Bartender Cantik Ku

Bartender Cantik Ku
Dia istriku


__ADS_3

"biar aku saja yang buka" ucap Alden bergegas melepaskan celemek nya.


"ba bagaimana jika Andre?" ucap Rosella khawatir.


"bagus , malah tidak usah menunggu akhir pekan untuk mengatakannya" ucap Alden begitu santai.


"tapi--"


"kamu adalah milikku sekarang!"


"iya" Rosella hanya mengangguk pasrah, mengingat kemarahan Alden yang begitu menyeramkan seperti tadi membuatnya benar-benar takut.


Alden membuka pintu itu , dahinya mengernyit saat melihat sosok wanita yang ia kenal berdiri disana.


"Neta?" ucap Alden yang nampak bingung, bagaimana sahabat nya itu berada disini.


"loh, den ngapain kamu disini?" ucap Neta yang malah balik bertanya.


"ini kan villa aku, kamu itu yang seharusnya aku tanyai . . . ngapain malem-malem gini kesini" ucap Alden yang masih berdiri diambang pintu.


"aku tadi lihat story Andre disini, jadi pengen nyusul deh, kebutuhan tadi ada pekerjaan disekitar sini" ucap Neta mengusap-usap lengannya, karena udara begitu dingin.


"dia sudah pulang" ucap Alden dengan dingin, ia sebenarnya sangat marah pada Andre, tapi disisi lain ia juga merasa bersalah karena belum memberitahu jika Rosella adalah istrinya.


"den masuk dulu gih, dingin banget" ucap Neta yang menerobos masuk begitu saja, tanpa disuruh ia lalu duduk pada sofa yang sangat nyaman dan empuk itu.


"duduk dulu, aku bikinin teh hangat" ucap Alden melangkahkan kakinya menuju ke dapur.


"siapa Dad?" ucap Rosella begitu khawatir.


"cuma Neta kok, ayo kita temuin" ucap Alden yang terlihat sibuk meracik minuman hangat.


Cuma Neta?


"tapi Dad" ucap Rosella yang memang tidak percaya diri untuk menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.


Alden meraih tangan Rosella lalu mengecup nya, bibirnya terangkat mengingat kembali kejadian panas sore tadi, kulit Rosella yang sangat halus itu membuat darahnya berdesir kembali.


"percaya pada ku Ros" ucap Alden yang membuat Rosella mengangguk pasrah.


"mau teh?" tawar Alden.


"tidak Dad, tadi kamu sudah membuatkan ku susu" ucap Rosella melirik gelas yang berisikan setengah susu putih, yang terletak di meja.


"baiklah ayo" ucap Alden menggenggam tangan Rosella.


Rosella sangat gugup sebenarnya, ia terus bersembunyi dibalik punggung kekar milik suaminya.


"lama banget sih den" gerutu Neta yang sibuk dengan ponselnya, ia belum menyadari akan kehadiran Rosella.

__ADS_1


"minum dulu" ucap Alden meletakkan teh hangat itu di depan Neta.


"tadi itu--" ucap Neta terputus saat melihat Alden menggenggam tangan seorang wanita, Neta masih menatap bingung pada Alden.


"loh mbak nya Axel kan?" ucap Neta yang mengingat wajah Rosella.


"ada yang mau aku bicarakan ta". ucap Alden menuntun Rosella untuk duduk disampingnya, mereka duduk berhadapan dengan Neta.


"a apa maksud nya?" ucap Neta mengerutkan keningnya melihat baru kali ini Alden mau bersentuhan dengan wanita.


Alden menatap Rosella yang nampaknya begitu gugup "dia bukan mbak nya Axel" ucap Alden yang membuat Neta semakin penasaran.


"to the points please" ucap Neta dengan tidak sabar.


"dia istriku" ucap Alden.


"i istri?" ucap Neta seolah tak percaya.


"iya ta" ucap Alden menunjukkan tangan Rosella yang juga memakai cincin seperti miliknya.


"oh my God" ucap Neta membungkam mulutnya sendiri seolah tak percaya. "sejak kapan?" tanya Neta .


"satu bulan lebih"


"kenapa kamu nyembunyiin ini dari aku dan Andre" ucap Neta yang membuat Alden terdiam "aku ikut bahagia karena kamu dan Axel ada yang mengurus den, tapi nggak seharusnya hal seperti ini kamu sembunyikan dari kita!" ucap Neta dengan kesal.


