
Rosella duduk termenung di kamar nya, masih menatap kosong pada jendela yang gorden nya terombang-ambing oleh angin malam.
Pikiran saat ini campur aduk tidak karuan, selain memikirkan kondisi ibunya yang terus menangis ia tentunya akan memikirkan bagaimana kedepannya.
Tapi yang ia harapkan saat ini hanyalah kesehatan ibunya, karena ia yakin jika ibunya terus menangis seperti ini ,ia akan drop.
"yah , Ros kangen sama ayah" ucapnya lirih sembari memeluk erat bingkai foto sang ayah.
"Ros harus gimana yah?" ucapnya disela-sela isakan tangisnya.
"Ros makan dulu gih, kamu belum makan Lo dari tadi pagi" ucap Bu Dhe yang baru saja datang
membawa sepiring nasi goreng.
Rosella segera menghapus air matanya dan menoleh "ibu udah makan belum Bu Dhe?" tanya nya.
"itu lagi dipaksa makan sama pak Dhe" ucap Bu Dhe duduk diranjang Rosella.
"kamu harus kuat loh Ros" ucap Bu Dhe menepuk bahu Rosella "kamu wanita yang kuat dari dulu , Rosella Raharjeng tidak pernah lemah ingat itu" tegas Bu Dhe memberi kekuatan.
Kata-kata itu selalu terdengar ditelinga Rosella dulu usai ayah nya meninggal, Bu Dhe yang selalu berkata seperti itu untuk menguatkan dirinya.
Bahkan karena kata-kata itu Rosella selalu tersenyum didepan ibunya, menyembunyikan bagaimana lelahnya dirinya ketika pulang bekerja, menyembunyikan betapa hancurnya dirinya tanpa sosok ayah di hidupnya.
Entah bagaimana nanti hubungannya dengan mertuanya, tapi ia masih saja tidak sanggup melihat wajah papah yang terlihat merasa bersalah.
Berarti benar memang papah bersalah bukan?
"Bu Dhe" Rosella segera berhambur memeluk Bu Dhe .
"Sabar Ros, kamu lagi di uji" ucap Bu Dhe menepuk-nepuk bahu Rosella yang bergetar.
"Ros harus gimana Bu Dhe? hiks" tangis Rosella semakin pecah saat berada di pelukan Bu Dhe.
Bahkan Bu Dhe yang sedari tadi menyuruh Rosella untuk kuat , kini juga meneteskan air matanya.
Terlalu banyak luka yang Rosella tanggung selama ini, bahkan disaat ia sudah mendapatkan kebahagiaan bersama Alden , kini ada lagi rintangan nya.
Setelah Rosella menangis sampai puas, ia menatap Bu Dhe dengan mata sembabnya.
"Bu Dhe boleh pergi" ucapnya lalu menghapus air matanya.
Bu Dhe mengelus rambut Rosella "cepetan makan" ucapnya lalu pergi dari sana.
.
.
.
Sedangkan di keluarga Siregar masih saja hening semenjak pagi tadi, mereka baru membuka percakapan malam ini.
"mamah nggak nyangka pah" ucap Melinda menangis tersedu-sedu diruang keluarga.
__ADS_1
"papah sejahat itu, huahuhuhu . . . mau ditaruh mana muka mamah ini dihadapan Rini" lanjutnya.
"maafin papah mah, papah benar-benar tidak bermaksud seperti itu" ucap papah yang terlihat pucat karena mengingat kesalahan terbesarnya
"secara tidak langsung papah telah membunuh orang pah, dan orang itu adalah ayah dari Rosella" ucap Alden angkat bicara.
Alden sangat kecewa pada sosok papahnya yang selama ini begitu sempurna dimatanya namun dengan tega melakukan hal keji itu.
"kalian boleh menyalahkan papah, papah memang telah bersalah pada ayah Rossella, tapi papah menyesali perbuatan papah, bahkan setelah malam itu papah tidak bisa tidur dengan nyenyak" ucap pak Rahmono meneteskan air matanya.
"apakah papah tahu bagaimana kerasnya hidup Rosella setelah kepergian ayahnya" ucap mamah menepuk-nepuk dadanya yang begitu sesak, bahkan ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Rosella mulai bekerja semenjak masih di bangku sekolah.
Dada Alden ikut sesak mendengar hal itu, Rosella memang telah menceritakan betapa kerasnya kehidupan nya selama ini, dan hal itu secara tidak langsung disebabkan oleh papahnya sendiri.
Alden mendekati mamah untuk memeluknya "Al mamah takut, mamah takut kalo Rosella tidak mau kembali kesini".
