Bartender Cantik Ku

Bartender Cantik Ku
Menikmati kesendirian


__ADS_3

Namun segila-gila nya Alden ia tidak mungkin melakukan hal yang lebih dari itu, mengingat kondisi Rosella masih belum pulih.


Rosella membuka matanya saat Alden menghentikan pergerakan nya.


"kenapa berhenti?"


"tunggu luka mu sembuh dulu" ucap Alden kemudian berdehem sejenak, memikirkan berbagai posisi pun akan tetap menyakiti punggung Rosella.


Alden menggelengkan kepalanya sendiri


kenapa otakku jadi mesum begini.


Perlahan Alden mulai membantu Rosella mengganti perbannya. "kenapa DARKROSE?" ucapnya mengalihkan pembicaraan.


"kehidupan ku yang gelap di dunia malam" ucap Rosella menatap kosong.


"sekarang kan sudah tidak lagi".


"iya, tapi itu semua akan selalu tersimpan disini" ucap Rosella menepuk-nepuk pundak nya.


"apakah kamu senang bekerja di bar?"


"sangat" ucap Rosella tersenyum, ia sudah sangat bersahabat dengan profesi nya.


"maafkan aku, karena aku hanya ingin yang terbaik untuk istriku. . . karena sekarang kamu adalah tanggung jawab ku, lebih baik kamu duduk manis dirumah menunggu ku pulang daripada bekerja disana, hatiku sungguh tidak tenang" jelas Alden panjang lebar.


"iya aku paham, aku akan berusaha menurutimu , karena sekarang aku adalah hak mu sepenuhnya Dad".


Alden mengusap puncak kepala Rosella "ayo tidur".


.


.


.


"kenapa nggak tinggal lebih lama sih" ucap Melinda pada sahabat sekaligus besannya itu.


"iya buk, atau nggak tunggu mas Alden saja" ucap Rosella karena sang ibu kekeh ingin pulang pagi ini, sedangkan Alden sudah berangkat bekerja.


"ibuk udah kangen sama ayam-ayam ibuk, nggak ada yang kasih makan" ucap ibu kemudian tertawa.


Rosella mengingat sesuatu "buk ikut Ros sebentar ya, ada yang mau Ros tunjukin"


"apa?".


"mah, Ros keluar sebentar sama ibu nggak papa kan?, abis itu ibu biar langsung dianter pak Kus saja" ucap Rosella meminta ijin.


"kalo kamu udah ngerasa mendingan nggak papa Ros" ucap Melinda.


"udah nggak papa kok mah, udah nggak terasa sakitnya".


.


.


.


Ibu Ros begitu heran saat Rosella mengajak nya ke area perumahan yang bisa disebut minimalis ini.


"kenapa kesini Ros?" tanyanya.

__ADS_1


"udahlah buk, tunggu nyampe dulu"


Beberapa saat kemudian. . .


"pak berhenti di rumah yang cat nya abu-abu ya" ucap Rosella.


"siap mbak".


Pak Kus memberhentikan mobilnya pada rumah minimalis dua lantai berwarna abu-abu putih itu,


mereka turun dari mobil.


"Ros ibu kok nggak asing ya dengan mobil ini" ucap ibu memperhatikan mobil keluarga Siregar yang tadi di tumpangi mereka.


"sering lihat dijalan kali Bu, banyak yang modelnya begini".


"tapi--"


Rosella menarik tangan ibunya mengajak masuk dirumah itu.


"rumah siapa?, kok kamu ada kuncinya" tanya ibu terheran pada Rosella yang membuka pintu rumah itu.


"ayo" ucap Rosella menggenggam tangan ibunya.


Rumahnya memang tidak terlalu luas dan mewah, namun cukup bagus daripada rumahnya dikampung ataupun kontrakan nya dulu. . .


rumah kecil yang begitu nyaman dipenuhi dengan tanaman yang hijau, semuanya pun tertata rapi dan bersih.


"rumah siapa Ros" ucap ibu memperhatikan sekeliling.


Rosella mengajak ibunya untuk duduk disofa lalu ia mengeluarkan map dari tas ranselnya "ini" ucap Rosella menyerahkan nya pada ibu.


"i. . ini. ."


"iya ini rumah ibu" ucap Rosella tersenyum.


Namun ibunya malah memukulnya dengan map itu. "buk sakit" keluh Rosella.


"eh lupa Ros" ucap ibunya yang lupa jika Rosella sedang terluka. "kamu pakek uang Alden!" sentak ibu.


