
"aku tidak akan pernah menceraikan mu!"
Setelah itu Alden lalu menarik tangan Rosella dengan kasar dan membawanya ke kamarnya, lalu mengunci kamar itu.
Rosella menelan ludahnya kasar, kamar ini adalah tempat dimana dulu ia menyerahkan semuanya pada Alden.
"kenapa dikunci?" tanya Rosella takut-takut.
"duduk dulu" ucap Alden yang entah mengapa berubah menjadi lembut.
Rosella segera duduk pada sofa dan diikut Alden, mereka duduk berdampingan.
Alden menatap kosong ke depan, tersenyum kecut memikirkan betapa beratnya selama ini ia hidup tanpa wanita yang berada disampingnya.
Tapi apa ini, setelah mereka bertemu dengan mudahnya wanita ini mengajak bercerai seenak jidatnya.
"Aku belum menikah lagi, dan tidak akan pernah" tegas Alden tanpa menatap Rosella.
Rosella menoleh pada Alden, menatap wajah tampan yang sekarang dipenuhi oleh bulu tebalnya itu.
"ma-maksud kamu?" tanya nya takut-takut salah mendengar perkataan Alden.
"Lisa adalah teman Neta yang baru Neta kenalkan dengan ku pagi tadi" ucap Alden lalu menatap Rosella yang tengah menatapnya.
"Ja-jadi dia bukan istri mu" ucap Rosella seolah bernafas lega karena perkataan Alden.
Alden menggeleng "mana bisa aku menikah tanpa surat cerai darimu, kecuali kamu mau dimadu" lanjutnya tersenyum kecil.
"aku tidak mau!" tegas Rosella tak santai.
"kan sudah aku bilang, aku tidak akan menikah lagi" ucap Alden menatap Rosella yang menahan air matanya untuk tidak jatuh sekuat tenaga.
"aku kira kamu benar-benar sudah menikah lagi" ucap Rosella tercekat.
"Setelah apa yang kamu perbuat padaku, pikirmu semudah itu untuk jatuh cinta lagi?".
Jatuh cinta pada Rosella adalah pertama kalinya bagi Alden, dan ia tidak akan jatuh lagi kecuali padanya.
"maaf" hanya kata itu yang mampu Rosella ucapkan saat ini.
"aku hanya ingin tahu kenapa kamu semudah itu meninggalkan aku selama ini, aku hanya penasaran dengan alasan itu, sampai-sampai membuatku semakin gila" Alden menghela nafasnya, karena takut terpancing emosi nya.
"aku pergi untuk kebaikan kita semua, untuk kebaikan keluarga kita". ucap Rosella mengusap air matanya yang menetes tanpa permisi.
Alden berdecak "apa kamu tidak tahu betapa hancurnya keluarga ku saat ini" ucap Alden.
"maksudnya?" tanya Rosella tak paham.
"kamu dibantu tante-tante aku kan untuk meninggalkan ku".
Rosella terdiam seketika "mas aku--".
"dan mungkin tante-tante ku sekarang sedang mengemis di jalanan karena kamu".
"apa yang kamu lakukan mas" ucap Rosella membulatkan matanya seketika.
"hanya memberi mereka sedikit pelajaran" ucap Alden tersenyum kecil.
"mas, kamu tidak berbuat jahat kan pada mereka" tanya Rosella khawatir.
"salahkan saja dirimu, siapa suruh pergi dariku dan membuat ku seperti ini, jika yang kamu takuti hanya lah tanteku itu hanya masalah kecil".
__ADS_1
Rosella mengangguk, mau menjelaskan seperti apapun ia akan tetap salah, jujur tidak ada salahnya kan.
"Sebenarnya tante-tante mu mengancam ku waktu itu" ucap Rosella dengan ragu.
"mengancam apa?" ucap Alden menatap Rosella dengan serius menanti jawaban itu.
"Daddy!" teriak Axel dari luar sana, ia terus mengetuk-ngetuk pintu kamar mereka.
Alden mendengus kesal karena harus terganggu dengan anaknya sendiri.
" mas bukain, kasihan dia" ucap Rosella yang hendak beranjak.
"biar aku saja" ucap Alden lalu segera berdiri dan membukakan pintu untuk Axel.
Axel berlarian kepelukan Rosella "Mommy tidak papa?" tanya Axel khawatir.
Rosella tersenyum sembari mengusap pipi Axel "nggak papa boy, kamu udah makan belum tadi?" tanya Rosella.
