BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Menjadi suami istri


__ADS_3

flashback on


Tepat di hari itu,di hari ulang tahun Sava yang ke 19 tahun, Emieer mantap menikahi sang kekasih hati.


Acara pernikahan Emieer dan Sava di adakan di rumah sang paman. Berlangsung hikmat dan sederhana. Seusai acara ijab kabul, sang Bibik yang sudah memasak kan masakan istimewa, mempersilahkan semua orang yang hadir di pernikahan sang keponakan untuk menikmati jamuan.


Devan dan istri nya adalah satu satu nya teman akrab yang hadir di acara pernikahan Emieer dan Sava. Emieer meminta sahabat nya tersebut sebagai saksi untuk pernikahan nya.


Satu hari sebelum acara pernikahan di adakan, ternyata Emieer pergi ke rumah besar.


Emieer mendatangi kediaman Hasan Malik.


🍁🍁🍁


"Tuan, ada yang ingin bertemu dengan tuan Hasan." ucap salah satu pelayan di rumah besar, ketika sang pemilik rumah sedang makan malam bersama sang istri berdua di ruang makan.


Hasan Malik tanpak menoleh ke arah sang pelayan,dalam hati dia bertanya siapa yang ingin bertemu dengan nya.


"Tanyakan,siapa namanya !"seru Hasan Malik


"Namanya Emieer tuan," jawab sang pelayan


Dan seketika tangan Hannah terasa lunglai mendengar siapa tamu tak terduga itu,bahkan sendok serta garpu yang ia pegang terlepas dari tangan nya, sehingga menimbulkan suara berisik.


"Georgia." pekik Hannah, kerinduan pada sang putri bangkit, begitu mengebu di hatinya.


Dengan spontan Hannah berdiri dari kursi nya dan hendak menghambur meningalkan meja makan. Baru selangkah ia berjalan, suara Hasan Malik menghentikan langkah Hannah.


"Tetap diam di tempat mu Hannah,siapa yang izinkan kau menemui nya."


Tak bisa membantah titah sang suami, Hannah kembali duduk di kursi nya.


"Suruh pria miskin itu masuk!" titah sang pemilik rumah Hasan Malik pada pelayan.


Dan tak lama seorang pria berkulit putih dengan perawakan badan tinggi memasuki rumah besar nan mewah, yang menjadi istana bagi Sava, sebelum gadis itu terusir.


Emieer Sadiq berdiri tegak berjarak 2 meter dari meja makan, dimana sang pemilik rumah kala itu sedang menikmati makan malam.


Melihat sosok pria yang sudah berdiri di hadapan nya, Hasan Malik menatap tajam ke arah Emieer. Perasaan benci dan marah di tampak kan oleh Hasan Malik untuk membunuh tatap Emieer yang terlihat santai dan tersenyum ramah itu.

__ADS_1


"Pemberani," ucap Hasan sambil terkekeh pelan, kemudian ia mengusap mulut nya dengan serbet makan.


Dengan masih bersikap angkuh, Hasan tetap duduk di tempat nya,tanpa mempersilahkan tamunya duduk di ruang tamu atau mempersilahkan duduk bersama di ruang makan.


"Katakan apa mau mu?" tanya Hasan dengan expresi tak bersahabat.


"Salam Paman, Bibik...saya Emieer Sadiq," ucap Emieer memberikan salam dan memperkenalkan diri pada pasangan suami-istri paruh baya itu.


"Maaf jika kedatangan saya mengganggu paman dan bibik. Maksud kedatangan saya kemari hanya ingin memberi tau pada Paman dan Bibik jika besok saya akan menikahi Sava. Saya datang untuk meminta izin memperistri Sava ".


"Kau tidak perlu minta izin kami, dia bukan putri ku." Sergah Hasan sarkatis


"Jika dia putri ku, aku sudah membunuh mu dari dulu." ucap Hasan jumawa, dengan tatapan mata tajam ke arah Emieer.


Emieer tetap bersikap tenang, dan mengulas senyum penuh perdamaian.


