BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Puasa 40 Hari


__ADS_3

Pagi pukul 07.00, Baby Gala sudah diperbolehkan berada bersama ibu. Setelah selesai dimandikan juga, aroma khas bayi menguar tercium segar. Tubuh kecilnya dibungkus kain karakter berwarna biru muda.


Baru saja ditidurkan di box bayi, Baby Gala kembali menangis kencang minta menyusu. Kepalanya digerakan ke kanan dan ke kiri mencari sumber tempat yang menyediakan makanan untuknya.


"Ya ampun, Sayang. Kamu menggemaskan sekali mirip Papa kamu." Maryam tak henti-hentinya bersyukur mendapatkan anugerah terindah dalam hidupnya itu.


Diliriknya sang suami tertidur pulas di atas sofa, kepalanya berbantalkan bantalan kecil. Terdengar dengkuran halus, mungkin Langit kelelahan dan belum puas tidur semalam apalagi posisinya yang tidak nyaman duduk di kursi.


"Jangan nangis kenceng, Sayang. Papa lagi tidur kasihan." Maryam sudah bisa sendiri cara menggendong bayinya. Awal-awal pasti merasa takut jatuh tapi lama-lama akan terbiasa juga.


Rasa sakit di awal-awal menyusu sangat Maryam rasakan bercampur geli. Bedalah dengan rasa Langit berikan untuknya. Sekarang saja Baby Gala sangat kuat menyedot ASI dari ibunya. Sekali-kali Maryam meringis belum ada satu jam sumber makanan untuk bayinya sudah terlihat memerah dan sedikit iritasi.


"Uuh, jangan kuat-kuat Sayang." Ringisnya lagi.


Pukul 11.00 Ainun datang lagi bersama Aisya setelah mereka pulang terlebih dahulu untuk beristirahat. Ainun membawakan beberapa macam makanan enak untuk Maryam agar ASI nya bisa banyak.


"Untung Mama bawa makanan, makanan di sini hambar Ma. Kurang berasa," ucap Maryam manja.


"Iya makanya Mama bawain nih, dijamin ASI kamu pasti lancar dan banyak. Tapi jalan sudah tidak sakit kan?"


"Sudah lumayan, Ma."


"Syukurlah, sebentar Mama siapin dulu sekalian buat Langit. Dia pasti capek banget seharian kemarin jaga. Lihat saja tidurnya nggak gerak-gerak padahal kita berisik," kata Ainun menunjuk Langit dengan dagunya.


"Iya, Ma. Mas Langit total banget jagainnya, jadi beruntung banget punya suami siaga kayak Mas Langit."


"Tuh kan Kakak, berurai air mata lagi deh. Jangan nangis ah. Aisya suka ikutan pengen nangis kalau ada yang nangis." Aisya mengusap pelupuk matanya yang basah.


"Cuma sedih saja, aku ingat ibu dan ayah. Andaikan masih ada pasti mereka berdua akan sangat senang sekali melihat cucu mereka lahir. Dan melihat aku punya suami baik seperti mas Langit," ucap Maryam berurai air mata.


"Uuuh, Sayang. Jangan sedih, do'akan saja semoga mereka tenang. Ada Mama dan keluarga kamu di sini yang menemani kamu. Mama juga mengerti seorang anak perempuan pasti ingin ditemani ibu mereka, Mama sebisa mungkin jadi ibu yang baik untuk puterinya. Kamu bukan sekedar mantu, tapi puteri Mama kandung sendiri seperti Aisya." Ainun mengusap-usap punggung Maryam, ia tahu kemarin saat Maryam melahirkan pikiran Maryam sempat melayang ke tempat lain.

__ADS_1


"Jadi Aisya juga nanti kalau lahiran mau ditemenin Mama sajalah ya." Aisya nyengir kuda memperlihatkan deretan giginya yang putih.


"Ya iyalah, pasti Mama nemenin kamu. Lihat nih sekalian belajar gimana cara merawat bayi itu gimana," ucap Ainun pada Aisya.


"Iih Mama, ini kan juga sambil lihatin." Dalam hatinya Aisya memang memuji tanggung jawab Langit sebagai kakak. Walaupun keras tapi hati Langit sangat menyayangi Aisya. Itulah salah satu alasan Aisya menerima ajakan Zayn menikah, mereka berdua punya karakter yang sama tapi hati tetap pink.


