BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Kembali ke rumah besar


__ADS_3

"Kak Audrey, Kak Kemal," pekik Sava sesaat setelah ia membuka pintu kamar kost nya. Dia tak menyangka jika ke dua kakaknya kini ada di hadapannya.


"Georgia," pangil Audrey yang kemudian langsung memeluk sang adik yang sudah sekian lama ia tidak berjumpa.


"Aku merindukan mu Georgia. Akhirnya kita berjumpa lagi" tutur Audrey yang memeluk Sang adik dengan sangat erat.


"Aku juga merindukan mu kak." balas Sava. Setelah saling bertukar pelukan kangen. Sava kemudian beralih menyapa Kemal.


"Kak Kemal." sapa Sava.


"Apa kabar Georgia." sapa Kemal, Kakak tertua Sava.


"Baik kak," balas Sava, kemudian juga memeluk Kakak angkat laki laki nya itu.


Setelah saling lepas rindu di depan pintu. Sava mempersilahkan ke dua kakak nya itu untuk masuk kedalam kamar kostnya. Begitu masuk ke dalam kamar kost, Audrey langsung menghampiri tempat tidur box bayi. Dimana baby Zee sedang berceloteh dan berpolah tingkah dengan mainannya yang menggantung di atasnya.


"Hai, Look It You. Manis sekali kamu," sapa Audrey langsung gemas melihat baby Zee.


"Namanya siapa Georgia," tanya Audrey.


"Zeeyan Emieer Sadiq."


Audrey kemudian beralih menatap sang adik. Satu pelukan erat kembali ia berikan pada Georgia/Sava.


"Aku turut berduka cita untuk suami mu. Aku tidak menyangka dia akan begitu cepat pergi. Walau hanya sekali berjumpa dengannya, aku bisa liat dia orang yang baik."


"Aku juga ikut berdua cita atas meninggalnya suami mu Sava." Kemal juga berbelasungkawa.


"Terimakasih Kak Kemal, Kak Audrey." jawab Sava sambil tersenyum.


"Sava, kedatangan kami ke sini untuk menjemput mu. Kembali lah ke rumah besar. Papa menyuruh kita untuk menjemput mu." ucap Kemal. Dan perkataan sang Kakak pun membuat Sava kaget.


"Sava, Papa sedang sakit sekarang. Dia saat ini di rawat di rumah sakit. Papa menyuruh kami untuk mencari mu, dan menyuruh kita untuk membawa mu menemui Papa." tutur Audrey menambahkan.

__ADS_1


"Papa sakit apa ?"


"Serangan jantung dan sesak napas. Dia juga kepikiran dengan mu. Pulanglah Sava, kami semua ingin kau kembali ke rumah." ucap Kemal lagi.


"Bawalah putera mu, kembali lah ke rumah besar. Pulanglah," Audrey pun ikut membujuk Sava. Sava kemudian menunduk dan berfikir.


"Akan ku pikirkan dulu Kak, aku tidak bisa memberikan keputusan sekarang. Dan sejujurnya aku sudah nyaman hidup seperti ini bersama putera ku." jawab Sava jujur.


"Papa ingin kau kembali. Papa menyesal karena dulu telah mengusir mu." tutur Kemal.


"Papa tidak salah, dan Papa tidak perlu menyesal. Karena soal kejadian dulu, akulah yang bersalah dan tidak menurut pada Papa. Padahal Papa lah penyelamatan hidup ku ketika aku di buang dulu. Aku berhutang banyak hal pada Papa yang mungkin aku tidak akan bisa membalasnya."


"Maka dari itu pulang lah. Mama juga sudah sangat merindukan mu. Mama selalu sedih juga ingat kamu. Kau tau kan, kau ini anak kesayangan Mama." Audrey kembali meyakinkan Sava.


"Aku tidak pantas mendapatkan cinta Mama,Papa dan juga kalian berdua." ucap Sava diplomatis. Aku sudah mengkhianati keluarga ku sendiri.


"Kau ini bicara apa Georgia. Kau adalah penambah kebahagiaan dalam keluarga kami." jawab Audrey.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Papa, aku datang." sapa Sava, pada Hasan Malik yang kini tengah terbujur di tempat tidur VVIP rumah sakit.