"enggaklah buk, itu sepenuhnya uang Ros sendiri" yah meskipun Rosella sekarang benar-benar tidak punya sepeserpun kecuali uang yang berada di ATM yang diberikan oleh Alden. ia benar-benar kere sekarang. . . apalagi gajiannya masih lama sekali.


"darimana kamu punya uang sebanyak ini" tanya ibu penuh selidik memperhatikan rumah ini , dan bukan harga yang murah pastinya.


"Ros nyicil selama tiga tahun ini" ucap Rosella santai.


"nyicil?"


"iya Bu, Ros bela-belain tinggal di kontrakan kumuh kayak gitu. . Ros bela-belain buat nggak belanja apapun demi ini" ucap Rosella menatap puas pada rumah hasil kerja keras nya.


ibunya masih terdiam mencerna kata-kata Rosella. . .


"ibu kan selama ini selalu tanya uang Ros buat apa, ya ini jawabannya. . . Rosella selalu mengirimkan uang yang terkesan cukup untuk ibu padahal gaji Ros banyak, ya untuk rumah ini Bu. . . untuk perlengkapan rumah sekaligus".


Ibu tiba-tiba memeluk Rosella dan menangis.


"untuk apa kamu beli rumah ini" ucap ibunya terisak.


Rosella menepuk-nepuk punggung ibunya "untuk ibu, kan Rose kerjanya disini terus. . Rose pengen ibu tinggal disini".


"Ros, kamu sudah punya suami. . . biarkan ibu menetap di kampung saja"

__ADS_1


Sebenarnya bukan itu alasan Rosella, melainkan ia takut jika suatu saat akan berpisah dengan Alden. . jadi setidaknya ia harus menyiapkan segalanya. tapi ia tetap berharap semoga ia dan Alden bisa lekas saling mencintai, agar tidak ada perpisahan.


"ini kalo sewaktu waktu ibu mau kesini untuk waktu yang lama, rose tau ibu sungkan tinggal di rumah Alden".


Ibunya akhirnya mengangguk pasrah, begitu bangga ia pada putrinya yang bisa dikatakan tulang punggung keluarga bahkan kadang-kadang Rosella juga membantu saudara nya yang kesusahan.


"oh iya, kamu itu sekarang nggak usah transfer ibu lagi" ucap ibu.


"kenapa?"tanya Rosella kebingungan.


"Alden sudah transfer ibu, dia memaksa padahal ibu sudah melarangnya"


"oh iya" ucap Rosella yang masih tercengang.


"iya katanya itu sudah tanggung jawabnya, tapi bilang sama Alden Ros jangan terlalu banyak" ucap ibu begitu sungkan dengan menantunya.


"emang berapa?"


"dua digit" ucap ibu mengangkat dua jarinya.


"apa?, berapa?!"


"sepuluh juta" ucap ibu yang membuat Rosella menganga, itu baru untuk ibunya. . . jadi berapa jatah bulanan nya?.


.


.


.


Setelah ibunya pulang diantar oleh supir, Rosella memutuskan untuk naik ojek online, ia pergi ke cafe shop dekat rumah Alden.


ia memasuki cafe shop itu sendirian, kemudian memilih meja yang berada di pojokan.


Kali ini ia benar-benar menggunakan uang Alden, karena uangnya benar-benar habis dan tak tersisa. tapi tidak apa setidaknya dengan melihat rumah barunya rasa lelahnya selama ini terobati.


Rosella menyesap kopi karamel yang begitu lembut di lidahnya. ia menatap sekeliling yang dipenuhi dengan orang-orang yang sedang mengobrol santai.


ia sungguh sangat menikmati kesendirian nya sekarang ini, terkadang ia juga butuh sepi untuk merenungkan atau sekedar menenangkan dirinya dan semua masalah yang dihadapinya.


Rosella menatap laki-laki yang baru saja memasuki kafe shop ini, ia mengingat-ingat nya.


siapa ya? seperti nya kenal.


Matanya membulat seketika saat mengingat laki-laki itu dan sialnya pandangan mereka bertemu , laki-laki itu juga menatap dirinya.


Andre Zo?


dan benar saja ia langsung tersenyum dan melangkahkan kaki dengan percaya dirinya kearah meja Rosella.


.


.


.


**Bentar lagi tahan ya part bobol gawang nya😂,


vote dulu aja komen juga like 💋💋💋


lopeyuall 💋💋💋**

__ADS_1


__ADS_2