
Restoran yang berada tidak jauh dari rumahnya, itulah tujuan Alden saat ini. ia menjadi jengkel sendiri setelah beberapa kali menelepon Rose namun tidak ada jawaban.
Mata Alden menyusuri setiap sudut restoran, ia terpaksa menggunakan Hoodie dan memakai topi agar bawahan nya yang notabene merupakan teman Rosella itu tidak melihat dirinya.
dapat!
ia melihat Rosella sedang berdiri diantara teman-teman nya yang duduk, Alden memilih tempat pojokan yang tidak terlalu jauh dari sana.
mengamati Rosella dari jauh, terlihat Rosella menguncir rambut nya, lalu mulai sibuk dengan gelas-gelas yang ditata nya ia beralih mengambil botol alkohol.
Dari sini Alden sudah tahu, Rosella melakukan pertunjukan yang biasa ia lakukan untuk sebagai Bartender.
Jika boleh jujur Rosella sangat seksi jika sedang melakukannya. . . pesona nya sungguh luar biasa.
"silahkan" ucap Rosella menyerahkan gelas-gelas yang sudah berisi alkohol itu pada teman-temannya.
"wah gila hebat banget kamu Ros" seru Listi kepala divisi.
"bener ros, aku sampe nggak bisa berkata-kata" sahut Junot yang masih tercengang melihat pertunjukan Rosella.
Rosella hanya tersenyum malu mendengar pujian-pujian dari mereka, sebenarnya jarang sekali ia melakukan hal ini. . . kecuali jika dapat bayaran mahal tentunya hahaha. .
"ehmm, rasanya juga enak" ucap Vita setelah meneguknya.
"itu masih level standar vit, karena disini hanya ada itu saja alkoholnya". sahut Rosella yang nampak memainkan gelas itu dengan ragu.
*apakah ia harus meminumnya?
tapi bagaimana jika mabuk*
"kapan-kapan kita ke bar deh Ros, mau lihat pertunjukan mu lagi" ucap Vita bersemangat.
"boleh".
"Wah bener loh, rasanya beda" ucap Listi.
"mungkin karena sentuhan tangan Ros kali Bu" sahut Junot.
"ah bisa saja" ucap Rosella kemudian meneguknya sedikit, memang ia tidak pernah gagal soal rasa. . .
.
.
.
"Ros biar aku antar saja ya" tawar Junot, saat ini mereka sudah bubar dan hanya Rose dan Junot yang tersisa.
Sebenarnya Rosella sedikit pusing sehingga ia memutuskan untuk menunggu sebentar sampai kepala nya benar-benar stabil, padahal ia hanya minum satu teguk saja tapi yang namanya lemah mau bagaimana lagi. . .
__ADS_1
"nggak usah not, aku bawa motor kok".
"kamu yakin?" tanya Junot memperhatikan pipi merah Rosella terlihat sekali jika gadis itu sedikit mabuk.
"iya udah kamu pulang gih, aku juga mau pulang".
Junot tampak menggelengkan kepalanya dan bersikukuh untuk mengantarkan Rosella untuk pulang, namun setelah beberapa lama mereka berdebat Junot mengaku kalah pada gadis keras kepala ini. ia pulang terlebih dahulu setelah menerima panggilan yang terlihat mendesak.
dan sebenarnya ini ulah seseorang yang sedang duduk dipojokkan, Alden begitu kesal saat Junot sok perhatian pada istrinya. . . dan akhirnya ia meminta Juna untuk menelponnya agar pulang.
Rosella melangkahkan kakinya menuju parkiran, rasa pusing nya sudah sedikit hilang . . .
"Aw... " rintih nya saat seseorang menarik lengannya dengan kasar.
"Daddy" ucapnya seolah tak percaya Alden berada disana.
"kamu itu bandel sekali ya, tadi sore aku bilang apa!" sentak Alden yang sudah naik pitam.
Mendengarnya bentakan Alden membuat ia menatap Alden dengan serius, mata nya mengerjap sangat lucu, bibir nya mengerucut . . . ia lebih mirip seperti Axel yang sedang merajuk.
"Daddy jangan marah-marah" ucap Rosella bergelayut manja di lengan Alden.
