BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Berpisah untuk selamanya ( Belahan jiwa)


__ADS_3

Flashback on


Emieer POV


Apakah begini rasanya sekarat.......?


Aku bisa apa.........!


Aku sudah berjuang untuk berusaha tetap hidup.....!


Tapi sayang nya, aku hanya pelaku pemeran kehidupan.....!


Dan sang pemberi kehidupan, sepertinya sudah menentukan batas akhir hidup ku hanya sampe di sini.....!


Maafkan aku Sava.


🍁🍁🍁🍁🍁


Telinga ku tidak tuli, walau kini mata ku sudah buta untuk melihat dunia. Raga ku boleh diam saja, tapi ruh ku belum sepenuhnya meningalkan raga ini. Sejak tadi aku bisa mendengar para Dokter dan Perawat itu sibuk berargumen tentang kondisi ku.


Dan berbagai alat bantu yang kini menempel di tubuh ku juga sepertinya sudah tidak ada manfaatnya lagi. Aku bisa apa.


Ada satu hal yang ingin aku dengar sebelum aku benar benar pergi. Aku ingin mendengar putra ku menangis.


Sava, aku merasakan kehadiran mu sejak tadi. Hati ku teramat sedih dan sakit Sava, saat harus meninggalkan mu sendirian bersama putra kita. Maaf kan aku sayang, aku bener benar minta maaf, karna tidak bisa menemanimu lebih lama.


Untuk kesekian menit. Aku tidak mendengar apapun selain bunyi ventilator yang mungkin sebentar lagi akan berdenging melengking tanda aku benar-benar sudah pergi.


Sava, datang lah pada ku sayang. Mendekatlah pada ku untuk yang terakhir kali. Izin kan aku merasakan hangat nya kulit mu.

__ADS_1


Setelah ini aku akan mati rasa sayang. Aku sudah tidak bisa merasakan lagi hangat nya tubuh mu dan lembutnya kulit mu. Aku juga sangat ingin bersentuhan dengan putra ku untuk pertama dan mungkin untuk yang terakhir kali. Walau hanya dengan bersentuhan dengan nya, aku sudah senang bisa menyapanya, anak ku.


Cepat Sava, waktu ku sudah tidak banyak. Nafas ini hanya sisa di pangkal tenggorokan ku saja. Bahkan sekarang kaki ku sudah mulai dingin.


KU MOHON..........


Tiba tiba ku rasakan sesuatu yang hangat berada di samping ku. Sesuatu yang bisa ku rasakan pergerakan nya.


Apa itu.....?


"Emieer sayang, bagaimana keadaan mu. Aku datang."


Itu Sava, pekik ku. Tapi aku hanya bisa mendengar nya tanpa bisa membalas sapaannya. Bicaralah Sava, bicaralah terus, aku ingin mendengar suara mu.


Luapkan semua beban mu, luapkan semua kemarahan mu, luapkan kekesalan mu pada ku. Aku tau kau marah pada ku sebenarnya.


"Emieer, aku datang membawa anak kita, dia sudah lahir siang tadi. Dia sehat, lucu dan menggemaskan. Wajah nya sangat mirip dengan mu. Dia sekarang berpegangan tangan nya." ucap Sava, kemudian aku merasakan lewat kulit ku yang semakin lama semakin mendingin.


Dan di lain sentuhan, aku merasakan jari jemari Sava terpaut pada jari jemari ku. Sava juga merekatkan jari jemari bayi kami bersamaan. Sejenak aku merasakan ketiga tangan kami bersatu. Tangan ku, tangan Sava dan tangan bayi kami saling bertautan. Walau aku tak bisa membalas sentuhan itu, aku bisa merasakan kehangatan telapak tangan mereka, aku merasa bahagia. Aku ingin sekali memeluk mereka detik ini juga, tapi aku tak bedaya. Karna aku sudah tak ada kekuatan lagi.


Tapi aku bahagia Sava, aku senang, aku lega. Aku iklas sekarang, aku sudah bisa merasakan hangatnya kebersamaan kita bertiga. Jika aku harus pergi meninggalkan kalian sekarang, cinta ku, putera ku, aku sudah siap.


"Emieer, apa kau benar bener tak bisa bertahan lagi?" Aku mendengar suara Sava bergetar, seperti nya dia sedang terisak. Jangan menangis sayang, jangan meneteskan air mata. Kau bisa hidup tanpa ku, kau kuat tanpa diri ku.


"Emieer, ini anak mu. Aku letakan di sisi mu, smoga kau bisa merasakan kehadirannya."


"Tangan mu mulai dingin Emieer," ku dengar Sava makin terisak, dan kini tangan ku terangkat dan dia seperti melekatkan kelapak tangan ku yang bertautan dg tangan nya ke pipi nya. Walau kini aku sedang sekarat dan nafas ku hanya tinggal di ujung pangkal tenggorokan. Aku masih bisa menikmati sentuhan mu Sava. Sebisa mungkin aku berusaha mengerakan tangan ku yang ada di pipi nya sekarang, sekedar menyampaikan salam perpisahan kami.


Sava, aku minta maaf pada mu. Aku tidak lagi bisa menjaga mu, tapi aku yakin kelak, saat anak kita sudah besar. Dia yang akan menjadi pelindung mu. Anak itu akan membuat mu kuat. Dia akan jadi penyemangat mu, bertahan dalam kehidupan yang kau jalani. Aku doa kan kebahagiaan untuk mu sayang.

__ADS_1


Dan aku rela jika kelak, engkau menemukan cinta yang lain selain aku. Maka bersama lah.


"Emieer, jika kau memang harus pergi meninggalkan aku dan anak mu sekarang, aku iklas. Pergilah dengan tenang sayang. Aku mencintaimu, selalu, selamanya," Dan bisa ku rasakan, ciuman lembut bibir Sava, kini menempel pada bibir ku.


"Terimakasih atas cinta mu selama ni sayang. aku titip anak kita. Selamat tinggal, aku mencintaimu Savanah."


........


🍁🍁🍁🍁🍁


Sava POV


Tak lama setelah aku menciumnya, suara lengkingan ventilator yang menjadi menyokong oksigen pada Emieer berdengung keras. Dan aku tau, apa artinya itu.


"Selamat jalan Emieer." ku cium sekali lagi dengan dalam bibir nya. Menyesap sekali lagi dan terakhir kali nya bibir nya yang masih terasa hangat sisa sisa hembusan nafas nya.


Lalu ku kecup keningnya. Dan aku bersumpah, aku melihat air mata dari sudut mata Emieer.


Dan bersamaan dengan itu. Bayi kami menangis dengan sangat keras. Bahkan sekeras-kerasnya.


Beberapa perawat kini menghampiri ruangan keramat ini, ruangan di mana menjadi tempat perpisahan paling menyakitkan. Seorang perawat menghampiri ku, dia memenangkan aku, karena aku masih syok. Beberapa lagi di antara mereka meraih bayi ku yang masih tergelak di sisi papa nya, yang kini sudah tak bernyawa. Dan salah seorang lagi melepaskan satu persatu alat alat medis yang menghiasi tubuh Emieer.


"Jadi hanya cukup sekian dia bersama ku. Baiklah Emieer, pergilah." guman ku dengan suasana hati yang sudah hancur.


"Selamat jalan belahan jiwa."



__ADS_1




__ADS_2