
"baiklah" ucapnya menyerah daripada harus berdebat kembali dengan Rosella.
"Dad jujur saja , aku memang tidak berniat mencari suami seorang pengusaha" ucap Rosella kembali mengingat perkataan pak Burhan tadi.
"jangan termakan omongannya Ros"
"aku takut kamu akan memandang ku sebelah mata"
"aku tahu kamu bukan wanita yang seperti itu, bahkan baru kemarin kamu menggunakan uang jatah bulanan mu" ucap Alden , karena ia selalu mengecek pengeluaran kartu yang ia berikan pada Rosella.
"itu pun karena kepepet" ucap Rosella kemudian melipat bibirnya karena keceplosan.
"kepepet kenapa, uang mu dari Bartender sudah habis ?" tanya Alden .
"iya ludes semuanya"
"untuk apa kamu membeli rumah?" tanya Alden yang membuat Rosella membelalakkan matanya seketika, bagaimana Alden tahu jika ia membeli rumah.
"ba bagaimana kamu tahu?"
"kamu tidak berniat meninggalkan ku kan?" tanya Alden.
"sebenarnya bukan seperti itu, namun aku sadar aku siapa . . . aku takut jika suatu saat kamu yang menyuruh ku pergi" ucapan Rosella membuat Alden terdiam lalu menepikan motornya.
"ke kenapa berhenti?" tanya Rosella.
"Aku tidak segila itu untuk menyuruh istriku pergi, apa kamu melihatku sebagai orang yang tidak bertanggungjawab, kamu adalah tanggung jawab ku Ros, jangan pernah berpikir seperti itu".
ucap Alden membawa tangan Rosella agar memeluknya.
Rosella sedikit terenyuh mendengar nya, Alden merupakan sosok yang sangat bertanggung jawab menurut Rosella, diluar sikapnya yang kadang dingin.
"Dad, maafkan aku. . . itu rumah aku hadiahkan pada ibu" ucap Rosella menyandarkan kepalanya pada tubuh yang kokoh itu.
"kenapa tidak meminta uang saja padaku"
"aku ingin hasil keringat ku berguna untuk seseorang yang telah melahirkan ku"
Alden tersenyum kemudian kembali melajukan motornya, "gunakanlah uang ku, aku mohon".
"i iya".
.
.
.
Axel terus saja menempel pada Rosella setelah dua hari tidak bertemu, ia bahkan selalu menyalahkan Daddy nya karena Rosella tidak diajak pulang.
Rosella kini tengah berbaring dihimpit dua laki-laki kesayangannya, ia menghadap ke Axel dan terus menepuk-nepuk bokong mungil milik putranya itu.
Sedangkan Alden tidak mau kalah ia terus memeluk Rosella dari belakang, sesekali mengecup leher mulus istrinya yang membuat Rosella menggeliat. . .
"Dad" tuturnya pelan, karena takut Axel yang sudah terpejam mendengarnya.
__ADS_1
"dia aku pindahin aja ya" ucap Alden dengan entengnya.
"emangnya kenapa?, aku tuh kangen banget sama dia" ucap Rosella mengerucutkan bibirnya.
"aku lagi pengen Ros" ucapnya terang-terangan.
"Dad, nggak setiap hari juga kali" ucap Rosella mengingat tadi pagi baru saja melakukan nya.
"tapi di udah bangun" ucapnya menggesek-gesek kan sesuatu yang sudah menonjol dibawah sana, pada paha Rosella.
Rosella membulatkan matanya seketika, bisa-bisanya Alden bertindak menjadi se mesum ini, Rosella memutuskan untuk pura-pura tidur saja daripada menuruti keinginan Alden yang tiada habisnya.
Bisa begadang lagi nanti malem.
"Ros. . Ros" Alden terus mengguncang tubuh Rosella yang pura-pura terpejam itu.
Karena tidak ada jawaban Alden terpaksa menganggu Rosella dengan cara yang lebih nakal lagi, tangannya bergerilya dengan nakal pada dada Rosella.
Rosella menggigit bibirnya untuk menahan suara desahan nya, tapi ia benar-benar kalah ketika Alden melakukannya sambil menggigit lehernya.
