
Willy menyandarkan kepalanya di sofa rumahnya, ia masih terpikirkan ancaman ibunya kalau bulan ini sampai belum mendapatkan calon istri maka ia akan dinikahkan dengan anak teman ibunya. Kepala Willy berdenyut sakit, bagaimana caranya ia dapat calon istri kalau pacaran saja belum pernah.
Ia teringat salah satu teman dekat Maryam, istri Langit. Wanita berhijab yang cantik dan anggun, Anindya.
"Aarrggh, kenapa aku memikirkannya." Segera Willy tepis pikirannya yang melayang pada sosok wanita cantik itu.
"Tapi dia memang cantik, juga berhijab. Pasti ibu bakalan setuju kalau aku sama dia. Tapi caranya bagaimana?" Willy bingung sendiri, tiba-tiba ia terpikirkan untuk minta bantuan Maryam. Dirogohnya ponsel dari saku jas yang masih melekat di diri.
Tanpa ragu ditekannya kontak chat Maryam.
Willy : Bu, anda sedang sibuk? Saya mau minta tolong tapi jangan bilang sama pak Langit. Hehe.
Disimpannya ponselnya ke atas meja, ia tinggalkan sejenak untuk mandi. Membersihkan tubuhnya yang sudah lengket dan berharap malam ini bosnya tidak akan menganggunya.
Bip.
Pesan di terima.
Ibu Direktur : Tidak, sedang santai ko. Tenang saja, Mas Langit sedang di ruang kerjanya. Ada apa? Cerita saja!
15 menit berselang, Willy keluar dari kamar mandi. Tangannya sibuk mengeringkan rambutnya. Di lihatnya ponsel di atas meja ruang santai rumahnya. Rumah yang tidak terlalu besar dan minimalis, segala sesuatunya sudah lengkap tinggal istri saja yang belum melengkapi rumah itu.
"Eh di bales." Jarinya bergerak cepat membuka layar ponselnya.
Ia menyeringai sendiri sambil membaca balasan Maryam.
"Apa tidak menyedihkan kalau aku minta bantuan orang lain? Ah tapi ini juga salah satu usahaku." Mengingat wajah cantik Anindya dalam balutan hijabnya membuat hati Willy berdesir tak karuan.
Willy sudah menyukai Anindya semenjak familly gathering kantor dan pada saat itu ada kejadian dimana Maryam hilang.
Willy : Bu, boleh saya tanya sesuatu tentang Anindya? Apa dia sudah punya pacar?
Pesan terkirim.
Willy harap-harap cemas menantikan balasan Maryam selanjutnya. Sesuai dengan dugaannyakah atau sebaliknya? Siapa tahu Anindya sudah ada yang punya.
Bip.
Pesan diterima.
Ibu Direktur : Lo suka sama Anindya? Ada nyali juga lo deketin cewek! Usaha sendiri jangan malah tanya-tanya orang. Kalau lo nggak beranu deketin sendiri gue kasih lo rok buat dipake!
__ADS_1
"Astaga, pasti ini kerjaan Langit. Damar Langit kalau lo bukan atasan gue udah gue bejek-bejek dari dulu!" Umpat Willy emosi jiwa.
*
*
*
*
*
Sementara di kediaman Herlambang, Langit tidak bisa menahan tawanya membayangkan wajah emosi sahabatnya itu. Sudah pastilah Willy marah karena keisengan Langit membalas chat Maryam.
"Mas, kasihan lo Willy. Malah diisengin gitu, nanti dia nggak mau masuk kerja gimana?" Maryam yang khawatir terus-terusan mengomel karena Langit merampas ponselnya.
"Nggak bakalan! Hati dia sudah teruji sekuat baja. Jangan dipikirkan." Langit masih saja tertawa-tawa.
"Sayang, emangnya Willy itu gimana orangnya? Seandainya dia sama Anin gimana?" tanya Maryam, ia punya ide untuk menyatukan keduanya dalam ikatan cinta.
"Willy orangnya baik, dia belum pernah pacaran sama sekali. Gimana mau pacaran, dia lama ikutin aku. Dia orangnya setia, aku bisa pastikan itu. Dan yang paling penting dia itu sangat menyayangi ibu dan adik perempuannya. Karena ayahnya sudah lama tiada. Willy itu tulang punggung keluarga." Ungkap Willy menyibak kepribadian Willy.
