
Seorang kurir mengantarkan pesanan Maryam, bentuknya bulat dan besar sekali menyerupai bola. Setelah memberikan tandatangan bu Lela memberikannya ke kamar Maryam.
"Non, pesanan anda sudah datang." Bu Lela menyimpannya di atas meja sesuai permintaan Maryam.
"Wah cepet juga datangnya, makasih Bu Lela."
"Sama-sama, Non." Bu Lela kembali lagi ke dapur melanjutkan pekerjaannya.
Melihat istrinya sibuk membuka plastik yang membungkus barang pesanannya, Langit mendekat ingin tahu. Hari ini ia pulang masih siang setelah meeting dilanjut makan siang dengan Bio Farma. Sekalian mengantarkan dress untuk istrinya.
"Apa itu? Seperti bola?"
"Ini gym ball, Mas. Buat latihan di rumah, akhir-akhir ini aku ngerasain sakit pinggang. Terus aku konsul sama dokter Prisa, katanya boleh dicoba latihan gym ball ini." Tunjuk Maryam sumringah menduduki gym ballnya.
"Sayang, hati-hati aku ngilu lihatnya juga. Kalau kamu duduknya nggak lurus bisa-bisa kamu jatuh ke pinggir dan perut kamu yang kena," oceh Langit mengingatkan sambil meringis. Ia malah diam tidak kemana-mana memperhatikan istrinya agar tidak jatuh.
"Tenang, Mas. Ini aku juga hati-hati, nggak goyang-goyang ko." Maryam tersenyum lebar. Ia duduk di atasnya dengan punggung lurus dengan pinggul dan lutut membentuk sudut yang benar dan sejajar.
Gym ball miliknya berwarna ungu, bola-bola ini dapat membantu relaksasi dan bantuan fisik dari permasalahan saat kehamilan yang terjadi. Selain itu juga dapat memperbaiki postur tubuh melalui gym ball.
"Mas, boleh pinjam ipadnya? Tolong dong cari video latihan pakai gym ball." Pinta Maryam.
"Sebentar," jawab Langit, tangannya mulai mengetik beberapa kata di kolom pencarian. Beberapa detik kemudian muncul banyak gambar menampilkan ibu hamil sedang berlatih memakai bola yang sama dengan milik istrinya.
Langit menyimpannya di atas meja untuk memudahkan Maryam mengikuti gerakannya satu persatu. Hanya dengan begitu saja membuatnya sangat senang dan asyik sendiri. Setidaknya bisa melupakan kecerewetan Maryam soal Diana.
"Sayang, aku akan mandi dulu. Awas hati-hati!" ucapnya memperingatkan.
"Iya," jawab Maryam tanpa melihat ke arah Langit.
Selesai membersihkan tubuhnya, Langit berganti pakaian dengan kaos santai dan celana selutut. Tangannya sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Matanya masih sibuk mengamati sang istri yang belum selesai. Pupil matanya membesar tak kala Maryam berganti posisi dengan tubuh terlentang di atas bolanya.
Langit semakin meringis, ia meminta Maryam menyudahinya saja dari pada ada kejadian yang tidak diinginkannya terjadi.
"Sudahi ya, nanti besok aku suruh orang yang sudah ahlinya di bidang ini buat dampingin kamu. Jujur aku ngilu lihatnya." Kalau alis Langit sudah saling bertautan itu tandanya ia sedang serius dan tidak mau mendengar alasan penolakan.
__ADS_1
"Ya sudah, tapi besok kamu cariin aku pelatihnya ya."
"Iya, nanti aku langsung suruh orangnya datang ke rumah."
Mata Maryam memindai satu kotak besar di atas meja yang dibawa suaminya tadi.
"Ini apa, Mas?"
"Oh itu dress untuk pesta nanti malam," jawab Langit menunjukan undangannya juga yang terselip di dalam paper bagnya.
"Undangan pesta? Pesta siapa?"
"Pesta pekenalan direktur utama baru perusahaannya pak Burhan. Itu loh perusahaan yang sekarang sedang maju-majunya juga, gencar memproduksi vitamin yang terkenal itu."
"Oh yang sekarang sedang gencar-gencarnya diiklankan? Padahal itu vitamin sudah sejak lama loh, aku juga pernah mengkonsumsinya cuma kalau distop malah jadi nambah nafsu makan, Mas. Jadi aku males lanjut," seloroh Maryam tentang vitamin untuk mempercantik kulit.
