BELAHAN JIWA

BELAHAN JIWA
Hasrat


__ADS_3

Maryam menunjukan keposesifannya sampai Langit pergi ke kamar mandipun diikutinya. Entah apa yang merasuki Maryam, apa ada sesuatu yang membuat hatinya tak nyaman?


"Sayang, seharian ini sikapmu agak beda. Ada sesuatukah?" tanya Langit menarik tangan Maryam agar duduk dipangkuannya. Sesekali tangannya merambat naik turun membuat tubuh istrinya itu bergerak-gerak tak karuan.


"Tidak ada, Mas. Aku ingin memastikan kamu baik-baik saja." Jawab Maryam sambil tangannya menyentuh bahu Langit.


"Sampai mengikuti ke kamar mandi?" mata Langit dipicingkan menyelidik akan jawabannya.


"Ya, harus. Harus kemanapun diikuti," ucap Maryam kehilangan kata-katanya. Suaminya itu sedang mengintrogasinya sekarang bak polisi.


Langit tidak membalas perkataan Maryam, namun tangannyalah yang membalas. Menyusup ke dalam dress dan menyentuh perut Maryam, sentuhan itu naik ke bukit kembar yang tertutupi bra. Biar lebih leluasa Langit membuka pengait bra Maryam, usai terbuka tangan Langit mengusap-usap punggung Maryam dengan lembut.


Maryam masih dipangkuan Langit, hanya helaan nafas mereka yang terdengar. Maryam merasa bagian bawah milik Langit sudah mengeras.


"Sayang, aku lagi ingin." Tanpa menunggu jawaban Maryam, Langit mengangkat tubuh Maryam pindah ke tempat tidur dan membaringkannya di sana.


Kali ini hasrat Langit sedang tinggi-tingginya, ia dengan gerakan cepat membuka pakaian yang menutupi tubuh Maryam, tak sabaran. Bibirnya terus menghujani Maryam dengan cumbuannya tanpa berhenti sampai Maryam sedikit kewalahan. Langit sedang sakit tapi stamina bercintanya malah tinggi.


Selesai pemanasan Langit langsung melakukan penyatuannya, begitupun dengan Maryam. Gerakan-gerakan Langit membuat tubuhnya merasakan sensasi tak berkesudahan. Sampai keduanya sama-sama mengerang melepaskan gejolak dalam diri.


Langit menjatuhkan dirinya di sisi Maryam, ditariknya Maryam agar menyandarkan kepalanya di lengan Langit.


"Maafin ya, aku udah gak tahan banget." Langit mengecup puncak kepala Maryam beberapa kali.

__ADS_1


Maryam tak bersuara, benar-benar tubuhnya merasa lelah. Gaya dan gerakan Langit hampir tak bisa ia imbangi, beruntung Langit sedikit menurunkan ritmenya hingga mereka bisa mencapai pelepasan bersama.


Maryam memegangi perutnya yang tiba-tiba sakit, semakin lama rasanya semakin tidak nyaman. Ia mengaduh dan terus saja memeganginya.


"Maryam, kamu kenapa?" Langit yang panik segera memakai pakaiannya, setelah itu ia menaikan selimut yang menutupi tubuh Maryam sebatas dada.


"Mas, ko perutku tiba-tiba sakit." Tangis Maryam tak terbendung, ia semakin mengaduh. Langit panik dan keluar meminta pertolongan.


"Ma, Bu Lela, Bu Marni." Teriak Langit dari lantai atas berharap orang-orang di rumahnya segera muncul.


Ainun dan Aisya langsung naik tangga menghampiri Langit yang berteriak-teriak. Sedangkan keluarga besarnya sudah berpamitan pulang selepas acara lamaran Aisya tadi malam. Menyisakan Indah, kakak sepupu Langit saja di sana.


"Kenapa, Nak?" wajah Ainun diliputi rasa penasaran. Begitupun dengan Aisya.


"Ada apa, Kak?"


Ainun dan Aisya bergegas melihat keadaan Maryam yang sedang mengaduh kesakitan.


"Maryam, kenapa Nak? Apanya yang sakit?" Ainun memindai keadaan Maryam yang berbalutkan selimut. Ia langsung bisa menebak Maryam dan Langit selesai berolah raga pagi dari Maryam yang tidak berpakaian.


Wajah Langit langsung memerah, mamanya sendiri mengetahui aktivitasnya dengan Maryam barusan. Benar-benar malu karena Ainun menatapnya tajam.


"Kita ke Rumah Sakit ya, Nak. Langit bantu Maryam berpakaian." perintah sang mama mendorong tubuh Langit menuju wardrobe.

__ADS_1


"Nggak, Ma. Nggak mau ke Rumah Sakit." Maryam menolak dengan lambaian tangannya.


"Tapi kalau tidak ke Rumah Sakit, gak bakalan ketahuan penyakitnya apa. Aku akan bantu kamu berpakaian dulu ya."


Aisya terkekeh dengan pasangan suami istri di depannya.


Maryam bersikeras menolak, sejak terakhir ia kesana karena kehilangan calon bayinya. Langit mengerti arti dari tatapan Maryam. Ia lantas mengambil ponsel iosnya dan menghubungi Ryan.


"Ryan, ke rumah sekarang juga!" perintah Langit.


Tak berapa lama Ryan datang menenteng tas yang berisi peralatan dokternya.


Segera Ryan memeriksa Maryam yang sudah berpakaian lengkap.


Stetoskop menyentuh dada Maryam lalu turun ke bagian dadanya sedikit.


"Tekanan darah dan detak jantung tidak ada masalah, kalau sakitnya dari perut kemungkinan karena kram. Bisa diakibatkan dari kejadian kemarin. Tapi untuk memastikan harus USG. Saya akan berikan obat pereda nyeri." Jelas Ryan sambil mengeluarkan resep obat dari tasnya.


"Tapi semua aman?"


"Aman, semuanya aman."


Langit menggangguk bersyukur tidak ada masalah serius pada Maryam.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2