Bartender Cantik Ku

Bartender Cantik Ku
Secara diam-diam


__ADS_3

"Alden" ucap Bu Dhe yang membuat Rosella membelalakkan matanya seketika, ia berlari kecil untuk membuka pintu.


Dan benar saja, Alden berdiri dengan gagahnya didepan pintu, matanya bertemu dengan mata lentik Rosella, menyelami perasaan yang tidak bisa diucapkan satu sama lain.


Alden membawa tubuh Rosella dalam pelukannya, merengkuh nya dengan hangat dan sesekali memberikan kecupan pada dahi Rosella.


"mas".


"Ros" lirih Alden yang tidak bisa lagi membendung rasa khawatir dan rindunya, ia tidak melepaskan Rosella sejengkal pun.


Tangan Rosella ikut merengkuh tubuh kekar itu, mencari kehangatan dalam tubuh berotot suaminya, ia menghela nafasnya.


"mas jangan disini" ucap Rosella menoleh ke belakang, takut-takut ibunya tahu Alden ada disini, ia tidak bisa membayangkan jika ibunya berkata seperti tadi pada Alden.


"Bu Dhe , Ros keluar sebentar ya" ucap Rosella pada Bu Dhe yang masih mematung diambang pintu.


"i-iya Ros".


Alden dan Rosella mencium tangan Bu Dhe secara bergantian, lalu pergi dari sana menaiki mobil Alden.


"kita berhenti di didepan ya" ucap Rosella yang membuat Alden mengangguk.


"disini?" tanya nya ketika melihat tempat parkir yang lumayan sepi.


"iya, disana ada danau kecil" ucap Rosella menunjukkan sebuah tempat yang dikelilingi oleh pohon-pohon besar.


....


Alden dan Rosella duduk di kayu besar sebelah danau itu, Rosella memejamkan matanya menghirup udara segar ini yang begitu menenangkan.


Boleh kah aku melupakan masalah ku sebentar saja?


Alden yang tengah memandangi wajah cantik istrinya, dadanya begitu nyeri saat melihat Rosella pucat seperti ini kedua matanya pun masih terlihat sembabnya.


Alden membawa kepala Rosella agar bersandar pada pundaknya yang nyaman.


"Kamu pucat, mana yang sakit?" tanya Alden mengusap lembut rambut Rosella.


"cuma kurang tidur aja kok" jawab Rosella melingkarkan tangannya pada perut Alden.


"tidur sebentar gih, nanti kita baru bicara" ucap Alden semakin merengkuh tubuh rapuh itu.


Rosella mengangguk lemah "sebentar saja ya mas" ucapnya semakin menelusupkan kepalanya pada dada kokoh itu.


Dan benar saja Rosella benar-benar terlelap, bersandar pada Alden seperti ini membuat sedikit bebannya berkurang.


Entah sudah berapa lama, Alden sangat menikmati moment seperti ini, yang pasti ia sangat rindu sekali dengan Rosella, wanita yang biasanya ia cari di sudut manapun ketika di rumah, kini tak lagi ada disana menghangatkan dirinya.

__ADS_1


Rosella menggeliat dan matanya sayup-sayup terbuka, pandangannya bertemu dengan Alden yang tengah menatapnya.


Alden tersenyum manis padanya "udah bangun?" tanya membelai pipi Rosella.


Rosella mengangguk "maaf ya lama" ucapnya setelah melihat jam pada pergelangan tangannya.


"nggak papa Mommy" ucap Alden mengusap lembut rambut Rosella.


"Dad, aku kangen Axel" ucap Rosella termenung mengingat sosok mungil itu.


"dia juga merindukan mu, ayo pulang Ros" ucap Alden menggenggam erat tangan Rosella.


Mendengar hal itu membuat Rosella menatap kosong pada danau "aku nggak bisa tinggalin ibuk dalam kondisi seperti itu mas" ucapnya menghela nafasnya yang berat.


"kita ajak ibu, aku akan berbicara pada ibu"


"jangan mas, ibu belum siap" ucap Rosella khawatir.


