
Rosella dan ibunya berbincang ringan setelah itu, hingga memutuskan untuk tidur karena waktu sudah hampir pagi, untuk Rosella itu hal yang sangat biasa. . . namun berbeda dengan sang ibu.
......
Gerimis di pagi yang mendung ini seolah membuat Rosella enggan berjauhan dengan bantal nya yang nyaman, suara rintikan hujan diluar sana membuat ia menggeliat semakin pulas.
namun ketika ia mendengar suara panci yang berjatuhan dengan sengaja, ia yakin jika ibunya tidak meridhoi dirinya untuk tidur lebih lama.
"Ros!!!!" suara ibunya begitu menggelegar di ujung dapur.
Ditutupnya telinganya rapat-rapat dengan bantal, agar ia tertidur kembali. . .
brakkk. . . .
ibunya membanting pintu begitu keras "jangan-jangan kalo dirumah mertuamu juga gini ya ! , bangunnya siang terus".
"ibuk apaan sih, lima menit lagi ya" pinta Rosella dengan mata yang masih terpejam.
ibunya membuang selimut yang masih melingkupi seluruh tubuh Rosella, lalu mengayunkan gayung hendak menyiram putrinya itu.
"stop!' teriak Rosella ketika hampir saja ia terkena air.
Ibunya menyunggingkan senyum kemenangan "jangan kaya anak perawan aja kamu Ros!".
ya emang masih perawan. . .
Perdebatan ibu dan anak itu terhenti ketika terdengar suara ketukan pintu berulang kali.
"itu yang ngetuk pintu dirumah kita Bu?" tanya Rosella.
"ya iyalah , masa dirumah tetangga!" sahut ibunya lalu berlalu meninggalkan Rosella. dan Rosella hanya menggelengkan kepalanya melihat betapa ia diperlakukan seperti anak tiri, namun tak lama kemudian ia tersenyum mengingat ibunya begitu menyayanginya.
"Ros!" teriak ibunya lagi setelah beberapa saat.
"iya buk, sebentar!" ucap Rosella bergegas mandi, tanpa memperdulikan panggilan ibunya. Karena jika ia kesana pasti tidak akan mandi hari ini karena terus disuruh-suruh oleh sang ibu.
Rosella mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil , lalu keluar dari kamar mandi setelah ia memakai daster kesayangannya.
"Mommy!"
satu teriakan yang membuat Rosella diam mematung di ambang pintu.
Alden dan Axel sedang duduk di kamarnya, anak kecil itu berlarian ke arah Rosella. Ditangkapnya tubuh mungil itu lalu ia gendong menuju Alden yang sedang duduk di ranjang.
"kok bisa kesini!" tanya Rosella terus terang pada laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu.
"Axel mencari mu dari semalam" balas Alden.
"uhhhh, anak Mommy kangen Mommy ya".
Axel mengangguk lalu memeluk leher Rosella begitu erat.
"Daddy juga kangen Mommy" ucap anak kecil itu dengan serius.
"Axel!" tegur Alden.
Rosella hanya tersenyum mendengarnya, tidak menganggap apa yang dikatakan Axel serius. Karena adalah mustahil jika Alden merindukan dirinya. . .
.
.
__ADS_1
.
"Ros kamu anterin roti pesanannya Bu camat ya" ucap ibunya yang sedang sibuk menata roti-roti itu kedalam plastik.
"ke ke rumah Bu camat, kenapa harus Ros sih Bu" gerutu Rosella yang sedang memangku axel di meja makan. Axel nampak sibuk dengan roti buatan neneknya itu.
"ya mau siapa lagi!" bentak ibunya.
"buk kalem, lagi ada Axel" ucap Rosella mengingatnya.
"duh anak ganteng maafin nenek mu ini ya" ucap ibu Ros.
Alden menghampiri Rosella yang sedang memangku axel, ia duduk disebelah istrinya.
"kamu nggak mandi dad?" tanya Rosella.
Alden berdehem sejenak "disini dingin banget ternyata".
Rosella tertawa kecil "oh jadi takut dingin, siapa suruh kesini".
"Ros!" sentak ibunya.
Rosella hampir lupa jika ibunya juga berada disana "hehe bercanda buk".
"lebih baik kamu dianter suami kamu aja Ros, siapa tau sekalian mau pamer".
"buk!" rengek Rosella yang tahu akan jalan pikiran ibunya. "emangnya barang dipamerin".
