
Rosella tersenyum kecut menatap gedung yang menjulang tinggi didepannya, ia sungguh merasa tidak profesional sama sekali, jadi ia memilih untuk mengundurkan diri saja.
Dengan langkah pasti, ia memijakkan kakinya disana, dan menuju ruangan yang selama ini ia tempati.
"Ros" panggil Sandy yang membuat ia menoleh.
"Mas Sandy, eh pak maksudnya" ucap Rosella sungkan.
"Santai saja"
"ada yang mau saya bicarakan pak" ucap Rosella menatap Sandy dengan serius, selaku atasannya.
Sandy mengajak Rosella keruangan nya, lalu duduk disofa.
Rosella menyerahkan map cokelat itu pada Sandy
"saya mau resign pak" ucapnya yang membuat Sandy sedikit terkejut.
"kenapa?" tanya Sandy yang masih terkejut.
"ada alasan pribadi" ucap Rosella yang tidak ingin Sandy mengetahuinya.
Sandy tersenyum kecut menatap Rosella, "saya baru tahu ternyata yang punya kantor ini suamimu ya Ros".
"hehe iya mas" jawab Rosella, karena Sandy adalah pimpinan divisi periklanan dan maka dari itu ia pasti tahu saat rapat, dan Alden juga memutuskan untuk memberitahu Sandy waktu itu.
"hebat kamu Ros" puji Sandy, ia benar-benar ikut berbahagia jika mengingat betapa sulitnya hidup Rosella dulunya.
Setelah itu mereka berbincang kecil dan Rosella bukan pamit ketika waktu sudah hampir masuk jam kerja.
ia berencana akan menunggu sampai jam makan siang dan berpamitan pada Vita dan juga Junot.
Senyumnya mengembang ketika ia hendak melangkahkan kakinya menuju lantai atas , ruangan suaminya.
Kaki Rosella melangkah dengan pasti, memikirkan Alden selalu membuatnya berbunga-bunga, laki-laki batu itu berhasil membuatnya meleleh, apalagi adegan panas tadi malam, rasanya benar-benar nikmat ketika mereka lama tak melakukannya.
"Rosella" panggil seorang yang membuatnya menoleh kebelakang.
Tubuh Rosella menegang ketika melihat dua wanita paruh baya, sosialita, cantik membahana.
"Tante" sapa nya mencoba sopan.
"ada yang mau Tante bicarakan" ucap Sarah pada Rosella, dan Rosella tahu dua mak lampir ini sangat tidak suka padanya.
Rosella cuek selama ini, toh mereka kan juga punya hak untuk membenci Rosella, dan ia tidak keberatan.
Rosella mengangguk, meskipun sebenarnya takut tapi ia tidak pernah menunjukan itu, justru ia bersikap sesantai mungkin.
__ADS_1
Dan disinilah ia sekarang, ia digiring ke ruangan meeting yang sedang kosong oleh kedua Tante Alden, Tante Sarah dan Tante Wina yang notabene adalah adik dari papah.
"gimana, ibu kamu tetep mau bawa kasus ini ke pengadilan?" sidik Wina, wanita itu bahkan jarang di Indonesia tetapi karena mendengar masalah ini ia harus repot-repot pulang.
"ibuk hanya ingin melihat ketulusan papah dengan cara itu Tante" ucap Rosella santai.
"ibu kamu udah bosen hidup ya" ucap Sarah yang membuat Rosella ingin sekali menampar wajahnya.
"Tante mulutnya bisa dijaga nggak!" ucap Rosella yang mulai emosi.
"kamu tunggu saja tanggal mainnya, sampai kamu akan benar-benar sendiri di dunia ini, berani-beraninya kamu menantang keluarga Siregar" ucap Wina menatap tajam pada Rosella.
"Toh sebentar lagi Alden juga akan meninggalkan mu" ucap Sarah .
Oke , dua lawan satu dan Rosella tidak akan menang menghadapi dua wanita licik ini.
Sarah menunjukkan ponselnya pada Rosella "lihat , Axel sudah terbiasa tanpamu hahaha dan sekarang ia sedang bersenang-senang bersama ibu kandungnya" ucap Sarah.
Mata Rosella memanas ketika melihat foto Axel dan Jessica pada layar ponsel itu, apalagi Alden juga berada disana.
Tapi kenapa ? , kenapa Alden tidak memberitahu dirinya, ia memang ingin mempertemukan Axel dan ibunya tapi bukan begini caranya, rasanya ia benar-benar terkhianati.
"sekarang kamu sudah percaya kan , kalo Alden tidak lagi membutuhkan mu, wanita murahan" cecar Wina yang membuat air mata Rosella tidak terbendung lagi.