"Waah, kalau sama Anin bakalan cocok dong. Anin juga tinggal dia sama ibunya. Ayahnya entah kemana, sejak dari kandungan ayahnya Anin pergi dari rumah meninggalkan keluarganya. Sayang, gimana kalau kita jodohin mereka saja ya. Kita bantuin Willy, kayaknya Willy serius deh." Maryam bersemangat sekali.
"Oke, kita bantuin Willy." Langit menyanggupi dibalas senyuman puas dari istrinya.
***
Langit beberapa kali berdehem tak kala baru mendudukan bokongnya di kursi kebesarannya. Tampak Willy yang masih diam menahan kesalnya sejak semalam.
"Kalau lo masih marah karena gue balesin chat semalam, gue gak bakalan bantuin lo buat dapetin Anin." Ancam Langit tak main-main.
Willy langsung mengurai senyumnya, ia mendekat pada Langit.
"Bapak serius mau bantuin saya?"
"Iya, tapi lo harus serius sama dia. Kalau nggak terpaksa jabatan lo taruhannya." Terpaksa juga Langit bicara dengan nada ancaman seperti itu, tak lain karena permintaan Maryam yang takut Anindya dipermainkan.
"Sejak kapan saya becanda. Bapak kan tahu saya seperti apa. Jadi kita mulai dari mana ya, Pak?" tanya Willy tidak sabaran.
Langit sampai menahan tawanya.
__ADS_1
"Kata Maryam, Anindya itu memimpikan suami dengan cara ta'aruf. Kalau lo bisa tinggal bilang kemukakan niatan lo. Gerak cepat nanti ada yang nyalip kan baru tahu rasa!" ucap Langit.
"Ta'aruf? Aduh berat nih," sahut Willy.
"Kata siapa berat, lo kan belum pernah pacaran. Googling deh apa itu ta'aruf gimana caranya dan lo harus gimana biar lo gak tampak cengo kalau sudah berhadapan dengan Anin." Saran Langit diangguki Willy.
Beruntung hari ini pekerjaan sedang tidak menumpuk. Willy jadi bisa mencari makna dari ta'aruf itu sendiri. Bukan ia tidak tahu tapi cara memulainya yang ia tidak mengerti.
"Harus panggil ustadz ini mah, hadeeuuh." Willy mendesah pelan.
Matanya menatap seseorang yang baru saja keluar dari lift.
Loh ko Anin.
Willy berdiri, ia jadi kikuk. Jantungnya berdegup cepat tak kala melihat Anin semakin mendekat.
"Selamat siang, Pak Willy. Saya disuruh pak Langit untuk datang untuk membicarakan meeting katanya,"
Duh Anin, kamu cantik banget sih. Apalagi warna hijab kamu hari ini sangat cocok sekali.
"Pak." Panggil Anindy menyadarkan Willy agar kembali ke dunia nyatanya.
"Hihi." Gia yang duduk di seberang tempat Willy duduk sampai tertawa. Baru kali ini Willy cengo di hadapan wanita.
"Oh iya, kalau begitu masuk saja. Pak Langit ada ko, silahkan." Willy membuka pintu ruangan Langit dan menyuruh Anindya masuk.
"Pak, ada Anindya katanya disuruh Bapak." Lapor Willy.
"Iya, begini kamu ikut Willy ke pabrik di Bekasi. Biasanya kan saya sama Maryam yang pergi sekarang tugas ini kamu yang handle, kamu akan berangkat sekarang juga. Supir yang akan antar kalian." Jelas Langit.
"Kamu tunggu di basement, nanti ada supir kantor juga nanti Willy susul kamu." Imbuh Langit.
Merasa tidak diberitahukan sebelumnya Willypun sampai bergeming dan tak bersuara.
"Baik, Pak. Kalau begitu saya ambil tas dulu dan semua berkas yang diperlukan. Permisi, Pak." Anindya menganggukan kepalanya pada Langit kemudian beralih pada Willy. Ia berlalu pergi meninggalkan ruangan direktur utama.
"Mendadak ya, Pak?" tanya Willy sambil tangannnya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Iya, mendadak. Jadi jangan lewatkan kesempatan ini!" Sembur Langit dengan sorot mata yang tajam.
***
__ADS_1
Bersambung...
Hayoo di sini siapa yang mau diajakin ta'arufan sama babang Willy. Setuju ya Willy sama Anin, kalau setuju tak nikahin saja mereka berdua. Tenang nanti bala-bala Langit dan Maryam juga dapat undangannya ko 😘😘😘