"karena sebuah alasan" ucap Alden.


Neta beralih menatap Rosella "maaf ya kemaren aku sudah salah mengira kalau kamu mbaknya Axel" ucap Neta menatap Rosella dengan rasa bersalahnya.


"ti tidak apa-apa" jawab Rosella tergugu.


"nama kamu siapa?" ucap Neta tersenyum pada Rosella.


"Rosella"


"boleh kah aku memanggil nama mu saja?" ucap Neta yang nampak ramah.


"i iya, panggil saja Rose"


"panggil aku Neta"


Alden tersenyum melihat Neta bisa berteman dengan Rosella, ia tahu meskipun kadang Neta sangat galak dan angkuh, tapi jika dengan suatu hal yang berhubungan dengan dirinya dan Andre , Neta akan selalu baik.


"kalian habis ngapain" ucap Neta menahan senyumnya saat menyadari leher Rosella dipenuhi dengan tanda merah milik Alden.


Rosella yang menyadari tatapan Neta tertuju pada lehernya ia segera menutup lehernya dengan kedua tangannya. Sedangkan Alden hanya tersenyum kikuk pada Neta.


"aku baru tahu jika Alden laki-laki normal" ucap Neta menahan senyumnya.

__ADS_1


"aku sudah memiliki anak ta, apa kamu lupa itu" ucap Alden mengingatkan siapa tahu sahabatnya itu lupa.


"tapi dengan cara yang tidak wajar, aku berharap hubungan mu dengan Rosella adalah hubungan yang wajar".


Alden meraih tangan Rosella , kemudian mengecup nya sesaat "aku sangat serius dengannya" ucap Alden menatap Rosella.


"oh God, aku tidak pernah melihat seorang Alden Mahendra Siregar sangat manis seperti ini pada perempuan" ucap Neta yang masih aneh melihat sikap Alden, yang mungkin selama ini Neta tidak pernah melihat Alden bersikap seperti itu.


"kamu akan mulai terbiasa melihat ini" ucap Alden dengan santai.


"Dad" gerutu Rosella dengan manja, ia sungguh malu bukan kepalang pada Neta.


"Dad?" ucap Neta mengulang perkataan Rosella yang samar "sungguh menggelikan, tapi tak apa Ros , aku tahu kamu pasti risih kan memanggilnya mas" ucap Neta terkekeh.


Rosella hanya tersenyum kikuk menanggapi Neta yang sok akrab itu, sungguh Rosella bukan orang yang pandai berteman.


Setelah mereka berbincang-bincang panjang lebar, Alden dan Neta maksudnya, Rosella hanya terdiam dan sesekali tersenyum. . . Alden memutuskan untuk mengajak Rosella yang terlihat kelelahan ke kamar nya, sedangkan Neta bermalam di kamar bawah.


.


.


.


Alden menghampiri Rosella yang tengah duduk bersandar pada ranjang. ia mengeluarkan salep berukuran kecil dari saku celananya.


"apa itu?" tanya Rosella saat Alden berusaha membuka salep itu.


"maafkan aku, aku lupa jika lehermu sangat sensitif" ucap Alden beralih menatap leher putih Rosella yang dipenuhi dengan bekas kemerahan akibat ulahnya.


Tidak apa-apa, aku suka.


ingin sekali Rosella mengatakan hal itu, namun ia masih punya urat malu tentunya.


"apakah aku tadi terlalu kasar?" tanya Alden sembari mengoleskan salep itu pada leher Rosella.


Pipi Rosella merah merona mendengar pertanyaan Alden, bisa-bisanya ia bertanya seperti itu.


"ti tidak" ucap Rosella menahan malu, karena sebenarnya ia merasakan Alden sangat lembut meskipun ia sungguh merasakan sakit. Tapi tidak apa, itu hal yang normal kata Mimi.


"sejak kapan kamu berubah menjadi manis seperti ini" ucap Alden tersenyum melihat Rosella yang tengah malu-malu, karena biasanya Rosella selalu galak dan berani.


"Dad, sebentar aku masih penasaran . . . kok kamu bisa kesini sih?" ucap Rosella yang menyadari akan hal itu.


"eh"


.


.

__ADS_1


.


LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋 💋💋


__ADS_2