Bartender Cantik Ku

Bartender Cantik Ku
Bapak-bapak galak


__ADS_3

Setelah beberapa saat keduanya menumpahkan tangisnya, membiarkan hatinya meraih ketenangan satu sama lain.


"Sudah, cukup" ucap Alden menghapus pipi Rosella yang sangat basah "nanti dia ikut nangis" Tangannya menyentuh perut Rosella yang sedikit lebih keras dan berisi.


"mas aku laper" ucap Rosella mengerucutkan bibirnya dengan lucu. Mengubah suasana haru menjadi lucu, ia memang begini akhir-akhir ini.


"mau makan apa?" senyuman Alden terus tersungging menampilkan lesung pipinya.


Kecupan-kecupan kecil ia hadiahkan pada pipi gembul Rosella.


Bukannya menjawab Rosella malah asik bermain dengan lesung pipi suaminya "Ganteng banget sih" ucapnya begitu kesal. Bagaimana jika suaminya dilirik oleh wanita lain.


Terkekeh geli Alden mengecup bibir Rosella dengan gemas "Kalo nggak ganteng kamu mana mau". ledek nya "orang ganteng-ganteng gini dulu juga kamu susah banget ditaklukin nya".


"Jual mahal dikit lah mas" ucap Rosella seraya membenarkan dasternya dan berdiri.


"Aku mau makan tempe goreng aja, ayo temenin ke dapur" Rosella membawa tangan Alden agar mengikuti nya.


"Biar aku aja yang goreng" ucap Alden segera berdiri.


"makasih suami ku".


.


.


.


Mata Alden tak bosan memandangi wajah cantik yang sedang terlelap disampingnya. Enggan untuk beranjak bangun padahal matahari sudah begitu silau diluar sana.


"Jadi ini yang membuat mu malas-malasan akhir-akhir ini" senyuman tak pudar dari bibirnya. Katakanlah ia memang laki-laki bodoh tak menyadari perubahan istrinya selama ini.


Bangun terlambat, malas-malasan, jarang mandi. Pokoknya Alden selalu mengomel soal itu.


"Tidurlah, tidur sepuasmu" mengecup kening Rosella dan beranjak bangun. Namun tangan Rosella menahannya dan kembali memeluk nya.


"Mas, ini hari apa. Bukannya masih libur" dengan mata yang masih terpejam menguyel-uyel sang suami.


Mendekap tubuh Rosella begitu erat "baiklah, aku masuk siang hari ini. Ayo tidur lagi aku temani" ucap Alden dengan gemas.


Tiba-tiba gejolak pada perutnya tak bisa tertahankan, Rosella segera bangun menyingkap selimut nya dan berlari kecil menuju kamar mandi.


"Huek. . huek. ."


Alden berlari panik menghampiri istrinya, mengusap lembut punggung istrinya yang muntah tapi tak mengeluarkan apa-apa.


"Kamu nggak papa?" ucap membantu mengelap bibir Rosella.


Rosella menggeleng lemah "selalu begini setiap pagi, tapi aku nggak mau kamu tahu" ucap Rosella lemas.


Alden menggendong tubuh Rosella tanpa seijin nya, membawanya pada ranjang kembali. "kamu bisa bangunin aku". lanjutnya menyerahkan segelas air putih pada Rosella.


Rosella mengangguk, sudah lemas malas berdebat "Aku hanya menunggu sampai ulang tahun mu tiba".

__ADS_1


Merebahkan tubuhnya kembali pada kasur yang empuk "Mas peluk sebentar sini" ucap Rosella mengadahkan tangannya.


Alden menurut begitu saja dan ikut berbaring segera memeluk Rosella "Apakah dulu saat mengandung Alron juga begini?" tanya Alden khawatir.


"Enggak, nggak pernah muntah malahan" jawab Rosella memejamkan matanya.


"Hamil muda kan biasanya muntah terus" ucap Alden yang memang tahu akan hal itu.


"Ya, kemungkinan tidaknya hanya beberapa persen. Mungkin Alron tahu saat itu jika aku sedang tidak bersamamu" ucap Rosella terhenti ketika menyadari sesuatu.


"Atau jangan-jangan kamu yang mual waktu itu mas?" tanya nya begitu heboh.


Alden mengingat kejadian beberapa tahun lalu. Jawabannya adalah iya "Dulu setelah kamu pergi aku memang muntah karena jarang makan kata dokter. Tapi begitu aku tidak telat makan juga sama saja. Sampai-sampai aku melakukan Rontgen".


Rosella tak bisa menahan tawanya "itu bukan sakit mas" ucap Rosella terkekeh.


"Iya aku baru tahu setelah mamah mengatakannya setelah kita membawa Alron kesini. Aku tidak mengatakannya padamu karena malu" menggaruk tengkuknya yang tidak gatal Alden menjadi salah tingkah.


