
Flashback on.
Malam ini Alden sengaja menghampiri istrinya yang sedang berada di rumah mertuanya. Entah mengapa ada perasaan aneh yang mengganjal sedari Rosella pulang dari kantor tadi.
Menutup pintu mobilnya dengan pelan ketika sudah sampai di depan rumah mertuanya. Sebenarnya jam sudah hampir menunjukkan pukul dua belas malam. Tapi hatinya begitu tidak enak rasanya. Hingga akhirnya ia memilih kesini saja.
Pintu kayu itu ia ketuk, lalu menunggu beberapa saat. Tapi tidak ada sahutan dari dalam sana, ponsel Rosella juga sudah mati dari sore tadi.
"Rose" panggilnya sedikit meninggi.
Tapi itu semua sia-sia tidak ada sahutan lagi dari dalam sana.
"Mas Alden" panggil seorang laki-laki yang nampaknya sedang meronda.
"Pak Dedi" balas Alden yang kapan hari berkenalan dengan laki-laki itu.
"Loh, bukannya mbak Ros sama Bu Rini pergi dari tadi sore".
"pergi?" dahi Alden mengernyit ketika mendengarnya.
"Iya, saya kira pergi ke rumah mas Alden, apa mbak Ros nggak ngomong. Tadi mereka pergi menggunakannya pick up barang-barangnya banyak sekali seperti mau pindahan" ucap pak Dedi.
Kaki Alden lemas selemas lemasnya, jantungnya berdegup kencang takut apa yang di dalam pikiran nya adalah benar. Tapi tidak mungkin kan, paling-paling Rosella hanya ke rumah pak Dhe.
Mengepalkan tangannya kuat-kuat Alden segera berbalik mendekati pintu.
Brak!
Hanya dengan satu tendangan kaki pintu kayu itu terbuka dengan nyaring.
Pak Dedi menelan ludahnya kasar ketika melihat itu, dan segera mengikuti Alden yang sudah memasuki rumah.
"Ros!" panggil Alden masih mencari kepastian.
Menuju kamar Rosella yang sudah rapi tanpa segelintir barang pun, lemarinya benar-benar kosong, foto-foto disana sudah tidak ada semua.
Beralih ke kamar ibu berharap ini hanya omong kosong saja "buk. ..ibu". Hal yang sama dengan kamar ibu.
Tidak ada pakaian mereka yang tertinggal sehelai pun, dada Alden naik turun begitu nyeri. Segera meraih ponselnya dan menggerakkan anak buahnya.
"Segera cari istri saya sampai ketemu!, jangan harap hidup kalian bisa tenang jika tidak ada kabar!" Alden mengatakannya dengan benar-benar emosi.
"Pak Dedi" panggil Alden segera menyerahkan kartu namanya "Tolong segera hubungi saya jika mendapatkan kabar tentang istri saya, meskipun saya juga akan menyuruh orang untuk memantau rumah ini".
__ADS_1
"Ba-baik pak eh mas" pak Dedi benar-benar gugup melihat Alden yang seperti ini.
Setelah itu Alden menyusuri setiap jalan keluar dari kampung itu, lalu sengaja melewati jalan tol perbatasan. Berharap mereka belum jauh.
Mencari di rumah pak Dhe pun juga sama kosongnya.
Ia benar-benar tidak tidur malam itu, menepikan mobilnya di jalan raya ketika mata hari mulai terlihat.
Entah emosi bagaimana yang harus ia ungkapkan. Tapi setelah mendapat kabar bahwa ini semua berhubungan dengan tante-tante nya ia segera pulang menuju rumahnya.
Mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa memperdulikan apapun, nyawa sudah tidak penting lagi baginya saat ini.
Ia seperti orang gila yang ugal-ugalan di jalan raya. Hanya berharap cepat bisa sampai rumahnya, karena mereka semua berada disana kata mamahnya. Alden bahkan mengabaikan telepon mamahnya sedari malam tadi.
Setelah beberapa saat Alden sampai di rumahnya. Membanting pintu mobil dengan nyaring, lalu memasuki rumah nya dengan rahang yang mengeras.
"Al" panggil mamah ketika melihat anaknya begitu kacau. Rambut dan pakaian nya acak-acakan juga lingkaran hitam yang terlihat jelas dibawah matanya.
"Kalian sembunyikan di mana istri ku!" kata-katanya benar-benar menghunus ingin membunuh orang saat ini.