"Walaupun begitu, saya akan tetap datang kemari untuk sekedar memberi tau pada paman, jika sekarang tangung jawab hidup Georgia ada bersama ku."


"Atas nama pribadi dan juga Sava kami minta maaf, pasti kami sudah banyak mengecewakan paman dan bibik. Hanya itu maksud kedatangan saya kemari." Mendengar ucapan Emieer, Hannah tersedu dan berderai air mata.


Mendengar kabar bahwa sang putri akan menikah membuat nya terharu. Seorang gadis yang ia rawat dan besarkan kini akan menikah. Rasa rindu dengan sang putri menguasai hati Hannah. sudah hampir dua minggu lama nya sang putri tak menampak diri di rumah besar.


Hasan Malik tak bergeming, mendengar sang putri angkatnya hedak di persunting. Walau sejujurnya Hasan Malik menahan rasa rindu juga terhadap gadis kecil nya. Terapi Hasan menutupi perasaannya dengan sikap angkuh.


Dan tetap memasang wajah permusuhan.


"Saya berjanji akan membuat Sava bahagia, dan akan melindungi serta menjaga nya, maaf kan kami jika sebelumnya sudah membuat kalian kecewa."


Seusai memberikan tau kan maksud kedatangannya ke rumah besar Emieer pun undur diri.


🍁🍁🍁🍁


Di sisi lain, masih bertempat di kediaman Paman Faizal, Emieer dan Sava membantu sang Bibik membereskan ruangan yang tadi di pakai untuk acara ijab kabul.


Beberapa saat kemudian setelah semua rapi, Emieer berpamitan pada sang paman dan bibik nya.


"Emieer, ingat pesan paman. Jaga Sava dengan baik ya. Sekarang kalian sudah sah jadi suami istri, yang artinya kalian saling terikat. Semoga kalian bisa menjalani hidup kalian lebih kompak dan bahagia," tanpa bisa berkata kata Emieer memeluk sang paman.


"Terimakasih paman, Emieer berhutang banyak hal pada Paman."

__ADS_1


"Sudah menjadi tanggung jawab ku Emieer, ibu mu adalah adik ku. Sekarang Paman lega, sudah bisa menyaksikan diri mu ber ijab kabul."


"Doa bibik, semoga kalian selalu bahagia, kalian banyak sekali ke samanya. Jika ada masalah bicarakan dengan baik, jadilah ikatan pernikahan ini membuat kalian semakin bahu membahu, berjuang bersama, mengarungi suka dan duka. Bibik percaya kalian akan merasa kebahagiaan yang lebih."


Mendengar ucapan dan doa dari sang bibik, Sava pun terharu dan sebuah pelukan hangat Sava labuh kan pada wanita 60 tahun itu.


"Terimakasih Bik,"


"Satu lagi Sava, Bibik titip Emieer ya, kadang dia suka telat makan. Sibuk kerja dan sibuk urusan kuliah. Perhatian pola makan nya."


"Siap Bik," ucap Sava ramah.


🍁🍁🍁🍁


Seusai acara pamitan, Emieer yang tampak bahagia dan terlihat cerah wajah nya, mengandeng tangan Sava menuju halaman. Dimana sepeda motor nya sudah siap.


"Apa kau siap malam ini istri ku."


ucap Emieer tersenyum mengoda sang istri, yang baru saja dia nikahi beberapa jam lalu.


"Siap untuk apa." tanya Sava belum sepenuhnya paham.


Emieer tersenyum kemudian naik ke motor nya.




Sava kemudian mendekat pada Emieer yang kini sudah sah menjadi suami nya. Sambil memakaikan helm ke kepala sang istri, Emieer berucap lagi pada Sava dengan ucapan penuh tanda tanya.


"Nanti juga kamu akan paham, ayo naik." Perintah Emieer, dan Sava pun menurut.


kira kira mau di ajak ke mana ya Sava


😬😁😅


Alhamdulillah bab 10


masih belajar yaa....😬

__ADS_1


__ADS_2