Mendengar suara ribut-ribut di sekitarnya, mau tak mau mata Langit terbuka. Ia melihat ibu dan saudarinya sudah berada di sana. Langit beringsut lalu duduk, mengusap wajahnya terlebih dahulu.


"Langit, kamu mau makan sekarang? Mama bawain makanan banyak nih. Sop buntut rempah, kesukaan kamu." Ainun menyajikannya dalam wadah di meja makan yang berada di ujung ruangan rawat Maryam. Kamar VVIP dilengkapi dengan berbagai fasilitas , sehingga pasien dan keluarga yang menunggui bisa nyaman.


"Iya nanti, Ma. Mau lihat bayi aku dulu." Langit menghampiri box bayi dimana Baby Gala sedang terlelap tidur. "Hallo Baby Gala, kamu ganteng banget sih." Saking gemasnya Langit terus menciumi bayi tampan menggemaskan yang telah mencuri hatinya itu.


"Mas, lama-lama aku yang dicuekin sama kamu. Kamu malah gak nanya-nanya aku," ujar Maryam merajuk.


"Ya ampun, Sayang. Kamu cemburu sama anak kita sendiri. Mana mungkin aku cuekin Mama cantik ini. Bisa-bisa gila aku," ucap Langit menghujani istrinya dengan ciuman.


"Lihat tuh, Ma. Kakak bucin banget sama Kak Maryam, jadi ngiri deh." Aisya ikut bahagia melihat kemesraan mereka yang tidak pernah luntur.


"Ya ampun Mama, bucin itu budak cinta." Aisya menepuk jidatnya sendiri lupa kalau yang diajak bicaranya adalah mamanya sendiri.


Sepulang dari kantor, Willy dan Anindya baru bisa datang ke Rumah Sakit lagi. Membawakan hadiah untuk Baby Gala.


"Ya ampun, hidungnya, bibirnya, matanya produk papanya banget ini." Anindya gemas menggendong Baby Gala dalam pangkuannya.


"Gimana rasanya dapat boneka hidup kaya gini, Mar?" Anin ikutan takjub dengan bayi tampan dalam gendongannya.


"Rasanya sesuatu banget, yang pasti bersyukur sekali."


"Nin, jadi kapan nih mau nyusulin Maryam sama Aisya. Sudah sering bikin nggak?" Goda Ainun.


"Tante, kita sering usaha tiap malam tapi belum ada tanda-tanda mungkin harus lebih sering lagi usahanya." Seringai di bibir Willy tercetak jelas.

__ADS_1


"Mas, malu ih." Anin mencubit pinggang Willy sampai mengaduh sakit.


Semuanya yang berada di ruang rawat tergelak bersama.


"Pak, mohon bersabar ini ujian." Willy menyenggol lengan Langit yang sedang duduk bersamanya.


"Maksud lo?" tanya Langit mengerutkan dahinya.


"Bapak harus banyak bersabar selama 40 hari harus berpuasa dulu." Bisik Willy.


Langit mengangkat satu ujung bibirnya ke atas, ia tidak membalas ucapan Willy karena hatinya juga membenarkan demikian. Bersabar menanti membelah duren lagi.


***


Di Baby Shop, teman-teman satu divisi Maryam sedang sibuk memilih-milih kado untuk Baby Gala. Mereka sudah tahu dari Anin bahwa Maryam sudah melahirkan bayi tampan.


Agnes mengambil apa saja yang menurutnya lucu dan cocok dikenakan bayi atasannya itu.


"Kalau menurutku pak Langit sudah membelikan perlengkapannya deh. Yakin deh," ucap Anet.


"Iya sih pasti, ya sudah kita beli baju-baju lucu saja atau sepatu-sepatu. Mengingat pak Langit bos kita pasti barang-barang mahal sudah nangkring di rumahnya," sahut Dwi diangguki Celin.


"Selimut karakter dan baby bather kekinian kali ya belum Maryam punya secara katanya pak Langit sendiri yang belanja," kata Agnes.


"Ya kalaupun sudah punya nggak apa-apa kali, yang penting jangan sampai ke sana dengan tangan kosong saja."


Agnes dan yang lainnya sudah tidak sabar ingin melihat bayi tampan yang katanya mirip bos mereka.


***


Bersambung..

__ADS_1


Ayooo tinggalkan jejaknya...


__ADS_2