
Setelah semua keluarganya pulang, Alden mengajak Rosella ke sebuah motel dekat rumah Rosella, karena ia hanya ingin berbicara berdua ditempat yang tertutup, menemukan titik terang pada masalah ini.
Namun ia masih tidak habis pikir, jika ibu dengan teganya menyuruh ia dan Rosella untuk berpisah.
Rosella menatap Alden takut-takut karena terlihat sekali Alden sedang mencoba menahan emosinya, dan Alden juga masih bungkam semenjak tadi.
Setelah sampai di motel, Alden menghempaskan tubuhnya pada sofa kecil itu, sedangkan Rosella masih berdiri menatap Alden.
"apakah ibu sudah mengatakan itu padamu?" tanya Alden dengan tatapan tajam yang menghunus.
Rosella mengangguk lalu menundukkan pandangannya, matanya memanas seketika hanya karena ditanyai seperti itu.
ini sungguh bukan Rosella..
"lalu, kamu menjawab apa?" tanya Alden masih sama mencekamnya.
Bibir Rosella bergerak, tenggorokan nya tercekat ketika hendak mengeluarkan suaranya.
dan ia tak sanggup menjawabnya.
"Ros, kalo orang tanya itu dijawab bukan malah menangis!" ucap Alden dengan suara yang menggelegar, kebiasaan buruknya mulai kambuh.
dan Tangis Rosella pecah saat itu juga , air mata yang sedari ia tahan tidak bisa lagi ia bendung.
ia menunduk sembari terisak "a-aku nggak mau, huhuhu. . a-ku nggak mau ki-ta pisah" ucapnya tercekat bersamaan dengan isakan tangisnya.
Alden mengusap rambutnya kasar "seharusnya kamu bilang Ros!" ucap nya frustasi.
"bagaimana masalah sepenting itu kamu tidak mengatakan nya padaku".
"salahkan saja aku terus mas" ucap Rosella menepuk dadanya begitu pilu.
"jangan menguji ku Ros!" sentak Alden yang masih emosi saat mendengar kata-kata pisah dari mertuanya.
Rosella terduduk dilantai , tangisnya semakin pecah, bukannya meringankan beban dan mencari solusi bersama Alden malah terus membentak nya.
Beberapa saat Alden memilih diam, agar otaknya bisa dingin, hanya isakan kecil Rosella yang memenuhi isi kamar itu.
Tepukan lembut pada bahu Rosella membuat Rosella mendongak, Alden mengulurkan tangannya dan disambut oleh Rosella.
Rosella menghapus air matanya, lalu mengambil tas nya "jika disini kamu hanya ingin mengajak ku bertengkar lebih baik aku pulang" ucapnya lalu berbalik.
Namun secepat kilat Alden memeluk Rosella dari belakang, menahannya agar tetap disini, Alden menyandarkan kepalanya pada bahu Rosella.
Berkali-kali terdengar helaan nafas panjang nya "maaf" akhirnya kata-kata itu membelah keheningan.
__ADS_1
"aku hanya takut, aku takut kamu akan menuruti ibu untuk berpisah denganku" ucapnya penuh gurat kesedihan.
"aku tidak segila itu" ucap Rosella dengan suara seraknya.
"aku benar-benar takut Ros" ucap Alden mengeratkan pelukannya "aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpamu" lanjutnya penuh kesedihan.
Rosella melepaskan rengkuhan tangan kekar itu perlahan, lalu ia duduk disisi ranjang, menatap Alden dengan mata sembabnya.
"aku harus bagaimana mas?" tanya Rosella begitu menyesakkan.
Pilihan yang amat sulit baginya, ia tidak akan memilih satu diantara keduanya, mereka benar-benar penting. . . ibu dan Alden adalah segalanya.
Alden duduk disamping Rosella lalu memeluknya dengan erat , sejujurnya yang ia takutkan saat ini adalah keselamatan Rosella, karena ia tahu betul bagaimana keluarga besarnya, jika sampai ibu tidak luluh maka keluarga nya akan bertindak pada Rosella atau ibu.
Keluarga dari papahnya memang rata-rata seperti Tante Sarah sikapnya, jadi Alden sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya.
Meskipun ia sendiri sudah menyiapkan orang untuk mengawasi Rosella diam-diam.
"kita pasti bisa Ros" ucap Alden menenangkan.
"kamu akan memperjuangkan ku?" ucap Rosella mengusap rahang tegas yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus itu.
