
Mobil Ibra masuk ke dalam gerbang kediaman Herlambag, Arsy turun di depan rumah sementara Ibra memarkirkan dulu mobil berjajar dengan mobil milil Zayn.
Di depan pintu utama Aisya dan Zayn sudah menunggu kedatangan keduanya, Arsy baru saja pulang berlibur juga dengan Ibra dan keluarga dari luar negeri setelah merengek ingin bersama Zoya.
Aisya merentangkan tangannya lalu Arsy menghambur memeluknya. Kedekatan Arsy pada Aisya cukup lekat ibarat induk dengan anaknya, mungkin karena sifat Aisya yang sering memanjakan Arsy membuat anak itu nempel terus.
"Tante, Arsy kangen hiks." Anak itu pura-pura menangis sambil memeluk Arsy. Baru setengah jam datang dari Bali, Aisya langsung mengabari Arsy agar datang ke rumah.
"Tante punya cokelat buat Arsy, mau?"
"Mau tante, yeaay." Arsy girang bukan main ia bersorak senang seraya berlari mengelilingi Aisya.
Langit dan Maryam menyusul turun mendengar kegaduhan di luar.
"Hai Om tampan," ucap Arsy menggemaskan melambaikan tangannya pada Langit. Arsy bercerita pada Ibra kalau Langit itu mirip om tampan yang ada di tokoh cerita dongengnya.
"Hallo Arsy, apa kabarnya kamu?" tanya Langit mengusap puncak kepala Arsy dengan lembut.
"Baik Om tampan."
Melihat Arsy Maryam jadi teringat pada kakaknya yang menitipkannya padanya.
"Arsy, sini Sayang." Maryam menarik tangan Arsy agar mendekat. Ia berjongkok agar tubuhnya sejajar dengan keponakannya itu.
"Arsy, Arsy sering-sering main ke sini ya. Kalau perlu Arsy nginep di sini. Tante ini adiknya mama Arsy jadi Tante adalah Tantenya Arsy juga." Maryam menerangkannya agar Arsy juga paham siapa dirinya.
Arsy manggut-manggut entah ia mengerti atau tidak, ia hanya memeluk Maryam cukup lama.
"Mas, Ibra nanti kalau Arsy datang sering-sering kemari boleh kan?" tanya Maryam.
"Boleh, saya tidak akan menghalanginya apalagi ada Tantenya di sini."
"Ya sudah kalau begitu kita masuk yuk, bongkar-bongkar belanjaan Tante. Tante banyak beli oleh-oleh dari Bali. Yuk." Ajak Aisya menghela Arsy dan juga menyuruh semua orang untuk masuk.
"Zayn, kamu heran tidak dengan sifat Aisya yang bar-bar, apa habis menikah dia begitu sama kamu?" tanya Langit di sela-sela kesibukan Zyan dan Aisya membongkar barang belanjaan mereka.
__ADS_1
"Kak, apa sih iseng banget jadi orang. Kata siapa aku bar-bar!" Mata Aisya sudah melotot pada Langit.
"Nggak kok, Kak. Aisya tidak bar-bar dia istri yang manis." Bela Zayn membuat Maryam tergelak sendiri. Niat Langit mempermalukan adiknya malah di bela sama suaminya sendiri.
"Eeiits Kak Langit jangan salah, Aisya sekarang punya suami yang akan selalu membela Aisya dari keisengan Kak Langit." Pengantin baru yang juga baru saja berhijab atas permintaan suaminya itu sangat berbeda dengan Aisya Jennahara Herlambang yang Langit kenal selama ini. Aisya tampak dewasa dan cantik kala berhijab.
***
Willy Agung Prasetya, pria yang masih punya darah keturunan Jerman putera dari Hamidah dan Adhiwan itu dilahirkan di Bandung. Berkenalan dengan Langit karena Adhiwan berteman baik dengan Adam. Willy pindah ke Jakarta saat dirinya lulus kuliah dan mulai ikut bekerja dengan Langit.
Meskipun Willy terbiasa hidup berkecukupan karena Adhiwan seorang pengusaha tidak membuat hidup Willy berlebihan. Dan Hamidah mengajarkan putera-puteri mereka agar tetap rendah hati dan menjunjung tinggi norma agama.