Alden nampak mengusap rambutnya kasar, kenapa ia dan Rosella lebih mirip seperti ayah dan anak.
"jangan memanggilku seperti itu jika sedang berada ditempat umum" ucap Alden melihat sekitar karena orang-orang yang berada diparkiran terus memperhatikan ia dan Rosella.
"lalu aku harus memanggil mu apa?" tanya Rosella yang masih setia dengan lengan berotot itu.
Rosella buru-buru menjauh dari Alden.
"loh, pak . . . pak Alden" ucap Bu Listi menganga melihat Alden bersama dengan Rosella.
"Bu. . Bu . . Listi ngapain balik lagi?" tanya Rosella yang benar-benar gugup, sedangkan Alden terlihat santai.
"ada yang ketinggalan" jawab Bu Listi namun tidak mengalihkan pandangannya pada Alden.
"saya percaya ibu bukan orang yang banyak bicara dan tidak akan menyebar gosip yang tidak-tidak" ucap Alden bersuara.
Listi menundukkan pandangannya "a. . a. . iya pak Alden" ucapnya karena lidahnya terasa kelu saat Alden meraih tangan Rosella.
Matanya membulat seketika saat melihat cincin yang bermodel sama pada jari Alden dan Rosella.
"lebih baik ibu anggap tidak pernah bertemu dengan kami malam ini" ucap Alden penuh dengan ancaman.
dan tentu saja Bu Listi terlihat gugup dan takut, Alden orang yang dingin dan bertemperamen tinggi bahkan ia sendiri sering kena semprot dari Alden ketika divisinya melakukan kesalahan.
"i iya pak".
Alden menarik tangan Rosella dengan kasar "duluan ya Bu" ucap Rosella menoleh ke belakang.
__ADS_1
"i iya"
.
.
.
Alden membukakan pintu mobil untuk Rosella kemudian ia juga masuk dan mengemudikan mobilnya tanpa peduli dengan tatapan kesal istrinya.
"Daddy. . .!" panggil Rosella geram karena Alden tidak memperdulikan gerutuan nya yang terus berbicara panjang lebar.
"kamu sedang mabuk, lebih baik diam!" ucap Alden tanpa memandang Rosella.
"aku tidak mabuk" ucap Rosella karena memang sudah tersadar sepenuhnya.
"jangan berbohong Ros!".
Ide nakal terbesit dalam pikiran Rosella, Alden sendiri yang sok tau dan mengatakan bahwa ia sedang mabuk padahal sudah tersadar sepenuhnya.
Tangan Rosella menepuk-nepuk paha Alden yang membuat Alden lalu menoleh.
"singkirkan tanganmu!" sentak Alden.
Bukannya menyingkirkan tangannya Rosella malah mengusap-usap paha Alden yang membuat Alden meremang seketika.
"Ros, kamu jangan mancing ya!"
Rosella bersandar di bahu Alden begitu saja, melihat Alden dengan pipi yang bersemu menahan hasrat seperti ini sangat menggemaskan dan seksi menurut Rosella.
Namun Rosella sedikit kaget ketika Alden tiba-tiba memberhentikan mobilnya di pinggir jalan yang lumayan sepi ini.
"kenapa berhenti?" tanya Rosella melihat sekitar yang memang sangat gelap dan minim pencahayaan lampu.
"kamu membangunkan singa yang sedang tidur!"
Alden menarik tangan Rosella untuk duduk dipangkuannya, Rosella membelalakkan matanya seketika saat merasakan sesuatu yang keras dibawah sana.
"ayo lakukan lagi, mana yang mau kamu pegang?! , mana yang mau kamu elus?!"
"Dad" ucap Rosella memelas berharap Alden menurunkan dirinya.
Alden meraih tengkuk Rosella, menyesap manisnya bibir yang pernah ia rasakan itu pergerakan nya semakin lihai saat bermain lidah.
ciumannya turun ke leher mulus Rosella.
"Engh. . emhh" desahan nikmat lolos dari bibir Rosella yang membuat Alden kembali ******* bibir ranum itu, tangan Alden masuk kedalam kaos mengusap perutnya lalu beralih pada gundukan sintal.
"ahm. . " Rosella benar-benar terbuai akan sentuhan-sentuhan yang Alden berikan.
__ADS_1
tok. . tok. . .