"yah jelas dong, punya suami kaya Alden sayang kalo nggak dipamerin ke tetangga tetangga. apa lagi pamerin sama anak nya pak camat" ucap ibunya lalu terkekeh.
"cukup Bu, Rosella antar sendiri saja".
"biar saya yang antar kamu". ucap Alden
Rosella hanya bisa pasrah, karena sangat tidak mungkin ia menentang Alden di depan ibunya.
kenapa harus rumah pak camat sihhh. .
....
"ini motor nya" ucap Alden memperhatikan motor antik yang berada di depan nya.
"iya, bisa bawa nggak. . . kalo nggak bisa biar aku aja yang bawa". ucap Rosella karena Alden menatap motor itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"bisa" ucap Alden datar.
Dengan bersusah payah Alden menghidupkan mesin motor tua itu, ia harus terlihat tenang dan cool di depan Rosella.
"akhirnya" ucap Alden lega saat motor itu nyala
"maaf ya dad, ini motor peninggalan ayah dulu. . jadi jarang dipakai".
"sudah ayo cepat naik" perintah Alden.
Rosella menaiki motor itu, karena jok motor itu sangat sempit terpaksa ia berdekatan dengan Alden lalu ditaruhnya plastik roti itu pada pahanya.
Mereka melewati jalan sawah yang bergelombang dan bolong sana sini yang mau tidak mau membuat Rosella berpegangan erat pada jaket Alden.
"hati-hati" ucap Rosella saat Alden menambah kecepatan pada jalan yang sudah rusak dan begitu licin sehabis hujan ini.
"pegangannya yang kenceng" ucap Alden dengan mengangkat sedikit bibirnya.
__ADS_1
Rosella berdecak "ini juga kenceng tau, dasar modus" gumam Rosella pelan. Rosella sangat kesusahan saat satu tangannya sibuk memegangi kantong plastik dan satu tangannya lagi mendekap erat perut Alden.
"monggo pak , Bu" ucap Rosella sopan saat berpapasan dengan gerombolan orang yang pulang dari sawah. lalu dibalas anggukan oleh orang-orang itu.
"disini udaranya segar sekali" ucap Alden menikmati udara yang begitu sejuk di pedesaan ini.
"besok aku ajak ke sawah deh udaranya lebih sejuk, eh tapi kalo kamu mau pulang nggak deh"
"saya sudah mengambil cuti tiga hari".
Rosella menelan ludah nya kasar "ke kenapa" tanyanya.
"mau berlibur disini, Axel sepertinya senang sekali tadi main di rumah ibu".
Rosella tersenyum mendengarnya "kalo gitu besok kamu harus ikut ke sawah dengan ku dad".
"Hem"
.
.
.
Alden menghentikan motornya di depan rumah yang terlihat lebih mewah daripada rumah penduduk sekitar namun tidak bisa menandingi kemewahan rumahnya.
"kamu tunggu sini aja ya".
belum sempat Alden menjawab terlihat seorang wanita paruh baya menghampiri mereka "Rose" panggil wanita itu "kok nggak masuk lanjutnya".
Rosella mencium punggung tangan wanita itu "cuma mau nganter roti pesanannya sampean bu camat.
"Hem, ada yang nganter ni kemana-mana sekarang" canda Bu camat.
"eh" Rosella menoleh kearah Alden yang berdiri di belakangnya. "kenalin ibu ini mas Alden, suaminya Ros" tutur Ros dengan lembut.
Jujur saja Alden sangat salut dengan gadis yang berada dihadapannya sekarang. Rosella sangat berbeda ketika ia bersama orang lain. ia sangat sopan pada siapapun namun tidak dengan Alden.
Alden bersalaman dengan Bu camat.
"wah ternyata Sandy kalah cepet ternyata, ibu kira kemaren ibu mu cuma bercanda waktu bilang kamu udah nikah".
Rosella hanya tersenyum kikuk menanggapi nya.
"masuk dulu ayo" Bu camat merangkul Rosella untuk masuk dan duduk di teras rumahnya, begitu pula dengan Alden yang kini sudah duduk disamping Rosella.
Pandangan mereka semua teralihkan pada laki-laki yang baru keluar dari pintu rumah itu.
laki-laki berkacamata yang memakai celana training dan kaos hitam.
"Sandy sini" panggil Bu camat.
laki-laki itu mendekat dan melihat ke arah Rosella.
"Rosella" panggil nya seolah tak percaya jika melihat perempuan itu berada disana.
.
.
.
__ADS_1
BANTU LIKE KOMEN YA😉😉😉💋💋💋💋