"Makasih ya udah gantiin aku buat mual-mual" goda Rosella mencolek dagu Alden.


"Tapi disisi lain aku bersyukur, setidaknya itu mengurangi beban mu".


Rosella mengangguk, paham betul arah pembicaraannya suaminya. Jadi sebelum mereka sama-sama menangis lebih baik mengakui pembicaraan sensitif ini.


"Makan yuk, laper" ucap Rosella mengalihkan pembicaraan. Memegangi perut buncitnya.


Alden segera beranjak melabuhkan kecupan pada bibir dan perut istrinya "Dedek pasti lapar ya" mengusap-usap perut Rosella dengan sayang.


.


.


.


Makan malam hari ini sedikit spesial dari biasanya, beberapa menu sudah tersaji di meja makan.


Rosella dan Alden menunggu tamu nya sembari ngemil kuaci, itu kebiasaan aneh Rosella salah satunya setelah mengandung. Harus ada kuaci sebelum makan.


"Adek mau mom" Alron yang sibuk bermain kesal pada Mommy nya karena tidak disuapi.


"Suruh Daddy mu sana" ucap Rosella menunjuk Alden yang juga sibuk memisahkan kulit kuaci untuk sang istri.


"Apa mom?" tanya Alden bingung.


"Anakmu juga mau kuaci Dad" ucap Rosella yang sibuk mengunyah.


"Aku juga mau dong Mom" ucap Axel yang baru saja datang.


"Sana-sana suruh Daddy" Rosella tersenyum puas ketika melihat Alden jengkel. Itu salah satu hobinya setelah mengandung. Melihat wajah kesal Alden adalah kebahagiaan tersendiri.


Suara bel pintu membuat Rosella beranjak dengan semangat, berjalan sedikit tergesa-gesa.


"Mommy!" sentak Alden yang membuat Rosella kaget dan memberhentikan langkahnya.

__ADS_1


"Apa sih Dad, nggak usah teriak" ucapnya kesal.


Alden segera mendekati Rosella "Sudah berapa kali sih aku bilang, kamu itu lagi hamil, bisa nggak sih jalannya hati-hati" Ini sudah yang ke empat kalinya dalam sehari Alden mengingatkan hal itu.


Jengkel sudah Rosella tidak mengindahkannya.


Tersenyum semanis mungkin segera memeluk lengan Alden "Daddy maaf ya, lupa" ucapnya mengerjapkan matanya dengan lucu.


"Sekali lagi mengulangi hal itu, aku pastikan kamu tidak akan keluar dari kamar" ancamnya segera membukakan pintu.


Rosella hanya bisa menggerutu sembari mengikuti langkah Alden.


"Rose" ucap wanita yang berada dibalik pintu langsung memeluk Rosella dengan erat "Ros, hiks. . kamu kemana saja" Mimi tak bisa membendung rasa rindunya pada Rosella.


"Kenapa menghilang begitu saja" Sesak sekali rasanya kehilangan sosok yang sudah ia anggap sebagai adik.


"Mau apa!" sentak Alden menghalangi laki-laki yang ingin ikut berpelukan bersama mereka.


"Lo nggak berubah ya!" ucap Renal kesal.


Rosella dan Mimi yang menangis pun lalu tersenyum melihat mereka "Daddy jangan gitu".


"Nah, iya kan Ros juga kangen sama gue" ucap Renal percaya diri, segera memeluk Rosella sejenak dan berlari kecil menuju ruang tamu.


"Sialan!" umpat Alden kesal.


"Daddy udah" Rosella mengusap-usap punggung Alden agar tak emosi.


"Emang bapak-bapak bawaan nya emosi aja ya, dasar bapak-bapak galak!" ejek Renal kemudian ikut bergabung bersama dua bocah yang tengah asik memakan kuaci.


"Eh ini anak siapa?" ucap Renal terkejut.


"Anak gue" sahut Rosella segera duduk disusul Alden dan Mimi.


"Udah dua?" tanya Renal seolah tak percaya, bahkan wajah Rosella masih seperti tahun-tahun sebelumnya. Tak bertambah tua sama sekali.


"Mau tiga" sahut Alden mengusap perut Rosella.


"Wah, gila . . . gercep juga ya om Lo Ros".


"Mulutmu nal" sahut Rosella mewakili suaminya.


Mimi menggelengkan kepalanya melihat tingkah Renal yang tak berubah, suka sekali mengusili orang lain.


Tapi yang pastinya rindu dengan suasana seperti ini. Suasana hangat dan nyaman yang tidak bisa dibeli oleh apapun. . .itulah persahabatan.


.


.


.


LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋

__ADS_1


__ADS_2