Bartender Cantik Ku

Bartender Cantik Ku
Lebih cocok dengannya


__ADS_3

Rosella mengambilkan piring untuk Alden, lalu mengisinya dengan nasi putih "segini cukup?" tanya nya.


"Hem".


tuk..


Rosella meletakkan piring itu tepat di depan Alden , menatapnya dengan sinis. . .


Memangnya tidak ada kata lain apa ?, kecuali Hem. . .


"Maaf , adanya ini" ucap Rosella mengambilkan sayur bening serta ikan asin. . . tidak lupa sambal yang banyak.


"Kamu mau bunuh saya!" ucap Alden saat Rosella mengambilkan begitu banyak sambal.


"Eh ehe nggak sengaja Dad" dalih Rosella, lalu tersenyum jahat. Memang Rosella kadang sangat jengkel dengan perilaku Alden.


"Ros, nanti kalo dirumah. . saya ingin kamu memasakkan saya seperti ini".


Rosella mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan Alden.


"Masak apa Dad, aku nggak bisa masak makanan yang biasanya tersaji di meja makan mu".


Karena memang biasanya, hidangan di keluarga Siregar lebih seperti menu restoran. . . kadang pun Rosella memilih untuk memasak sendiri , untuk dirinya dan Axel kadang juga memintanya.


"Saya lebih suka makanan sederhana seperti ini".


"Ja jadi kamu mau aku masak seperti menu dirumah ku seperti ini" tanya Rosella.


"Iya".


Meskipun Rosella sedikit kaget tapi ia mencoba untuk tersenyum "oke Dad".


"Ehmm. . . sepertinya kita harus pulang hari ini" ucap Alden sambil terus mengunyah, sebenarnya ia tak biasa berbicara saat sedang makan, namun karena Rosella hanya akan menemani nya ketika makan. . . jadi ia memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya.


"Kenapa , bukannya masih dua hari lagi?" tanya Rosella.


"Mamah sakit".


"Hah!, sakit apa?" tanya Rosella khawatir.


"Tenang aja, cuma gula darahnya sedikit naik".


"Apa nggak sebaiknya kita pulang sekarang saja Dad" dengan tak sengaja Rosella berbicara sambil memegang lengan Alden.


Alden kemudian menoleh "tunggu Axel bangun saja" lalu matanya beralih pada tangan yang memegangi lengannya, ia tahu betul Rosella sangat khawatir dengan mamahnya.


Rosella mengangguk begitu saja seperti anak kecil yang menggemaskan jika ia sedang menurut seperti ini. . . membuat Alden sedikit melengkungkan bibirnya.


Lagi-lagi Rosella seperti tersihir oleh lesung pipi yang begitu mempesona.


"Kenapa?" tanya Alden ketika Rosella memandangi nya.

__ADS_1


"Eh" Rosella segera menjauhkan tangannya dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


"Ibu berangkat dulu ya" ucap ibu yang sudah menenteng kantong plastik.


"Biar Alden antar Bu" Alden yang sudah menghabiskan makanannya beranjak untuk berdiri.


"Nggak usah nak, ibu sama ibu-ibu depan kok" ucapnya kemudian berlalu.


Kini tinggal mereka berdua yang berada dirumah ini, bertiga tetapi Axel masih tertidur.


Kecanggungan menyelimuti keduanya, hanya membisu satu sama lain.


Sebelum terdengar suara "Mommy!" teriakan dari kamar Rosella begitu nyaring.


"Iya sayang, sebentar!" teriak Rosella kemudian menghampiri putranya yang sudah terbangun.


Axel berlarian berhambur kepelukan Rosella.


"Kenapa lari sih" gerutu Rosella karena takut Axel terjatuh dengan matanya yang belum terbuka sempurna itu.


"Takut" ucapnya mengeratkan pelukannya pada leher Rosella.


"Nggak usah takut, Daddy disini" ucap seseorang dibelakang Rosella, tangan yang melingkar begitu saja pada dirinya dan Axel, benar-benar membuatnya membeku seketika.


Anak kecil itu tertawa kemudian "Axel, suka dipeluk seperti ini" racau nya.


"Daddy juga" ucapnya mendaratkan dagunya pada pundak Rosella.


"Dad , singkirkan kepala mu" tutur Rosella tergugup.


"kenapa?" tanya Alden santai.


"Geli" ucap Rosella lirih, namun masih terdengar jelas pada telinga Alden.


Entah mengapa melihat Rosella yang seperti ini malah membuatnya senang, ia dengan sengaja mengecup leher jenjang itu.


CUP. .


"Dad!"


"Mandikan Axel, aku akan berkemas" ucapnya lalu meninggalkan Rosella.


.


.


.


Setelah menunggu ibunya pulang, mereka berpamitan untuk pulang. . . dan berjanji akan mengunjungi ibunya lebih sering.


Axel , anak kecil itu seolah enggan untuk pulang karena memang suasana di desa lebih asri . . pegunungan yang menjulang tinggi, udara yang begitu sejuk teman-temannya yang banyak tentunya.

__ADS_1


Alden mengendarai mobil nya sendiri, Rosella duduk manis disampingnya. . . sedangkan Axel masih sibuk bermain-main di kursi belakang.


"tidur saja jika mengantuk" ucap Alden melihat Rosella yang sedang menguap lalu menutup mulutnya dengan tangan.


Rosella menggeleng "nanti kamu juga ikut mengantuk".


"tidak akan".


"cih, selalu menyombongkan diri" gumam Rosella.


Beberapa saat kemudian. . .


"Daddy, masih lama ya" tanya Axel mengerucutkan bibirnya.


"sebentar lagi sayang" ucap Alden melirik dari kaca depan, kemudian bergantian melirik Rosella.


"dasar" gumam Alden sedikit melengkungkan bibirnya, karena tadi Rosella menolak untuk tidur namun sekarang sudah terpejam dengan waktu yang lumayan lama.


.


.


.


Rosella memasuki rumah dengan menggendong Axel yang tertidur, sedangkan Alden membawa yang koper berjalan dibelakang mereka.


Rosella mematung ketika melihat wanita itu dari kejauhan, ia sedang memasak di dapur.


iya. . Neta.


Hatinya mencelos begitu saja , saat melihat dengan lihainya wanita itu memasak disana. . .


Namun lebih baik ia mengabaikannya dan membawa Axel ke kamarnya.


"kamu tidak nyaman , jika ada Neta?" tanya Alden yang ikut masuk kamar nya. Karena Alden melihat tatapan Rosella yang berbeda ketika menatap Neta.


"iya" jawab Rosella mantap ,lagi pula untuk apa ia menutupi dari Alden.


"kenapa?" tanya Alden.


"Aku hanya merasa tidak pantas disisi mu, ketika melihat mu begitu cocok dengannya".


apalagi, Axel juga dekat dengan nya. .


"Ros, kami hanya sahabat. . . tidak bisakah kamu memaklumi itu" ucap Alden.


"apa kah kamu juga akan memaklumi jika ada teman laki-laki ku yang datang ke rumah ini?".


pertanyaan yang menohok membuat Alden terdiam sejenak.


"aku. . . "

__ADS_1


__ADS_2