BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Menerima Kenyatan


__ADS_3

Flashback on


Setelah sang dokter menyatakan bahwa Emieer Sadiq telah meninggal dunia. Para perawat pun kini merapikan tubuh Emeeir dari peralatan medis yang masih menempel di tubuh nya.


Kehilangan seorang suami dan juga sosok teman hidup satu satu nya, membuat Sava syok. Bahkan Sava masih terus saja memandangi sang suami yang kini sudah tertutupi seluruh tubuh nya dengan kain warna putih itu. Suara tangisan bayi nya yang dari tadi meraung raung seperti tidak di hiraukan oleh Sava.


Fatimah dan Faizal yang baru saja tiba di ruangan itu sama terpukul nya atas meningalnya Emieer. Melihat Sava yang masih syok terdiam, dan terduduk di lantai dengan tatap kosong membuat Fatimah nelangsa.


Sava masih memandangi tak berkedip sang suami yang kini sudah terbujur kaku itu. Dan Faizal pun terunyuh mendapati Sava terlihat begitu kehilangan sosok lelaki yang selama ini menjadi tumpuan hidup nya.


Saat Sava terusir dari keluarganya karna menolak di jodohkan, dan mendatangi Emieer. Sang Paman lah yang menyarankan Emieer untuk menikahi Sava. Walau awalnya ragu, akhirnya Sava pun menerima pinangan Emieer. Kebahagiaan pun menyelimuti pernikahan mereka. Tapi kini, siapa yang bisa menduga, jika sang pendamping hidup begitu cepat pergi untuk selamanya.


"Sava, kau haus tegar ya nak. Kau tak sendiri, ada paman dan bibik." ucap Fatimah memberikan semangat dan kemudian memeluk Sava. Sava tak menjawab apapun, dia tetap diam tak bergeming ketika Fatimah memeluk nya.


"Berikan bayi nya pada ku suster," ucap Fatimah mengambil alih sang bayi dari gendongan salah seorang suster. Yang ketika itu,sang bayi mungil tersebut menangis.


Fatimah dengan rasa sayang menimang nimang bayi mungil yang berwajah sangat tampan dan mirip sekali dengan sang Papa.


Bayi yang di hari pertama lahir sudah menjadi yatim.


Fatimah berusaha untuk menenangkan sang bayi, tapi teranyata bayi itu tak mau berhenti menangis.


"Apakah dia tau jika saat ini ayah nya sudah pergi untuk selamanya?" ucap Fatimah dalam hati.


Saat suara tangis bayi itu semakin keras meraung. Baru lah Sava sadar, jika mungkin anak nya kini butuh di peluk ibu nya.

__ADS_1


"Bik, berikan dia pada ku." ucap Sava dengan suara lemah. Kemudian Fatimah berbalik, dan menyerahkan bayi yang baru beberapa jam lalu lahir itu ke Sava.


"Kita akan kuat nak, walau tanpa Papa." ucap Sava, kemudian dia mengecup kening puteranya. Setelah berada di gendongan Sava, bayi mungil yang belum di beri nama itu seketika langsung terdiam.


Dan untuk yang terakhir kali nya, Sava kembali mendekati jasad Emieer.


"Emieer, karena kita tidak sempat berdiskusi tentang nama bayi yang sudah kita siapkan. Aku sudah punya pilihan nama yang pas untuk diberikan ke bayi kita, nama bayi kita Zeeyan Emieer Sadiq. Nama mu akan selalu ada dan tetap abadi untuk ku." Sambil memgedong baby Zee, Sava lalu mengsingapkan kain putih yang menutupi wajah Emieer. Wajah itu masih nampak tampan, putih bersih dan juga berseri.


"Ini kecupan terakhir ku untuk mu sayang ku Emieer, selamat jalan." Ucap Sava, lirih. Kemudian dia mendaratkan satu kecupan dalam dan lama pada kening Emieer. Setelah mencium kening Emieer untuk yang terakhir kali nya, Sava kemudian menutup kembali wajah Emieer dengan kain putih itu.


"Silahkan." ucap Sava, memasrahkan pada petugas di sana untuk memindahkan Emieer ke ruang jenazah.


🍁🍁🍁🍁


Beberapa hari setelah kematian Emieer. Sava sementara tingal bersama Paman Faizal. Awalnya Sava menolak, tapi atas saran bibik Fatimah akhirnya Sava pun menurut.