"Georgia. Akhirnya kau sudi menemui ku." jawab Hasan Malik dengan nada suara lemah sambil terbata.


"Papa bicara apa. Aku lah anak yang tidak tau balas Budi dan tidak berbakti." ucap Sava sambil memeluk sang Papanya yang sudah hampir satu tahun ini tidak dia jumpai.


"Cepet sembuh ya Pa, Papa kan selama ini jarang sakit." tutur Sava yang kini berdiri di samping tempat tidur Papa nya yang sedang terbaring lemah itu.


"Aku sudah tua nak, wajar jika aku sakit sakitan."


Hasan nampak penuh haru ketika melihat putri angkat nya kini ada di hadapannya lagi.


"Maaf kan Papa Georgia. Papa merasa bersalah pada mu," tukas Hasan Malik lirih.

__ADS_1


"Papa jangan merasa bersalah. Papa tidak salah." balas Sava yang masih memegangi tangan sang Papa.


"Kembalilah ke rumah nak, Pulang lah. Bawa putera mu ke rumah besar. Aku sudah tau tentang suami mu, aku ikut berduka cita ya."


"Ia Pa. Terimakasih,"


"Kemasi barang barang mu dari rumah kost itu. Kembalilah ke rumah besar. Besarkan putramu di tempat kamu di besarkan. Kembalilah kuliah, selesaikan study mu dan kau bebas melakukan apapun." ucap Hasan Malik.


"Papa, aku tidak pantas lagi menerima kebaikan dari Papa. Aku kini sudah terbiasa dengan hidup ku yang sekarang Pa." tutur Sava.


"Tidak anak ku. Walau kau hanya anak angkat. Aku sudah menjadikan mu layaknya putri kandung ku. Selama kau pergi meninggalkan rumah besar, sejujurnya aku tidak benar-benar bisa tenang. Aku merasa sudah menjadi orang yang kejam. Dan sebenarnya, Papa selama ini tidak benar-benar melepaskan mu." ucap Hasan Malik menjelaskan.


"Selama ni Papa selalu mengawasi mu nak."


"Papa," pangil Sava pada Hasan Malik dengan perasaan haru. Yang tak menyangka jika ternyata selama ini dia masih di awasi oleh Papanya.


"Pulanglah, kembalilah ke rumah, Hannah pasti akan senang melihat mu pulang. Mama mu itu sering marah pada Papa karena Papa mengusir mu waktu itu."


"Aku belum bisa memutuskan sekarang Pa. Beri aku waktu untuk membereskan semua urusan ku dulu. Karena aku tidak bisa begitu saja meninggalkan tempat tinggal ku sekarang."


"Kapan kau siap pulang, beritahu kakak mu Audrey atau Kemal, mereka akan membantu mu."


"Ia Pa, Georgia pamit dulu ya Pa, tadi aku hanya izin saat makan siang. Georgia harus kembali ke tempat kerja."


"Hati hati nak, ingat ucapan Papa. Saat papa sehat dan bisa kembali ke rumah, kamu harus sudah ada di rumah besar." pinta Hasan Malik. Dan Sava pun mengangguk.


Setelah menemui sang Papa akhirnya Sava kembali ke tempat kerjanya. Di antar oleh sopir pribadi yang sudah lama mengapdi di rumah besar.


"Terimakasih sudah mengantar ku Pak." ucap Sava pada sang sopir yang juga dia telah mengenalnya.


"Sama sama Non. Kami semua merindukan non Georgia. Semoga Non cepet kembali ke rumah besar. Mobil mobil Non Georgia masih ada semua di garasi. Saya tiap hari di tugaskan Tuan Hasan untuk merawat mobil mobil kesayangan Non Georgia." tukas sang sopir bernama Pak Ahmad itu. Sava pun terharu mendengar itu. Ia tak menyangka ternyata diri nya masih sangat di cintai semua orang yang ada di rumah besar. Termasuk sang Papa yang telah mengusirnya dulu.


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


jangan lupa mampir di cerita ke dua ku jika berkenan, cerita tentang poligami 😬😬😬😬



__ADS_2