BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Welcome and Goodbye


__ADS_3

Flashback on


Emieer POV


Setelah mendengar suara rintihan kesakitan Sava, kesakitannya yang ku dengar sangat merobek hati ku. Aku semakin kalut, aku tidak pernah tega melihat wanita itu kesakitan. Aku tidak tega menyaksikan wanita itu meneteskan air mata.


Pikiran ku semakin cemas, memikirkan nya di kamar kost. Harus nya aku tidak berangkat bekerja hari ini. Harus nya saat ini aku sudah berada di sisi nya. Membawa nya untuk bersalin dan menemani perjuangan nya untuk melahirkan buah cinta kami. Semoga dia tidak apa apa dan bertahan selama aku sedang menuju tempat kost.


Aku pun menambah kecepatan laju motor yang aku kendarai agar lebih cepat sampe.


Tapi..........................


"OH, TIDAK..................,"


Di saat aku sedang membelokkan sepeda motor ku untuk berbelok. Tepat di depan ku sebuah minibus menghantam diri ku.


BUGHHHHHHH


Aku merasakan diri ku terpelanting jauh dari sepeda motor ku. Helm yang ku kenakan pun terlepas. Ku dengan suara decitan roda mobil mengarah ke arah ku. Dan masih bisa ku liat tadi bumper depan mobil itu seperti menyeruduk kelapa ku.


Saat aku masih bisa sedikit sadar, kini aku sudah berada di tengah tengah jalan raya. Aku mengalami kecelakaan. Ku liat sebuah darah segar mengalir dari sisi kepala ku. Ketika aku ingin sekali untuk bangkit, rasa nya aku sudah tidak kuat lagi. Sava. Bagaimana ini, keluh dalam hati.


"SAVA..............,"


Tiba tiba semua kini menjadi gelap.



🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Sava POV


"Kenapa kau lama sekali Emieer." ucap ku sambil merintih. Rasa sakit yang kurasakan kini semakin kuat. Dorongan dari dalam perut ku kini semakin kuat ku rasakan di bawah sana.


"Sabar sayang, kita tunggu papa." ucap ku pada bayi ku yang seperti nya sudah tidak sabar lagi ingin keluar. Tapi apa daya, justru aku masih terjebak di kamar kost.


Dan kini tiba tiba aku merasakan sebuah cairan merembes, bahkan mengalir melalui kaki ku yang saat ini aku sedang terduduk di kursi.


"Ya Tuhan, apakah ini air ketuban nya sudah pecah." guman ku sendiri. Karena semakin panik, akhirnya aku menyambar lagi ponsel ku. Aku kembali menghubungi Emieer. Tapi beberapa saat setelah aku ulang-ulang untuk menghubungkan sambungan telepon kami. Sambung telepon itu belum juga bisa tersambung. Bahkan hanya terdengar nada "Tut Tut" yang berarti panggilan telepon ku tak sampai ke ponsel Emieer.


"Emieer, apa kau bercanda. Dalam situasi seperti ini ponsel mu malah tidak aktif. Emieer, cepat angkat ponsel mu. Aku membutuhkan mu sekarang." ucap ku dengan perasaan kesal pada nya. Tapi lagi lagi hasil pangilan ku nihil.


Semakin lama rasa mulas yang ku rasakan semakin hebat. Bahkan aku sudah sempet mengejan karna saking sudah tidak kuat lagi menahan sakit nya. Tapi tidak mungkin aku melahirkan bayi ini di kamar ini, apa lagi aku hanya seorang diri. Akhirnya dengan berjalan terseok-seok sambil memegangi perut ku, aku membuka pintu kamar kost dan aku berteriak minta tolong.


"Tolong siapa saja. Tolong saya Pak, Bu," teriak ku lemah.


"Mbak Sava," ucap salah seorang penghuni kamar kost tepat di samping kamar kost ku.


"Kita naik mobil ku saya Mbak Sava, menghubungi ambulans rasa nya sudah telat. Mbak nya sudah banyak mengeluarkan air ketuban. Kita cari lokasi rumah sakit terdekat." ucap Jessy yang nampak sangat sigap. Aku merutuki kekesalan ku pada Emieer. Harus nya kesigapan itu kini di alami Emieer.


"Terimakasih Jessy, apa saja yang penting aku bisa melahirkan." ucap ku. Kemudian Jessy mengetuk beberapa pintu kamar kost lain. Sehingga penghuni nya membukakan pintu. Setelah Jessy memberi tau kan tentang kondisi ku, akhirnya beberapa orang yang saat itu keluar kamar kost membantu ku untuk menuju mobil Jessy.


"Jessy, aku lupa membawa tas perlengkapan untuk bersalin. Tas nya ada di kamar ku. Bisa minta tolong ambilkan." ucap ku di tengah tengah kepanikan itu, aku sampai lupa membawa tas perlengkapan bersalin yang untung saja Emieer sudah siapkan.


🍁🍁🍁🍁🍁


Author POV


Setelah sedikit berdebat dengan salah seorang dokter di sebuah rumah sakit. Akhirnya Sava mengalahkan untuk berjuang melahirkan bayi nya tanpa Emieer yang mendampingi.

__ADS_1


Sebelumnya Sava bahkan bersikeras untuk menunggu sampai sang suami datang, baru dia bersedia untuk memulai persalinan. Karena sang dokter sudah bilang bahwa proses persalinan nya tak bisa di tunda lagi. Karena juga proses pembukaan sudah genap maka sang dokter yang kala itu menjadi pendamping Sava untuk bersalinan menyakinkan Sava untuk segera memulai tanpa perlu menunggu lagi.


Dan kini di atas tempat bersalin, Sava tengah berjuang sendiri untuk melahirkan putera nya.


"Ayo, kami bisa. Dorong sedikit lagi," ucap sang dokter perempuan yang membantu Sava melahirkan.


"Sakit dokter," ucap Sava berteriak sambil di iringi tagisan. Buliran keringat bercampur Ari mata membasahi wajah nya. Dengan hanya berpegangan pada handel besi yang ada di sisi ranjang, Sava mengunakan benda itu untuk berpegangan.


"Emieer sakit sekali. Kau dimana Emieer, cepatlah datang."ucap Sava di sela sela berjuang untuk melahirkan bayi nya.


"Sedikit lagi, kepala nya sudah mulai tampak nak," ucap sang dokter menyemangati Sava.


Sava pun kembali mengatur nafas nya.


"Huuf.... huuuf," rintih Sava mengatur napas nya, dan bersiap untuk mengejan dengan kuat.


"Emieerrrrrrrrrrrrrr," ucap Sava sekuat mungkin menyebut nama sang suami. Dan dengan bersamaan dia mengejan dan menyebut nama Emieer akhirnya, sebuah suara tagisan bayi langsung mengema.


"Owek....Owek...owek....



🍁🍁🍁🍁🍁


Emieer Sadiq



Sava

__ADS_1



__ADS_2