"Kan itu suplemen makanan, Sayang. Jadi cara kerjanya memang seperti itu, harganya terjangkau jadi banyak diminati masyarakat kita."
"Wah, ini dressnya bagus banget. Siapa yang pilihin, Mas?" Maryam melekatkannya sambil bercermin, halter dress warna gold terkesan mewah dan elegan dipadukan.
"Kamu selalu memperhatikan aku sedetail ini, aku jadi terharu." Maryam menangkup wajah suaminya dan membenamkan bibirnya dengan bibir Langit. Keduanya saling memagut, mencecap. Cumbuan berubah memanas, mata sayu Langit seolah meminta lebih dari sekedar berciuman. Direngkuhnya tubuh Maryam ke atas tempat tidur, merasakan penyatuannya lagi kali ini. Setelah satu minggu lebih tidak merasakan nikmatnya bercinta.
Tangan Maryam menahan agar tubuh suaminya tidak sepenuhnya menindih perutnya yang sudah membuncit.
"Tenang saja, aku tidak akan mengenainya."
"Pelan-pelan, Mas." Pinta Maryam mendayu-dayu.
"Aku akan melakukannya dengan lembut, dilumatnya bibir Maryam yang merekah manja menggoda dirinya. Milik Langit sudah sepenuhnya masuk ke dalam inti Maryam, menggerakannya sangat pelan meski hati sudah tidak tahan.
Peluh keringat sudah membasahi keduanya dalam peraduan hasrat penuh nikmat.
*
*
__ADS_1
*
*
*
Suara azan maghrib membangunkan keduanya yang terlelap tidur, masih memeluk satu sama lain dalam dekapan selimut dengan tubuh tanpa berpenghalang.
Langit menggeliat setelah Maryam terlebih dahulu bangkit menggapai kaos milik Langit lalu memakainya.
Kaos ditubuhnya terlihat besar, rambutnya acak-acakan tapi tampak seksi di mata Langit.
"Jangan melihatku seperti itu, Mas." Maryam memalingkan wajahnya karena malu. Tidak kuat lama-lama ditatap seperti itu.
"Kenapa? Malu? Wajahmu yang merona ini selalu membuatku jatuh cinta, kamu itu ibarat candu untukku. Membuat hatiku betah berlama-lama dan tidak ingin berpaling pada yang lain, Maryam." Ungkap Langit serius.
Mata hazel dan wajah merah merona jadi ciri khas kecantikan Maryam.
"Mas, kita bukan anak remaja yang sedang jatuh cinta lagi. Kita sudah berumur," ucap Maryam.
"Lalu kalau kita bukan remaja lagi kenapa wajahmu selalu merah merona kalau aku tatap begini. Seperti anak abege yang baru jatuh cinta." Langit mengapit wajah Maryam agar mau menatapnya.
"Karena aku tidak kuat lama-lama ditatap kaya gitu sama kamu, Mas. Bikin jantung aku debar-debar gak karuan." Pernyataan Maryam yang polos sontak membuat tawa Langit pecah seketika. Tapi ia sangat suka kejujuran istrinya, Maryam bukan tipikal orang yang munafik. Ia akan bilang suka kalau suka, dan tidak kalaupun tidak.
"Mau aku gendong ke kamar mandi?" tawarnya.
"Mau apa?" Maryam mulai waspada jangan-jangan suaminya minta jatah lagi di sana.
"Nggak, biar efesien saja. Kita mandi sama-sama, kita harus bersiap untuk undangan pesta makan malam pak Burhan."
Maryam mengangguk pelan, tanpa aba-aba Langit membawa tubuh istrinya ke kamar mandi. Maryam memalingkan wajahnya karena suaminya tidak mengenakan sehelai kainpun yang menutupi tubuhnya.
"Lama-lama kamu pasti bakalan betah melihatnya, sekarang mungkin malu-malu tapi nanti aku pastikan kamu akan terbiasa." Seolah bisa tahu arah pikiran istrinya berselancar kemana. Wajarlah pernikahan mereka belum genap satu tahun masih butuh penyesuaian lebih.
***
__ADS_1
Bersambung kakak... Ayo tinggalkan komennya jangan pelit dong, klik like, vote atau hadiaaahh.... 😘😘😘