Alden mengangguk "aku akan menunggu Ros, bilang saja jika ibu sudah sedikit tenang" ucap Alden begitu yakin.


Doakan saja perkataan ibu tadi hanyalah emosi sesaat saja mas.


lagi-lagi Rosella menunduk mengingat betapa seperti diremas hatinya ketika ibunya menyuruh untuk bercerai dengan Alden.


"Ros, apapun yang terjadi katakanlah, jangan memendam nya sendirian" ucap Alden menatap dalam pada Rosella.


Tangisnya pecah, tak mampu ia bendung lagi, ia sangat takut jika harus berpisah dengan Alden dan anaknya.


Dan ia benar-benar tidak bisa memilih antara ibunya atau suaminya, kedua manusia itu segalanya untuk Rosella.


"apakah sesakit itu menerima kenyataan ini" ucap Alden mengusap-usap punggung Rosella yang bergetar.


Rosella tidak menjawab dan semakin terisak pada dada Alden.


"aku akan berjuang untuk kita Ros, sembuhkan sakit hatimu pada papah dahulu , meskipun itu sulit".


"aku selalu menunggu mu. . . aku dan Axel akan selalu menantikan mu di rumah kita".


Sebenarnya tanpa sepengetahuan Rosella Alden sudah menyiapkan rumah untuk keluarga kecilnya, dan ia berencana akan memberikan Rosella kejutan untuk itu.


Setelah puas menumpahkan semua tangisnya pada Alden, Rosella mengusap air matanya yang membekas di pipinya.


"udah nangis nya" ucap Alden ikut mengusap air mata Rosella.


Rosella mengangguk "ayo pulang mas udah sore" ucap Rosella hendak berdiri namun Alden menahan tangannya.


Alden secepat kilat dan meraih tengkuk Rosella lalu meraup bibir Rosella dengan lembut dan memabukkan.

__ADS_1


Rosella mencengkeram erat kaos Alden, jujur saja ia sangat ingin hal yang lebih dari ini, namun tempat ini sangat tidak memungkinkan.


Keduanya menyudahi ciuman mereka dengan nafas yang terengah, saling menatap penuh cinta satu sama lain.


Alden tersenyum mempesona memperlihatkan lesung pipinya, dan itu selalu berhasil membuat Rosella tersipu.


"akhir pekan aku akan mengajak Axel kesini, aku harap ibu sudah tenang ya".


Rosella mengangguk ragu "maaf ya mas, aku benar-benar tidak bisa meninggalkan ibu"


"iya Ros, aku paham dan papah juga berniat untuk segera meminta maaf padamu dan ibu".


Mendengar itu membuat Rosella khawatir, ia sendiri belum sanggup untuk bertemu papah, apalagi ibunya.


"ayo pulang mas" ucap Rosella berjalan mendahului Alden.


.


.


.


Sudah hampir sepekan mereka terus bertemu secara diam-diam. Ibu masih saja sering mengatakan hal itu, namun Rosella hanya bungkam melihat ibunya yang kini sakit-sakitan.


Hari ini Rosella menemani ibu untuk cek kesehatan pada klinik dekat rumahnya.


ia sedang berbicara pada salah satu dokter yang sedang bertugas disana.


"Jadi seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya mbak Ros, memang sakit Bu Rini itu berasal dari pikiran semua, mbak Ros harus bisa membantu melonggarkan pikirannya atau menasehati ibu agar tidak terlalu memikirkan apapun saat ini" ucap nya yang membuat hati Rosella berdenyut nyeri.


"saya akan mencoba berbicara dengan ibu saya".


lirihnya.


"saya tahu mbak Ros anak yang berbakti" ucap dokter Rian tersenyum "turuti saja permintaan nya atau ajak ibu berlibur"


Rosella hanya mengangguk sembari tersenyum kecut. . .


.


.


.


SABAR YA MBAK ROS 😌


LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS SEBANYAK-BANYAKNYA 💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2