Hamidah mengambil alih usaha suaminya di bidang investasi. Selain uang bulanan dari Willy, Hamidah juga mempunyai uang hasil usahanya sendiri.
"Jadi namanya Anindya?" tanya Hamidah meyakinkan
"Iya Bu, namanya Anindya. Tapi apa Ibu keberatan karena ayahnya pergi saat Anin masih di kandung? Kakak takut Ibu tidak mau menerima karena latar belakang keluarganya." Ungkap Willy.
"Ibu tidak keberatan Kak, lagian apa anaknya harus terkena imbas dari masa lalu orang tuanya. Asal wanita yang Kakak suka itu baik dan shalehah Ibu setuju-setuju saja," ucap Hamidah bijak.
"Cukup Kak, bukan lamaran ini. Kita kan datang kesana hanya mengungkapkan niatan saja dari pada tidak bawa apa-apa," jawab Hamidah.
"Ya sudah, Ibu istirahat saja dulu. Kakak mau ke rumahnya Langit memberitahukan acara malam ini."
Setelah isya, keluarga Willy sudah sampai di apartemen Anin. Willy masih ingat tempat Maryam tinggal dulu dimana bersebelahan dengan tempat Anin.
Willy menekan tombol bel apartemen tak lama terdengar sahutan dari dalam.
Handle pintu terbuka, tampak Anin sangat rapi dalam balutan hijab warna abu muda senada dengan gamis yang melekat di tubuhnya. Willy lama terpaku menatap calon bidadari surganya. Pertama melihat Anin dalam balutan gamis hijab, cantik.
"Jangan bengong, masuk jangan sungkan!"
"Loh, ko Langit sudah datang lebih dulu." Gumam Willy melihat ke arah dalam, tampak Langit dan Maryam sudah duduk dengan manis.
"Silahkan Pak masuk," ujar Anin mempersilahkan Willy, Hamidah dan Winda.
__ADS_1
"Ini Nak Anin? Cantik, Masya Allah." Anin mencium punggung tangan Hamidah dengan takzim beralih pada Winda.
Langit dan Maryam bersalaman dengan Hamidah, sudah lama tidak bertemu. Hamidah menepuk-nepuk punggung Langit.
"Sebentar ya Ibu, saya panggilkan dulu umi saya di kamar." Anin berjalan cepat menuju kamarnya.
Hantaran yang di bawa Willy sudah diletakan di meja.
Maryam tidak berhenti mengukir senyum di bibirnya melihat Willy sangat rapi seperti biasanya. Hanya dasinya saja yang dilepas, tampak sangat formal jika ia menambahkan dasi pada acara sekarang.
"Umi, orang tuanya pak Willy sudah datang. Umi sudah siap?" tanya Anin melihat umi masih menbenarkan kerudungnya.
Gamis warna senada yang sama dengan Anin pakai sekarang. Keduanya tampak kompak dan sama-sama cantik.
"Sudah, Nak. Ayo kita sambut mereka." Ajak umi menghela Anin keluar kamar.
Umi berjalan bersama Anin, matanya langsung menatap wanita paruh baya berkerudung bermotif bahan voal. Langkah umi mendadak tercekat, mata Hamidah dan Umi bersirobok satu sama lain. Ingin rasaya umi berbalik saja kembali ke kamar tapi kalau ia lakukan itu apa jadinya acara puterinya akan berantakan.
"Umi kenapa?" Bisik Anin.
"Umi mendadak pusing, Nak." Bohong umi.
"Umi, ini Pak Willy dan keluarganya. Kenalin Umi," ucap Anin sopan.
"Umi perkenalkan saya Willy, satu kantor dengan Anin di Medika." Willy memperkenalkan dirinya mencium tangan umi dengan takzim.
Giliran Hamidah, umi langsung terdiam. Ada keraguan hadir di sana. Begitupun Hamidah apakah wanita yang berdiri berhadapan dengannya ini adalah wanita yang dimaksud.
"Apa kabarnya, Bu Amira. Sudah lama kita tidak bertemu."
Umi tercekat, benar Hamidah yang diduganya adalah Hamidah yang sama. Yang mengetahui masa lalunya.
***
Bersambung..
__ADS_1