"pasti, aku akan memperjuangkan mu" jawab Alden menyibakkan anak rambut Rosella, lalu meraih dagu Rosella agar menatapnya.
"beri aku sedikit kekuatan untuk memperjuangkan mu" ucap Alden sembari mengecup rasa manis itu, rasanya sudah seminggu ia tidak mendapatkan hak nya sebagai suami, dan sekarang ia rindu, dan ingin menagihnya.
Dan benar saja, malam itu semua kesedihan, kekhawatiran dari semua masalah mereka, mereka lupakan sejenak bersama dengan desahan nikmat yang membara.
.
.
.
Pagi ini Rosella sudah berpakaian rapi, ia menatap pantulan dirinya di cermin, ia sudah membulatkan tekadnya untuk segera resign.
Sedangkan Alden sudah pulang dari petang tadi, dan Rosella sudah meminta ijin pada ibu untuk menyelesaikan masalahnya di kantor.
Hal yang membuat Rosella senang adalah perkataan ibu 'tetap berbakti kepada Alden meskipun ibu masih membenci keluarganya'.
Setidaknya kalimat itu membuat Rosella sedikit senang, nampak nya hati ibu perlahan mulai membaik.
"hati-hati Ros" ucap ibu yang baru saja masuk ke kamarnya.
"iya Bu".
__ADS_1
"kamu yakin mau resign?" tanya ibu yang sudah kesekian kalinya.
"iya Bu, Rosella yakin" kekeh Rosella, setidaknya masalah nya selesai dulu baru ia memikirkan masalah perusahaan.
"kamu boleh kembali kerumah mertua mu" ucap ibu tanpa menatap Rosella.
Rosella mengerjap-ngerjap kan matanya , masih mencerna kata-kata ibunya.
"Buk" ucap Rosella kemudian mendekat.
Dan Rosella tahu ibunya sedang tidak baik-baik saja, ia memeluk tubuh ibunya . . . ibu yang merasakan rengkuhan putri semata wayangnya, satu-satunya yang ia punya saat ini, tangisnya pecah.
"maafin ibu Ros" ucapnya terisak.
Rosella mengusap-usap punggung ibu "ibu jangan minta maaf,dan Rosella nggak akan ninggalin ibu sampai ibu tenang dulu hati dan pikirannya" ucap Rosella memberi ketenangan.
"mas Alden pasti bisa ngertiin Bu" ucap Rosella pada ibunya yang semakin terisak.
"maafin ibu udah buat keluarga Alden benci sama kamu" ucap ibu mengingat kembali kata-kata Tante Sarah yang menyakitkan.
"dari dulu kalo tante-tante mas Alden nggak suka sama Rosella, tapi Rosella nggak peduli Bu"
"kamu pasti sakit hati ya" ucap ibu menyentuh pipi Rosela, betapa kokohnya hati dan jiwa Putrinya ini selama ini.
"enggak buk enggak, kita kan emang dari kalangan biasa-biasa aja, masih mending mas Alden mau sama Rosella" ucap Rosella yang air matanya menetes begitu saja.
"Seandainya ayahmu masih hidup, kita tidak akan direndahkan seperti ini Ros"
"Bu, udah buk. . . kita ikhlas in semuanya, ini sudah jalan hidup kita" ucap Rosella mengusap air matanya.
"Ros, sejujurnya ibu nggak mau masalah ini dibawa ke pengadilan, tapi ibu cuma pengen tahu seberapa tulus pak Rahmono meminta maaf" ucap ibu yang membuat Rosella tercengang.
"ibu belum melihat ketulusan itu Ros, mereka masih mementingkan kedudukan dan jabatannya" ucap ibu serius.
Rosella mengangguk "selama ibu sehat dan baik-baik saja, Rosella terserah ibu saja, tapi Rosella nggak mau lama-lama jauh dari suami dan anak Ros".
"kita tunggu minggu depan saja Ros, setelah itu ibu menyerahkan semuanya pada kamu, tapi ibu nggak rela kalo anak ibu direndahkan seperti kemarin, dan ibu ingin membicarakan hal itu dengan Alden" ucap ibu.
Rosella mengangkat bibirnya lalu mengangguk, ia sangat bersyukur ibunya mau berbicara dengan Alden
Semoga esok kan baik-baik saja.
.
.
__ADS_1
.
LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋💋💋💋