"Alden akan menjemputnya mah, tapi bukan sekarang , biarkan dia tenang dulu" ucap Alden yang sebenarnya juga mengkhawatirkan hal itu, namun ia mencoba tetap optimis.
"Daddy!" teriak anak kecil dengan boneka Doraemon di pelukannya.
"Axel sini" ucap Alden melambaikan tangannya.
Axel berlarian menghampiri Daddy nya "Daddy, Mommy mana? , katanya malam pulang?" ucapnya mengerucutkan bibirnya.
"kita tunggu saja ya nak, nanti Mommy pasti pulang" ucap Alden yang membuat Melinda kembali menangis terisak.
"mau nya sekarang, Axel mau di puk-puk sama Mommy" ucap yang hampir menangis.
"enggak mau" ucap Axel meneteskan air matanya.
"kita coba telepon Mommy saja ya" ucap Alden segera menggendong tubuh kecil itu.
"mamah sama papah makan aja dulu, nanti kita pikirkan jalan keluarnya bersama" ucap Alden menatap kedua orang tuanya.
.
.
.
Rosella hanya mampu menelan beberapa sendok saja, karena ia merasa sangat tidak nafsu , perutnya bergejolak ketika mencium aroma nasi. dan telur ceplok itu.
Namun ia sedikit tenang karena pak Dhe dan Bu Dhe nya menginap disini untuk menemani ibunya.
Setelah membersihkan diri Rosella baru menyadari bahwa ia tidak melihat ponselnya daritadi.
Dan benar saja, ponselnya sudah habis baterai sejak tadi.
ia segera mengecas ponselnya lalu mengaktifkan nya , terdapat banyak notifikasi yang muncul di layar nya.
Ada Vita yang beberapa kali menelpon nya.
Namun tetap saja panggilan tak terjawab dari Alden lebih banyak.
__ADS_1
dan tak lama kemudian ponsel Rosella bergetar dan tertera nama Daddy disana.
Karena penasaran dengan kondisi anaknya, Rosella segera mengangkat panggilan dari itu.
dan benar saja...
"Mommy" ucap anak kecil diseberang sana yang menggetarkan hati nya.
"iya sayang" ucap Rosella lirih, takut Axel mendengarnya yang sedang menangis.
"Mommy dimana Axel kangen sama Mommy" ucap Axel yang semakin membuat dada Rosella semakin sesak.
"Mommy lagi dirumah nenek, ini jam berapa kok belum tidur?" tanya Rosella.
Alden yang sedang memangku Axel dikamar nya, sangat tahu jika Rosella sedang menangis.
"Axel mau Mommy pulang" lirih Axel yang mulai menangis.
"sayang. . . boy. . dengerin Mommy ya, Mommy belum bisa pulang karena nemenin nenek, boy kan udah gede jadi harus jadi anak baik ya" ucap Rosella tercekat "kamu tidur sama Daddy ya sayang, minta puk-puk Daddy".
"tapi Axel mau lihat wajah Mommy, Axel kangen" ucap Axel yang terus mencebikkan bibirnya.
"kita Vidio call ya, Axel sambil tidur" ucap Rosella segera menghapus air matanya, ia berbaring pada ranjangnya.
"sini tidur" terdengar suara Alden diseberang sana.
Alden memeluk Axel dari belakang, sedangkan Axel terus memegang ponsel Daddynya yang menampilkan wajah Rosella disana.
"Mommy matanya kenapa?" tanya Axel saat melihat mata sembab Rosella.
"ini tadi abis ngupas bawang sayang" bohong Rosella kemudian tersenyum "Axel cepetan bobok ya , besok kan sekolah".
"iya Mommy" ucap Axel menurut.
Alden menepuk-nepuk bokong mungil itu sembari menatap wajah sedih istrinya yang mencoba tersenyum untuk Axel.
"dia udah tidur mas" ucap Rosella setelah beberapa saat.
Alden meraih ponselnya "sayang jangan terlalu banyak menangis" ucap Alden menatap sendu pada Rosella.
Rosella mengangguk "aku ngantuk mas, udah dulu ya" ucapnya dengan suara yang bergetar.
Tut.
.
.
.
SETIAP KONFLIK PASTI ADA YANG SETUJU DAN TIDAK , DISINI SAYA CUMA INGIN PARA READERS MEMBAYANGKAN BAGAIMANA PERASAAN KALIAN JIKA MENJADI ROSELLA DAN LANGKAH APA YANG AKAN IA AMBIL.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN AND VOTE 💋 💋💋
__ADS_1