"Engh. . ."
"aku tahu kamu tidak tidur Ros" ucap Alden meraih tubuh Rosella agar menghadap padanya.
"aku sungguh tidak bisa menahannya" lanjutnya dengan suara parau.
"ada anakmu Dad" ucap Rosella mengingatkan.
"ke kamar sebelah ya" ucapnya memohon, karena ia pastikan akan pusing beberapa hari ke depan jika terus menahannya.
Alden dengan bersemangat menggendong Rosella untuk berpindah kamar yang kebetulan kosong.
.
.
.
Hari ini benar-benar Rosella melakukan tugasnya sebagai istri dengan benar, sesudah mengurus bayi kecilnya ia beralih untuk mengurus bayi besarnya.
Sedari pagi Alden sudah mengajarinya untuk menyiapkan baju serta perlengkapan kantor dan lainnya.
Kini Alden sedang menyentuh tangannya, ia mengajari Rosella untuk memasangkan dasi untuk nya, bibir keduanya tak henti-hentinya melengkung keatas.
"sudah bisa" tanya Alden melepaskan tangan itu.
Rosella mengangguk "sepertinya mudah"
"coba ulangi sekali lagi"
Alden terus memperhatikan wajah Rosella yang sangat dekat dengannya, entah mengapa aroma rambut beserta tubuh Rosella sangat candu baginya.
"gini nggak sih, tapi kok nggak rapi ya" ucap Rosella mengerucutkan bibirnya.
"tinggal rapiin dikit gini" ucap Alden sedikit membenahi dasinya.
__ADS_1
Rosella membenarkan kemeja Alden yang sedikit kusut kemudian beralih pada tatanan rambut rapi itu dan turun pada dasi yang sudah terikat rapi.
"selesai" ucapnya tersenyum manis.
"kurang satu" ucap Alden menunjuk pipinya.
Rosella mengerutkan keningnya "apa?"
"kiss me"
Dengan malu-malu Rosella mengecup suaminya mulai dari kening, kedua pipi, lalu juga ciuman singkat dibibir.
Alden menarik pinggang Rosella, lalu tersenyum "giliran ku" ucapnya tersenyum jahil.
Jujur saja , semakin lama semua tingkah Alden semakin ketahuan oleh Rosella ia kadang manja, kadang mesum, dan masih banyak lagi. Padahal dulunya mereka selalu membentengi dirinya sendiri.
Alden mencium kening Rosella dengan sangat lama, lalu ciuman lembut di bibir tapi Rosella menghentikannya saat Alden tidak juga menyudahi ciuman panas itu, karena bisa jadi berakhir diranjang nantinya.
"cukup, ayo berangkat" ucap Rosella meraih tissue untuk mengusap bibirnya yang basah, kemudian juga mengusap bibir Alden yang belepotan dengan lipstik nya.
"tuh kan merah" ucap Rosella menunjukkan tissue putih itu tidak lagi polos.
Alden justru tersenyum "nggak papa".
"bisa jadi bahan omongan di kantor kamu dad".
"oh ya Ros, ada yang terlupa. . . seharusnya kemarin aku membuat janji untuk kita dan Andre".
Deg!
Nyaris saja Rosella melupakan segalanya masalah nya, karena kini tengah manis-manisnya dengan Alden.
"i iya".
"bagaimana jika malam nanti?" tanya Alden mengusap lembut rambut Rosella.
Meskipun terkejut namun Rosella berusaha untuk tenang "terserah kamu saja dad".
"good girl" ucap Alden lagi mengecup singkat ujung rambut Rosella.
Semoga saja Andre tidak bisa!
Karena ini terlalu menegangkan untuk Rosella, ia juga tidak tahu kenapa Andre bisa tergila-gila seperti itu pada gadis yang biasa saja seperti dirinya.
Andre itu kaya , tampan , mapan tidak mungkinkan hanya patah hati karena dirinya, Rosella mulai berkecamuk dengan pikirannya sendiri.
.
.
.
LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋💋💋
RATE BINTANG LIMA YA 😉
__ADS_1