Bartender Cantik Ku

Bartender Cantik Ku
Perhatian


__ADS_3

Ada rasa bersalah yang menyeruak di dalam dadanya, saat melihat Rosella meringkuk pada sofa dan terlihat posisi nya tak nyaman sama sekali.


Alden sendiri tidak tahu kenapa bisa sampai lepas kendali tadinya. Betapa bodoh nya ia memperlakukan Rosella seperti itu. . .


ia berjongkok memandangi wajah Rosella dengan mata yang sembab. memberanikan diri untuk mengusap pipi halus itu. . .


maaf.


Alden menggendong Rosella dengan sangat hati-hati bagaikan barang yang mudah pecah, ia membaringkan tubuh Rosella pada ranjangnya yang empuk dan nyaman.


Tidur Rosella sangat lelap karena hati dan pikirannya sedang lelah , dari kemaren pun ia tidak tidur sama sekali.


Entah sudah berapa lama Alden memandangi wajah Rosella, bekas merah memar dilehernya membuat Alden semakin merasa bersalah.


Rosella mencoba mengerjapkan matanya, pandangannya bertemu dengan Alden yang saat ini duduk disampingnya dan terus menatapnya.


Rosella langsung mengalihkan pandangannya. . . dan hendak beranjak namun Alden menahannya.


"jangan kemana-mana, saya berjanji tidak akan seperti itu lagi. . . biarkan saya mengobati lehermu." ucap Alden yang membuat Rosella menutup lehernya dengan kedua tangannya.


Alden mengambil salep di kantong nya, ia sudah menyiapkan nya semenjak melihat betapa sensitif nya leher Rosella.


Alden perlahan menurunkan tangan Rosella yang ada dilehernya, seolah dihipnotis Rosella menurut saja karena tatapan Alden yang begitu lembut.


Rosella terus memejamkan matanya, mencoba untuk tidak menggeliat karena Alden menyentuh lehernya . . . selain kulitnya sensitif sebenarnya lehernya juga termasuk bagian sensitifnya. rasa geli yang menggelitik. . .


"selesai" ucap Alden menjauhkan tangannya.


"rose, maafkan saya. . . saya hanya tidak suka kamu kemana-mana tanpa ijin saya" ucap Alden pada Rosella yang terus terdiam.


Tidak ada jawaban dari Rosella malah ia kembali berbaring lalu membernarkan posisi bantalnya yang empuk itu.


"kamu daritadi belum makan kan, ayo makan dulu nanti tidur lagi." bujuk Alden


Rosella tetap tidak bergeming, malah memilih menutup matanya. . .


mungkin baru kali ini Alden menyuruhnya makan selama ia berada di rumah ini...


"Loh mamah udah pulang" tanya Alden saat mendapati sang mamah dan papahnya sedang menyantap hidangan di meja makan.

__ADS_1


"iya Al, Rosella mana?. dia udah nggak kerja lagi kan?" sahut Melinda.


Alden menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mengingat kesalahannya tadi. "ehm . . . dia lagi nggak enak badan mah, ini mau aku ambilin makanan."


"Pah, jangan-jangan Rosella" ucap Melinda melirik suaminya.


"Apa mah?" sahut Alden cepat.


"hamil" ucap Melinda berbinar.


Alden membelalakkan matanya tak percaya. "mah masa orang nggak enak badan dibilang hamil sih".


"hehe berdoa aja lah Al, siapa tahu beneran".


menyentuhnya saja tidak pernah bagaimana bisa hamil. . .


tapi Alden juga tahu tidak mungkin Rosella hamil dengan orang lain, ia sudah mengetatkan penjagaan untuk Rosella dan selalu menerima laporan jika Rosella tidak berbuat macam-macam.


"yasudah Alden bawa ini dulu untuk nya" ucap Alden membawa nampan yang berisikan nasi,buah, dan juga air putih.


"iya Al, semangat papah muda!".


"mahhhh."


Alden membuka pintu kamarnya, ia melihat Axel juga berada disana. Axel sedang memijit kaki Rosella dengan tangan mungilnya itu.


"Mommy nggak papa boy". ucap Rosella yang masih berbaring.


"No, Mommy nggak boleh sakit. Axel sedih kalo Mommy seperti ini". ucap anak kecil itu dengan gemasnya. Axel sangat khawatir melihat Rosella yang begitu pucat.


"anak Daddy lagi apa?" tanya Alden menghampiri mereka diranjang lalu meletakkan nampan nya di meja sebelah nya.


"Axel nggak mau Mommy kenapa-kenapa".


"iya benar, ayo makan dulu Mom". ucap Alden menatap Rosella.


"iya nanti saja" sahutnya lemah, meskipun ia sedang marah pada Alden namun ia tidak akan menunjukkan itu di depan anaknya.


"sini biar Axel suapi Mommy".

__ADS_1


entah mengapa perkataan yang keluar dari bibir mungil itu selalu bisa membuat Rosella tersenyum.


"biar Daddy saja". ucap Alden mengambil sepiring nasi itu.


Rosella beranjak bangun, sejujurnya ia tidak memakan apapun sedari kemaren. . . perutnya sudah sangat perih, jadi tidak bisa menolak makanan yang terlihat lezat itu.


Alden menyuapi Rosella dengan telaten, meskipun Rosella terus memalingkan wajahnya.


"Axel sudah makan?" tanya Rosella.


"sudah Mom, tadi sama aunty Neta".


duarrrr. . .


bagaikan ledakan dalam hati Rosella saat mendengarnya.


Rosella mengangguk dan terlihat sangat kecewa dari raut wajahnya. ia memberanikan diri menatap manik mata Alden.


"kelihatan nya kalian sangat dekat?" tanya Rosella.


Alden mengangguk "sahabat kecil" jawabnya singkat.


"hanya itu?"


"lebih seperti adik bagiku". jawab Alden lagi.


"kenapa dulu tidak menikah saja dengan nya?". ucap Rosella tanpa ragu yang membuat Alden menghentikan pergerakan tangannya yang tengah memegang sendok.


"jangan ngawur!"


"kalian terlihat serasi saat bersama" ucap Rosella lagi-lagi.


"istri macam apa yang mengatakan hal seperti itu pada suaminya".


"suami macam apa yang membiarkan wanita lain menginap dirumah saat istri nya tidak dirumah"


balas Rosella.


Likelikelike๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹

__ADS_1


__ADS_2