"saya tidak akan terpengaruhi oleh omongan kalian berdua" ucap Rosella menghapus air matanya, ia sekuat mungkin mencoba untuk tegar.
"saya percaya dengan mas Alden, dia akan melindungi saya dan tidak akan membiarkan ibu dalam bahaya" ucap Rosella kemudian pergi darisana.
ia segera menuju ruangan Alden, menghapus air matanya dan melengkungkan bibirnya dengan terpaksa.
ia membuka perlahan pintu ruangan Alden "mas" panggilnya pada Alden yang tengah sibuk dengan pekerjaan nya.
"Ros" Alden tersenyum dan menghampiri istrinya.
Memeluknya dan meninggalkan kecupan lembut pada dahi Rosella.
"kamu sama siapa?, kenapa nggak tadi sekalian bareng saja kalau mau kesini" ucapnya menuntun Rosella agar duduk di sofa.
"cuma mau kasih surat resign kok" ucap Rosella terus menatap Alden dengan tatapan yang tidak biasa.
"ada apa?" tanya Alden menyingkirkan anak rambut Rosella.
"mas bolehkah aku kecewa padamu" ucap Rosella dengan bibir yang bergetar.
"sayang" Alden membawa Rosella pada pelukannya "ada apa?".
"kamu bertemu Jessica tanpa sepengetahuan ku mas" ucap Rosella begitu sesak, bahkan disaat seperti ini seharusnya mereka saling menguatkan bukan mengkhianati seperti ini.
__ADS_1
Deg!
Tubuh Alden menegang seketika saat mendengarnya, ia pikir akan menutupinya dari Rosella selama masalah keluarganya belum selesai.
Ini semua ulah tantenya yang tiba-tiba saja membawa Jessica untuk menemui Axel, namun anak itu masih tidak mengetahui bahwa Jessica adalah ibu kandungnya.
Pasalnya Alden melarang keras memberi tahu Axel, karena anak itu masih sangat kecil untuk mengerti semuanya.
"Ros" Alden menangkup wajah Rosella yang sudah basah oleh air matanya "maafin aku, aku berencana untuk memberitahukan ini semua setelah masalah ini selesai" ucapnya mencoba menjelaskan.
Rosella menggeleng "mau kamu hancurnya seperti apalagi mas rumah tangga kita" ucap Rosella menghela nafasnya "kita seharusnya membuat hubungan ini semakin kuat karena terpaan badai diluar sana, tapi apa ini" lanjutnya.
"maafkan aku sayang" ucap Alden mengecup tangan Rosella.
"apakah kamu ingin rumah tangga kita benar-benar hancur mas, aku mati-matian memperjuangkan kebersamaan untuk kita, aku mati-matian bertahan dengan sikap Tante kamu yang sangat nggak suka sama aku" ucap Rosella menepuk dadanya yang begitu nyeri.
"Tante Wina yang membawa Jessica kesini Ros" jelas Alden.
"sekarang itu sudah tidak penting, sekarang aku tanya apa mau mu mas, kemarin kamu memarahiku habis-habisan karena tidak jujur tentang ibu yang menyuruh kita berpisah, tapi apa sekarang?!"
Alden terdiam dan menunduk, matanya sudah memanaskan, takut-takut Rosella yang terbawa emosi akan mengatakan hal yang tidak-tidak.
*Tapi Rosella tidak pernah seemosi ini sebelumnya.
ada apa*?
"Kamu benar-benar menguji ku mas, aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana" ucap Rosella kemudian terdiam.
"maaf atas ketidakjujuran ku yang menyakiti hati mu Ros" ucap Alden yang mencoba bersabar pada Rosella, sudah terlalu pusing ia memikirkan banyak masalah.
Masalah perusahaan, masalah keluarganya, belum lagi ia harus menjaga ketat ibu dan Rosella dari kejauhan, dan tentang Jessica ia ingin bersikap cuek dan tidak tahu saja sebenarnya.
tapi apakah daya Rosella sudah tahu terlebih dahulu dan bebannya benar-benar nyata sekarang.
goyah sedikit saja bisa hancur semuanya.
.
.
.
MAAF YA GAESSS UP NYA LAMA, KARENA KALO SAAT KONFLIK PASTI KEHILANGAN KEPERCAYAAN DIRI UNTUK MENULIS, KARENA RATA-RATA KOMENTAR NYA JAHAT HAHAHA. . . CANDA GAES.
NAIKIN RANKING NYA LAGI DONG BIAR CEPETAN UP.
LOPEYUALL 💋💋💋
__ADS_1