang tangan Rosella yang berpegangan pada jaketnya, sedangkan tangannya yang satu lagi masih ia gunakan untuk mengemudi.


"kamu yang pasti lebih sakit hati , atas perkataan mereka". ucap Alden menggenggam tangan Ros.


Rosella menggeleng "aku punya hati seperti baja, omongan mereka nggak akan mempan" ucapnya menghapus air mata yang lolos di pipinya.


Alden semakin mengeratkan kedua tangan Rosella agar memeluk perutnya. "jangan bohong!"


"aku sudah terbiasa dad, sudah sangat terbiasa" ucapnya bergetar tidak bisa menahan lagi tangisnya. ia selalu sok kuat menghadapi omongan orang yang menggunjing nya.


Tapi ketika Alden bisa tahu perasaan nya yang amat terluka ia tidak bisa lagi menahan isakan tangis nya.


Rosella menghapus air mata yang jatuh di pipinya kemudian menyandarkan dagunya pada pundak Alden yang begitu keras, ia semakin mengeratkan pelukannya pada suaminya itu.


"sudah puas" tanya Alden saat tidak lagi mendengar Rosella menangis.


Rosella mengangguk "biarkan saja mereka berkata apa, biar semua orang mikir aku cewe nggak bener yang penting aku tidak seperti itu".


"sepertinya kita harus sering kesini".


"untuk?" tanya Rosella.


"agar mereka tidak berpikiran macam-macam lagi".


"tidak perlu dad, mereka akan capek sendiri membicarakan tentang ku".


Alden hanya diam setelah nya. . .


entah mengapa memeluk dan bersandar pada Alden seperti ini . membuatnya lupa akan semua masalah dan begitu damai menentramkan. . .


terimakasih untuk sandaran yang nyaman ini. . .


**MOHON DUKUNGANNYA YA, AJAK YANG LAIN BACA JUGA 😉


SEMANGAT SEMUANYA 💋💋💋**

__ADS_1


__ADS_2