Sampai pada suatu hari, Sava pernah sekali waktu menelpon Emieer. Saat dia tersadar bahwa panggilannya tak terjawab dan teringat bahwa sang suami telah tiada, Sava hanya bisa mendesah sedih, dan kembali menetes kan air mata.


Tak kuasa menahan rindu dan rasa kehilangan yang mendalam. Sava sampai mengurung diri. Sampai sampai dia lupa jika baby Zee harus di beri ASI.


Beruntung ada bibik Fatimah yang baik hati dan perhatian sekali dengan Sava dan bayi nya. Selama berada di rumah paman Faizal, Sava benar benar di perhatikan. Fatimah pun ikut menjaga baby Zee. Karena ini adalah pengalaman pertama buat Sava, sehingga Sava pun masih bingung bagaimana mengurus bayi nya.


"Sava, jangan lupa di makan ini ya." ucap Fatimah, Mengantarkan Sava makan siang. Semangkuk sayuran hijau lengkap dengan nasi dan lauk.


"Terimakasih Bik," ucap Sava sambil tersenyum yang kala itu sedang menyusui putranya di tempat tidur.

__ADS_1


"Makan yang banyak ya, wanita jika setelah melahirkan itu harus makan sayur sayuran hijau yang banyak. Agar ASI nya terus berproduksi dengan lancar." tutur bibik Fatimah menasehati.


"Ia bik, Sava akan ingat itu. Terimakasih sudah banyak memberi tau ku tentang merawat baby."


"Kau pasti bisa Sava, kau hebat," ucap Fatimah sambil mengelus rambut panjang Sava.


"Oya bik, aku seperti nya sudah cukup lama tinggal di sini. Aku tidak ingin merepotkan paman dan bibik. Aku sudah hampir tiga Minggu di sini. Aku sudah putuskan untuk kembali ke tempat kost, Bik." tutur Sava. Mengutarakan niat nya untuk kembali ke rumah kost. Yang sejak kematian Emieer, dia belum pernah pulang ke rumah yang penuh kehangatan dan kebersamaan bersama mendiang suami nya itu.


"Kamu tidak perlu sungkan Sava. Tidak perlu merasa tidak enak, kami adalah keluarga Emieer. Karna kau istri Emieer, maka kau pun sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Dan sudah menjadi tanggung jawab kami untuk menampung mu dan juga Zeeyan di sini." ucap Fatimah menjelaskan.


"Aku sangat bersyukur bisa bertemu dan berada bersama kalian di saat aku terpuruk Bik, aku berhutang banyak pada kalian. Entah bagaimana aku jika tanpa bibik Fatimah dan paman Faizal. Tapi aku sudah memutuskan untuk kembali ke rumah kami bik."


"Soal itu nanti kita bicarakan lagi dengan paman Faizal juga ya, apakah dia mengizinkan mu kembali ke rumah kalian. Karena jujur saja, bibik rasa nya akan sangat lebih lega jika kamu dan Zee tetap di sini Sava.


"Aku sangat berterima kasih pada paman dan bibik untuk itu. Tapi ini sudah jadi keputusan ku bik, bukannya aku menolak untuk tetap di sini. Tapi aku ingin kembali ke rumah kost, dengan kembali ke sana aku akan merasa lebih tenang."


"Apa kau sudah siap, untuk hidup berdua saja dengan Zee. Jika di sini ada bibik yang membantu mu." ucap lagi Fatimah.


"Tapi aku sudah yakin bik, aku bisa. Emieer mengajar aku banyak hal." ucap Sava kekeuh.


Dan Akhirnya, dua hari setelah berdiskusi serta meyakinkan sang paman dan juga bibik nya. Sava akhirnya kembali ke rumah kost. Dimana disana banyak sekali kenangan bersama Emieer yang sampe detik ini terkadang Sava tak percaya jika Emieer telah tiada.


Perkataan yang selalu diingat Sava ketika mereka terakhir berkomunikasi adalah.


"Sava, tunggu aku. Aku pasti datang"

__ADS_1


Kata itulah, kata terakhir yang Sava dengar dari Emieer, sewaktu mereka berkomunikasi lewat sambungan telepon.


"Kita pulang ya nak, kita akan hidup berdua saja. Aku akan berjuang untuk membesarkan mu. Mama akan kuat selama kamu bersama Mama. Kau alasan berharga dalam hidup Mama Zeeyan. Mama akan lakukan apapun demi kamu Nak, demi Mama, demi kita. Hanya kau dan Mama.


__ADS_2