Axel menggeleng "mau dimasakin Mommy" ucapnya dengan manja.
"ada bahan nggak mas?" tanya Rosella menatap Alden yang hanya terdiam.
"ada ayo" ucap Alden berjalan mendahului mereka.
.
.
.
"Enak Mommy" ucap Axel melahap ayam goreng kecap buatan Rosella.
Alden menganggukan kepalanya, meskipun perutnya sudah sangat kenyang tapi ia juga merindukan masakan Rosella.
"aku mau ayamnya saja"
Rosella segera mengambilkannya untuk Alden.
Mata Rosella tak luput memandangi dua laki-laki yang sedang melahap masakannya dengan nikmat itu, dadanya sesak sekali.
Apakah mereka berdua hidup dengan baik selama lima tahun ini?
Siapa yang mengurus dua laki-laki itu saat ia tak ada.
Rosella segera menunduk karena air matanya sudah tumpah, ia benar-benar tidak bisa, terlalu perih ketika rasa bersalah menyeruak pada lurung hatinya.
Tepukan di pundaknya membuat Rosella mendongak "jangan menangis, ada Axel disini" lirih Alden menyerahkan sehelai tisu lalu menuju wastafel untuk mencuci piring.
Rosella segera menghapus air matanya dan tersenyum lebar pada Axel.
"Axel mau di puk-puk sama Mommy" ucap Axel setelah meminum air putihnya.
Rosella mengangguk "iya sayang, ayo cepet tidur" ucap Rosella mengusap kepala Axel.
.
.
.
"kenapa Daddy pergi?" tanya Axel setelah ia dan Rosella sudah berbaring di ranjang, sedangkan Alden malah mengambil bantal dan hendak keluar kamar.
__ADS_1
"Ini pasti terlalu sempit untuk Daddy, kan Daddy sukanya tempat yang luas" ucap Rosella berkilah.
"Axel mau dipeluk Mommy sama Daddy malam ini" ucap Axel sendu.
Oh, bahkan Rosella tak tega melihat itu, ia segera memeluk Axel dengan erat.
Alden menatap Rosella untuk meminta persetujuan, Rosella mengangguk sembari mengecup kening Axel.
Alden segera merebahkan tubuhnya disamping Axel, menatap langit-langit kamar yang masih sama, tapi mengapa kini rasanya canggung sekali bersama Rosella.
Dan anehnya hatinya masih saja bergetar.
"Daddy biasanya sukanya di belakang Mommy" ucap Axel yang membuyarkan lamunan Alden.
"disini saja" ucap Alden lemah.
Keheningan menyelimuti mereka bertiga, sama-sama tak bisa memejamkan matanya karena pikirannya yang tak tenang.
"Daddy" ucap Axel lagi.
"iya".
"Daddy belum mencium kening ku dan Mommy" ucap Axel yang membuat Alden menoleh.
"sayang--" perkataan Rosella terhenti ketika Alden tiba-tiba mengecup keningnya begitu lama, lalu bergantian mengecup kening Axel.
"selamat tidur" ucap Alden lalu ikut memeluk Axel.
Mata Alden tak terpejam sedikitpun, ia masih menatap wanita yang sedang memeluk Axel dengan eratnya.
Rasanya masih tidak percaya mereka dipertemukan kembali.
Apakah ini yang dinamakan takdir.
"Mommy" lirih Axel dalam tidurnya, bahkan ia seperti menangis ketika mengatakan itu.
Mata Rosella mengerjap ketika mendengarnya samar.
"Mommy" lirih Axel lagi.
"sayang" ucap Rosella mengusap pipi Axel.
"cukup peluk saja dia" ucap Alden yang membuat Rosella menoleh.
"dia selalu seperti itu sejak kamu pergi" lanjutnya yang membuat Rosella tercengang.
Hatinya sakit sekali mendengar anaknya seperti ini karena dirinya, ia segera memeluk Axel dengan erat lalu membisikkan kata-kata sayang, tak lupa ia mengecupi seluruh wajah Axel.
"maafin Mommy" lirih Rosella yang sudah berhamburan air mata, dadanya begitu sesak ketika mendengar suara Axel memanggilnya dengan pilu.
"jangan menangis" ucap Alden segera merengkuh tubuh Axel dan Rosella secara bersamaan, lalu ia memejamkan matanya.
"tidurlah" ucapnya pada Rosella yang terus terisak.
.
.
.
LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋💋💋
__ADS_1