Bartender Cantik Ku

Bartender Cantik Ku
Percaya takdir


__ADS_3

Beberapa saat dalam keheningan, Rosella memutuskan untuk diam setelah emosinya meledak-ledak.


Alden bersimpuh di hadapan Rosella memeluk perut Rosella dengan erat "jangan menangis" ucap Alden ketika air mata itu terus berjatuhan menggenangi wajah cantik istrinya.


Entah apa yang dipikirkan wanita itu saat ini, Alden sendiri begitu nyeri saat melihat Rosella seperti itu.


"mas aku laper" ucapnya setelah sekian lama.


Alden tersenyum menatap kearah nya penuh sayang "mau makan apa sayang?" tanya nya lembut.


"aku mau jus belimbing, tapi kamu yang buat" ucapnya yang membuat Alden mengernyitkan dahinya.


"Mana ada belimbing sayang disini" ucap Alden kemudian duduk disebelah Rosella "kalo laper makan nasi aja ya" ucapnya merayu.


"Nggak mau" ucapnya melirik tajam pada Alden.


Alden menelan ludahnya kasar seketika "iya-iya, aku minta Juna carikan" ucapnya mengalah.


Setelah itu Alden meninggalkan ruangan menuju dapur perusahaan, jika bukan karena istrinya tercinta, mana sudi.


Rosella termenung didalam ruangan itu, dan tiba-tiba ponselnya bergetar ia segera mengangkat panggilan itu.


"iya Bu" ucapnya setelah tahu siapa yang meneleponnya.


"Ros, nanti tolong beliin ibu obat merah di apotik ya" ucap ibu terdengar helaan nafasnya.


"ibu kenapa?" tanya Rosella khawatir.


"tadi abis keserempet motor, tapi nggak papa kok lecet dikit aja" ucap ibu yang membuat tubuh Rosella menegang.


Rosella sudah bisa menebak ulah siapa semua ini, dan ini semakin membuat pikirannya bulat untuk pergi sementara, tidak mungkin ia akan terus berperang seperti ini. Dia terlalu lemah untuk melawan keluarga Alden.

__ADS_1


ia menghapus air matanya yang mengalir, membuat sesak dadanya.


"Mommy" panggil Alden memasuki ruangan itu dengan segelas jus belimbing disana.


"kok cepet banget" ucap Rosella segera menghapus air matanya.


"tadi ada OB yang punya belimbing nya, tapi agak asem katanya" ucap Alden duduk disamping Rosella.


"aku coba ya" ucap Rosella segera mencicipi minuman segar itu.


Dan anehnya tanpa ekspresi apapun, padahal belimbing itu masih sangat asam.


"enak?" tanya Alden memandang Rosella dengan bingung.


"seger Dad" ucapnya kemudian memeluk lengan Alden.


"manja banget sih" ucap Alden mengusap pipi Rosella yang sudah lebih berisi daripada pertama menikah.


"i believe, selama takdir itu adalah kamu" ucap Alden menghirup aroma rambut Rosella yang memabukkan.


"aku juga percaya dengan takdir, jadi aku tidak perlu takut tentang hal apapun. . . jika kita memang ditakdirkan untuk berjodoh bukankah seharusnya Tuhan akan mempertemukan kita kembali, tanpa adanya masalah yang begitu berat ini".


"Tuhan sedang menguji kita" ucap Alden memeluk tubuh Rosella.


"jika aku ingin ujian yang lebih berat bagaimana?, untuk kebaikan bersama"


"maksudnya?" tanya Alden tak paham.


"lupakan" ucap Rosella terkekeh "aku mau dicium saja" lanjutnya menunjuk pipi nya .


"tapi aku tidak mau disitu" ucap Alden tersenyum jahil.

__ADS_1


Alden lalu meraih tengkuk Rosella dan mencium bibirnya dengan lembut.


"mas" ucap Rosella terengah seolah kehabisan oksigen untuk bernafas.


"beri aku ciuman disini" ucapnya menunjuk lehernya.


"Serius?" tanya Alden karena biasanya tempat itu dilarang oleh istrinya.


"iya , tinggalkan beberapa bekas disini" ucap Rosella tersenyum.


Dan tentu saja Alden tidak menyia-nyiakan kesempatan itu "dengan senang hati sayangku" ucapnya kemudian segera meninggalkan beberapa bekas pada leher mulus itu.


Rosella mencengkeram erat jas Alden ketika merasakan sensasi menggelitik yang luar biasa.


"ingin bercinta?" tanya Alden yang membuat Rosella merona, tatapan Alden sudah penuh kabut gairah.


Rosella mengangguk dengan malu "ayo cepat aku harus segera pulang" ucapnya berdiri menuju ruangan tersembunyi itu.


Alden tersenyum penuh kemenangan dan mengikuti langkah Rosella...


.


.


.


Entah sudah berapa ronde ia melakukannya bersama Alden, Sekarang Rosella diperjalanan pulang menuju rumahnya, ia terus menangis sepanjang perjalanan.


Semoga saja keputusannya adalah yang terbaik, ia tidak bisa membiarkan ibunya dalam bahaya, saat ini kedua keluarga sedang ada di situasi yang panas.


Jadi Rosella ingin menyusun sebuah rencana, ia tidak ingin Tante Alden berbuat lebih jahat lagi, jadi ia harus mengalah dulu bukan.

__ADS_1


__ADS_2