"Al" ucap Tante Wina menelan ludahnya.
"Kamu ngomong apa sih Al" ucap Sarah pura-pura tak tahu segalanya.
"Alden!, jangan begini" ucap Melinda segera melepaskan cengkraman Alden "Mamah tidak pernah mengajari mu menjadi anak durhaka ya".
"Jika sampai terjadi sesuatu dengan Rosella dan ibu, kalian akan menanggung akibatnya" Alden segera pergi ke kamarnya, karena ia paham betul Tante nya tidak akan mengaku. Cukup cari saja bukti sebelum membuat mereka semua benar-benar menjadi gembel!.
Menghancurkan semua barang-barang yang berada di kamarnya Alden membabi buta, amukannya seperti orang yang kesetanan.
Suara benda-benda berjatuhan begitu nyaring, mengepalkan tangannya kuat-kuat sebelum akhirnya ia layangkan pukulan pada kaca rias yang tak bersalah.
"Kamu dimana Ros!" gumam nya yang sudah tidak memiliki tenaga lagi.
Bruk.
Dan hari itu ia benar-benar pingsan, tidak memakan apapun. Bagaimana ia bisa menelan makanan disaat istrinya hilang entah kemana.
Bahkan selama satu Minggu lamanya tidak ada kabar apapun dari istrinya. Sedangkan ia masih terbaring lemah diatas ranjang dengan infus ditangannya.
Setelah dua hari tidak makan apa-apa, perut Alden malah menolak semua makanan dalam bentuk apapun. Selalu mual jika menelan sesuatu dengan paksa.
Namun anehnya setelah satu bulan bersusah payah untuk makan tetap sama selalu mual, akhirnya Melinda memutuskan untuk melakukan semua pemeriksaan kesehatan. Dan anehnya lagi tubuh Alden baik-baik saja.
__ADS_1
Tapi ada satu hal yang membuat Melinda merasa aneh, perut Alden malah menerima makanan yang asam-asam. Alden pun sering meminta dibelikan ini itu.
Melinda benar-benar takut untuk memberitahu Alden tentang itu. Karena Alden baru saja kembali normal, ia benar-benar tidak ingin Alden menjadi manusia lemah lagi.
Ya meskipun saat ini dia adalah monster galak, tapi setidaknya ia sudah mampu untuk bekerja dan melanjutkan hidup.
Flashback off.
"Dan kamu perlu tahu Ros, mamah tidak pernah melihat Alden menangis sepilu itu selama dia hidup" Melinda menggenggam tangan Rosella yang sudah bercucuran air mata.
"Dia menangis begitu menyedihkan, setiap malam tidur nya selalu menangis terisak sampai kesulitan untuk sekedar bernafas".
"Dia selalu mengkhawatirkan mu, apakah kamu makan dengan benar?, apakah kamu terlindungi dari panas dan hujan?. Dia merasa menjadi laki-laki payah juga suami yang tak berguna".
"Mamah sendiri yang menjadi saksi betapa besarnya cinta Alden yang dimiliki untuk mu".
Air mata Rosella mengalir sederas-derasnya. Seberat itukah hidup Alden tanpanya. Rasa bersalah kembali menganga dalam dadanya.
"Mamah" Isak Rosella memeluk Melinda.
"Cukup dijadikan pelajaran saja" ucap Melinda menenangkan.
"Mah, rose mau ke kantor mas Alden" ucap Rosella segera menghapus air matanya meskipun isakan kecil masih tersisa.
"Sekarang?" tanya Melinda bingung.
"Iya".
"Ros, kamu tahu sendiri kan Alden melarang mu untuk kemana-mana" ucap Melinda, karena itu yang sudah menjadi perintah Alden yang harus dipatuhi selama Rosella hamil.
"Ros, mohon mah" ucap Rosella begitu memelas "Ros, minta tolong sama pak kus kok buat anterin".
Melinda hanya bisa mengangguk pasrah melihat Rosella yang sepertinya tidak bisa menahan diri untuk bertemu dengan suaminya.
Rosella tersenyum kecil dan segera beranjak "Ros, mau masak dulu makanan kesukaan mas Alden dulu" ucap Rosella uang membuat Melinda tersenyum.
.
.
.
LIKE KOMEN DAN VOTE GAESSS 💋
__ADS_1